Oleh: Ghefira Mannawa Salwa
“Malam Minggu nongkrong, yuk.” “Beli makanan yang lagi viral itu, yuk.” Ajakan-ajakan seperti itu mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian anak muda. Namun, kini tidak sedikit yang menolaknya dengan alasan menghemat pengeluaran, seperti, “Nggak dulu deh, aku lagi hemat,” atau “Budget-ku untuk bulan ini sudah habis.” Jika sebelumnya alasan semacam itu sering dianggap memalukan atau identik dengan kondisi keuangan yang buruk, kini justru semakin banyak orang yang mengungkapkannya secara terbuka. Fenomena ini dikenal dengan istilah loud budgeting.
Akhir-akhir ini, loud budgeting mulai ramai dibicarakan, terutama di kalangan Generasi Z. Berbeda dengan prinsip mengelola keuangan yang cenderung bersifat pribadi, loud budgeting merupakan kebiasaan menyampaikan kondisi finansial secara jujur dan lebih terbuka ketika mengambil keputusan terkait keuangan. Seseorang tidak lagi merasa perlu mencari alasan lain untuk menolak ajakan makan di luar, berbelanja, atau mengikuti tren tertentu. Mereka cukup mengatakan bahwa pengeluaran bulan ini sudah mencapai batas atau sedang memilih untuk berhemat.
Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap gaya hidup konsumtif masyarakat yang semakin besar. Kehadiran media sosial membuat seseorang terus-menerus disuguhi berbagai tren, mulai dari tempat makan yang sedang viral, fashion kekinian, gaya hidup terbaru, hingga berbagai promo yang seolah sayang untuk dilewatkan. Tanpa disadari, banyak orang akhirnya membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena takut tertinggal atau merasa harus mengikuti lingkungan sekitar.
Di tengah kondisi tersebut, loud budgeting menawarkan cara pandang yang berbeda. Hidup hemat tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan. Sebaliknya, mengakui bahwa kondisi keuangan sedang terbatas justru dianggap sebagai bentuk kesadaran dalam mengelola pengeluaran. Kejujuran terhadap diri sendiri menjadi lebih penting daripada memaksakan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuan finansial.
Bagi mahasiswa maupun anak muda yang baru memasuki dunia perkuliahan dan kerja, kebiasaan ini terasa semakin relevan. Banyak dari mereka harus membagi pengeluaran untuk biaya kuliah, transportasi, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga menabung untuk keperluan di masa mendatang. Di sisi lain, ajakan untuk nongkrong, menghadiri konser, membeli barang yang sedang tren, atau mencoba kafe baru terus bermunculan. Tidak sedikit yang akhirnya merasa tertekan karena takut dianggap pelit atau kurang bergaul jika memilih menolak.
Padahal, jujur mengatakan sedang hemat bukan berarti seseorang tidak ingin bersosialisasi. Ungkapan tersebut hanya menunjukkan bahwa setiap orang memiliki prioritas keuangan yang berbeda. Ada yang sedang menabung untuk membayar uang kuliah, membeli kebutuhan belajar, atau mempersiapkan dana darurat. Dengan menyampaikan kondisi tersebut secara terbuka, seseorang justru sedang menetapkan batas yang sehat terhadap pengelolaan keuangannya.
Di sisi lain, fenomena ini juga mengajarkan bahwa nilai sebuah pertemanan seharusnya tidak diukur dari seberapa sering seseorang mengeluarkan uang. Pertemanan yang sehat semestinya mampu memahami ketika ada teman yang memilih berhemat. Tidak semua ajakan harus selalu diikuti, dan tidak semua momen kebersamaan harus dihabiskan dengan pengeluaran yang besar.
Terdapat berbagai langkah dan tips yang dapat dilakukan generasi muda dalam menerapkan Loud Budgeting. Di antaranya, perlu menyusun anggaran bulanan yang realistis, hal ini dapat dilakukan dengan memperhitungkan jumlah pendapatan, pengeluaran wajib, serta sisa dana yang dapat digunakan untuk kebutuhan lainnya. Dengan anggaran yang jelas, seseorang akan lebih mudah menetapkan batas pengeluaran dan mengetahui kapan harus menolak pengeluaran yang tidak diperlukan.
Kemudian, alangkah baiknya jika anak muda berani berbicara secara terbuka terkait kondisi keuangan mereka. Tindakan ini menjadi salah satu inti dari loud budgetin. Mengungkapkan alasan sederhana seperti, “Aku lagi menghemat pengeluaran bulan ini,” dapat membantu mengurangi rasa sungkan sekaligus membangun kesadaran dalam mengelola keuangan.
Dalam menerapkan dua langkah di atas, kalangan muda juga perlu mengubah cara pandang terhadap hidup hemat. Mengatur pengeluaran bukanlah bentuk kepelitan, melainkan wujud tanggung jawab terhadap kondisi keuangan dan masa depan. Dengan pola pikir tersebut, seseorang akan lebih percaya diri dalam menentukan prioritas tanpa merasa terbebani oleh penilaian orang lain.
Selain itu, tidak ada salahnya membagikan pengalaman dalam menerapkan loud budgeting, baik melalui media sosial maupun percakapan sehari-hari. Tujuannya bukan untuk memamerkan kondisi keuangan, melainkan membuka ruang diskusi mengenai pentingnya mengelola keuangan secara sehat. Semakin banyak orang yang terbuka membahas hal ini, semakin besar pula peluang terciptanya lingkungan yang saling mendukung.
Menerapkan loud budgeting membutuhkan konsistensi dalam berpegang pada anggaran yang telah disusun serta keberanian untuk menolak pengeluaran yang tidak sesuai dengan prioritas. Menolak bukan berarti mengabaikan hubungan sosial, melainkan bentuk komitmen untuk menjaga kesehatan keuangan dalam jangka panjang. Dengan demikian, loud budgeting tidak hanya menjadi cara mengatur pengeluaran, tetapi juga langkah untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment