
Oleh: Kenrick Miloslav Govin, Yudi Aditia Siagian, Roganda Tornagogo Sihombing, Michael Immanuel Purba
Suara USU, Medan. Project based learning atau biasa disingkat PBL adalah suatu metode pembelajaran yang berpusat pada proyek atau tugas nyata, dimana mahasiswa aktif menggali, mencari informasi, dan menghasilkan produk akhir pada suatu proyek yang ditelitinya. PBL bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, kreativitas dan berpikiran kritis sesuai ajaran mata kuliah yang kontekstual dan bermakna. Selain itu, PBL juga menghasilkan gambaran nyata suatu dari materi pembelajaran.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Mahasiswa USU, program studi Kewirausahaan. Adapun mahasiswa yang terlibat dalam Project Based Learning ini adalah Kenrick Miloslav Govin (230504042), Yudi Aditia Siagian (230504021), Roganda Tornagogo Sihombing (230504007), dan Michael Immanuel Purba (230504039). Pada PBL ini kami dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah pengorganisasian dan pengembangan masyarakat oleh bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kessos.
Kegiatan PBL berlangsung pada tanggal 28 Mei 2025 yang dilakukan dengan observasi langsung yakni mewawancarai satu orang perwakilan Kadin Medan yaitu bapak Sujonsen, S.T., M.I.Kom. selaku wakil ketua Kadin Medan. Tujuan observasi ini adalah untuk mengetahui permasalahan kegiatan Ekspor yang dilakukan oleh perusahaan yang menjadi anggota KADIN Medan.
KADIN (Kamar Dagang dan Industri) adalah organisasi yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987 sebagai mitra strategis pemerintah dalam bidang perekonomian. KADIN Medan merupakan salah satu cabang KADIN yang berlokasi di Kota Medan, Sumatera Utara. Tujuan utama KADIN adalah menghimpun, membina, mewakili, dan memperjuangkan kepentingan dunia usaha secara menyeluruh, serta mendorong terciptanya iklim usaha yang sehat dan kondusif melalui program-program seperti pemberdayaan ekonomi daerah, pengembangan kewirausahaan, dan digitalisasi ekonomi.
Salah satu program KADIN Medan pada periode 2020-2025 adalah melakukan ekspor ke luar negeri. Beberapa produk yang di ekspor adalah hasil perkebunan seperti kopi, sawit, dan juga melakukan ekspor perikanan.
Keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo dalam bukunya Principles of Political Economy and Taxation (1817) menjelaskan bahwa meskipun suatu negara kurang efisien atau memiliki kerugian absolut dalam memproduksi dua jenis komoditas dibandingkan negara lain, perdagangan internasional tetap dapat menguntungkan kedua negara. Hal ini terjadi apabila masing-masing negara memfokuskan produksi pada komoditas yang memiliki kerugian relatif paling kecil atau keunggulan komparatif.
Dengan kata lain, negara sebaiknya mengalokasikan sumber dayanya untuk memproduksi barang yang dapat dihasilkan dengan biaya peluang (opportunity cost) paling rendah, lalu menukarkannya dengan barang lain yang lebih mahal biaya peluangnya jika diproduksi sendiri. Dengan demikian, efisiensi global meningkat dan perdagangan tetap saling menguntungkan, meskipun salah satu negara secara absolut lebih unggul dalam segala hal.
Berdasarkan hasil observasi kami, terdapat beberapa permasalahan utama yang menjadi hambatan ekspor produk dalam negeri ke luar negeri. Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi adalah tingginya tarif ekspor yang dikenakan oleh negara tujuan. Selain itu, instabilitas geopolitik juga memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan ekspor.
Jonsen, selaku Wakil Ketua Kadin, mengungkapkan bahwa produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dikenakan tarif pajak yang sangat tinggi, jauh melebihi tarif yang dikenakan kepada produk dari negara lain seperti Singapura yang hanya sekitar ±10%. Perbedaan tarif ini menimbulkan ketimpangan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. “Saat ini yang tengah menjadi sorotan adalah perang dagang (trade war) yang diinisiasi oleh Presiden Amerika, Donald Trump. Produk Indonesia yang semula dikenai tarif sebesar 30%, kemudian dinaikkan menjadi 35%, bahkan kini kabarnya telah merangkak naik hingga mencapai 47%,” ujarnya.
Selain kendala trade war, instabilitas geopolitik juga memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan ekspor. Konflik antara Rusia dan Ukraina, serta ketegangan di kawasan lain, turut memengaruhi kestabilan ekonomi global dan mempersempit akses pasar ekspor bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, KADIN Medan tidak tinggal diam. KADIN Medan melakukan negosiasi dengan perwakilan dari Amerika Serikat dan mendorong anggotanya untuk mengalihkan tujuan ekspor ke negara-negara dengan ekonomi yang lebih stabil dan regulasi yang lebih bersahabat. Selain mengalihkan pasar, KADIN juga membimbing para pelaku usaha untuk menyesuaikan produk mereka dengan standar negara seperti legalitas, kualitas produk, hingga kemasan, agar sesuai dengan persyaratan negara penerima ekspor.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Jonsen, Wakil Ketua KADIN Medan, serta ditinjau dari teori keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo dalam Principles of Political Economy and Taxation (1817), dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh KADIN Medan sudah sejalan dan relevan dengan prinsip dasar perdagangan internasional. Teori Ricardo menyatakan bahwa meskipun suatu negara mengalami kerugian absolut dalam memproduksi dua jenis komoditas dibandingkan negara lain, perdagangan tetap dapat menguntungkan jika negara tersebut mengekspor komoditas di mana ia memiliki kerugian relatif yang lebih kecil—atau dengan kata lain, memiliki keunggulan komparatif.
Namun demikian, teori ini berasumsi bahwa tidak ada hambatan perdagangan seperti tarif tinggi atau ketidakpastian geopolitik. Dalam kenyataannya, Indonesia menghadapi tantangan berupa tarif ekspor yang tinggi dan konflik global yang dapat mengganggu efisiensi serta manfaat dari perdagangan bebas. Oleh karena itu, langkah KADIN Medan yang aktif melakukan negosiasi dengan mitra dagang seperti Amerika Serikat, sekaligus mendorong diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara dengan regulasi yang lebih bersahabat, merupakan strategi yang tepat dan adaptif.
Selain itu, upaya pembinaan terhadap pelaku usaha agar mampu menyesuaikan produk dengan standar internasional menunjukkan komitmen KADIN dalam meningkatkan daya saing produk nasional. Tindakan-tindakan ini menunjukkan bahwa KADIN Medan tidak hanya memahami dinamika global yang kompleks, tetapi juga mampu menerjemahkan teori ekonomi klasik ke dalam strategi konkret yang bermanfaat bagi pengembangan sektor usaha Indonesia.
KADIN Medan, sebagai representasi dunia usaha di Sumatera Utara, memegang peran strategis dalam merespons tantangan ekspor yang dihadapi oleh para anggotanya. Permasalahan seperti tingginya tarif ekspor serta ketidakpastian yang disebabkan oleh kondisi geopolitik global menuntut adanya strategi adaptif yang cermat. Melalui pengalihan tujuan ekspor ke negara-negara dengan regulasi yang lebih bersahabat dan penyesuaian produk terhadap standar internasional, KADIN berupaya menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global. Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga seperti KADIN menjadi kunci dalam menciptakan iklim ekspor yang kondusif, berkelanjutan, dan mampu menghadapi dinamika global secara proaktif.
Artikel ini adalah publikasi Tugas Mata Kuliah Community Organizing for Community Development (COCD) dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment