
Oleh: Debora Gracia Nauli Siregar
Suara USU, Medan. Tersembunyi di tengah hiruk pikuk Kota Medan, tepatnya di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Medan Helvetia, berdiri sebuah bunker peninggalan tentara Jepang. Terletak di kawasan Sei Sikambing C, tepat di seberang Universitas Panca Budi, bunker ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sebuah keluarga yang telah menempatinya selama tiga generasi.
Dibangun pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, bunker ini dirancang sebagai bagian dari strategi pertahanan militer. Dengan panjang 14 meter, lebar 12 meter, tinggi 7 meter, dan ketebalan dinding mencapai 140 cm, struktur ini menunjukkan kekokohan yang luar biasa. Menurut laporan dari situs KBA One, upaya untuk menghancurkan bangunan ini dengan alat berat pernah dilakukan, namun tidak berhasil. Hal ini menunjukkan betapa kokohnya konstruksi bunker tersebut, yang dirancang untuk bertahan menghadapi serangan selama masa perang.
Selain fungsi utamanya sebagai tempat perlindungan dan penyimpanan militer, bunker ini juga menunjukkan teknologi konstruksi yang maju pada zamannya. Penggunaan beton dengan ketebalan hingga 140 cm membuat bunker ini sangat tahan. Struktur ini juga dirancang agar dapat bertahan dalam waktu yang lama, sehingga tidak heran jika bunker tersebut masih berdiri kokoh meskipun sudah puluhan tahun berlalu sejak masa perang. Keunikan lainnya adalah keberadaannya di tengah permukiman padat. Dari luar, bangunan ini tampak seperti bangunan biasa, namun di dalamnya menyimpan sejarah yang mendalam.
Bunker peninggalan Jepang ini memiliki dua akses masuk yang berada di sisi timur dan barat. Meskipun memiliki dua pintu masuk, tidak ada daun pintu yang terpasang. Sebagai gantinya, terdapat dinding penghalang di setiap sisi pintu, sehingga orang yang masuk harus memutar dari arah kiri atau kanan untuk bisa masuk ke dalam. Desain seperti ini kemungkinan besar dibuat untuk keamanan saat bunker digunakan di masa perang.

Di dalam bunker, terdapat empat ruangan yang saling terhubung. Setiap ruangan memiliki ukuran yang berbeda-beda, namun ruangan terbesar memiliki ukuran sekitar 4×5 meter. Keempat ruangan ini dulunya digunakan untuk berbagai keperluan militer seperti menyimpan senjata, menyimpan logistik, dan tempat berlindung. Bangunan ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung kegiatan pengintaian dan pergerakan pasukan.
Pada bagian dalam, terdapat tiga jendela kecil yang dulu digunakan untuk mengintai situasi di luar bunker. Selain itu, ada juga sebuah besi besar yang menempel di bagian atas ruangan. Menurut cerita, besi tersebut dulunya digunakan untuk menggantung katrol yang berfungsi sebagai penghubung antara bunker dengan terowongan menuju Universitas Panca Budi. Meski terowongan itu sekarang sudah tertutup, bekasnya masih bisa dilihat.
Menurut Denny Syahputra, warga yang tinggal di dalam bunker tersebut, suhu ruangan di dalam bunker terasa dingin saat siang hari dan berubah menjadi cukup panas pada malam hari. Hal ini terjadi karena bangunan bunker terbuat dari beton tebal yang menyerap suhu dari luar. Meskipun sudah berusia puluhan tahun, kondisi bunker ini masih sangat kokoh dan layak menjadi bagian dari warisan sejarah yang harus dijaga.
Pada awal 2023, Pemerintah Kota Medan menetapkan bunker ini sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Wali Kota Medan nomor: 433/29.K. Namun, penetapan ini menimbulkan kontroversi. Denny mengaku tidak diberitahu sebelumnya dan merasa keberatan karena disebut sebagai “pengelola” padahal keluarganya memiliki sertifikat hak milik dan rutin membayar pajak bumi dan bangunan. Ia khawatir bunker tersebut akan diambil alih tanpa kompensasi yang layak.
Saat ini, bunker tidak dibuka secara resmi untuk umum dan tidak ada tiket masuk. Karena masih dihuni oleh keluarga Denny, pengunjung disarankan untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum berkunjung. Fasilitas umum seperti toilet atau area parkir tidak tersedia di lokasi.
Menariknya, bunker ini pernah dijadikan lokasi syuting film dokumenter berjudul “The Bunker” oleh mahasiswa Universitas Potensi Utama. Film ini mengangkat sejarah dan kondisi bunker serta kehidupan keluarga yang menempatinya, memberikan perspektif yang lebih dalam tentang situs bersejarah ini.
Redaktur: Syakirah Fathanah
Leave a comment