Oleh: Nayla Az Zahra
Suara USU, Medan. Bagi sebagian orang, museum mungkin identik dengan ruangan yang dipenuhi karya seni yang hanya bisa dilihat dari kejauhan. Namun, Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) menawarkan lebih dari sekadar ruang pamer. Dengan koleksi seni modern dan kontemporer dari Indonesia maupun mancanegara, Museum MACAN menjadi salah satu ruang yang mempertemukan karya seni, masyarakat, dan berbagai perspektif tentang kehidupan.
Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara atau Museum MACAN merupakan museum seni di Jakarta yang menghadirkan koleksi seni modern dan kontemporer dari Indonesia maupun berbagai negara. Museum ini didirikan oleh Haryanto Adikoesoemo, seorang kolektor seni yang memiliki lebih dari 800 karya, yang terdiri atas karya seniman Indonesia serta seniman dari Asia, Amerika, dan Eropa.
Museum MACAN resmi dibuka untuk publik pada November 2017. Pada awal pembukaannya, museum menghadirkan pameran inaugurasi bertajuk Seni Berubah. Dunia Berubah. Menjelajahi Koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Pameran tersebut berlangsung sejak November 2017 hingga Maret 2018 dan menampilkan 90 karya dari koleksi Haryanto Adikoesoemo. Karya-karya yang dipamerkan menggambarkan perjalanan seni Indonesia dari masa sebelum kemerdekaan hingga periode globalisasi.
Sebelum dibuka untuk umum, Museum MACAN juga mengadakan program First Sight pada 12 Agustus dan 9 September 2017. Program tersebut menghadirkan pertunjukan seni dari sejumlah seniman Indonesia dan mancanegara sebagai upaya memperkenalkan museum kepada masyarakat.
Museum MACAN berlokasi di AKR Tower Level M, Jalan Panjang No. 5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Museum memiliki luas lantai sekitar 7.107 meter persegi dengan area pameran sekitar 4.000 meter persegi. Museum dapat dikunjungi pada Selasa hingga Minggu pukul 10.00–18.00 WIB, sedangkan Senin menjadi hari tutup. Museum MACAN menerapkan sistem tiket daring dengan jadwal kunjungan tertentu untuk mengatur kepadatan pengunjung yang cenderung meningkat pada akhir pekan dan musim liburan. Harga tiket museum berkisar Rp66.000–Rp110.000, tergantung kategori pengunjung dan hari kunjungan. Pada hari kerja, tiket dibanderol mulai Rp66.000 untuk anak hingga Rp88.000 untuk dewasa. Sementara pada akhir pekan, harga tiket berkisar Rp90.000–Rp110.000.
Sejak kehadirannya, Museum MACAN tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga memiliki peran dalam mendukung pendidikan, pertukaran budaya, serta perkembangan ekosistem seni di Indonesia. Melalui berbagai pameran dan program publik, museum memberikan ruang bagi seniman nasional dan internasional untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat. Museum MACAN juga membuka kesempatan bagi seniman, kurator, dan pelaku seni lainnya untuk mengembangkan kemampuan profesional serta memperluas perspektif mengenai seni kontemporer.
Pada Juni 2026, Museum MACAN kembali menghadirkan musim pameran terbaru bertajuk Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes. Rangkaian ini menghadirkan lima pameran yang mengangkat beragam tema, mulai dari waktu, budaya, lanskap, sejarah, hingga perkembangan teknologi dan informasi. Kelima pameran tersebut adalah Dawn Ng: Atlantis II, Marcos Kueh: Kenyalang Circus, Menelan Cakrawala, Ruth Marbun: Beradu Padu, dan Riar Rizaldi: Period Piece, yang dijadwalkan belangsung hingga 7 Oktober 2026.
Melalui lima pameran yang diselenggarakan, Museum MACAN mengajak pengunjung melihat berbagai persoalan yang berkaitan dengan sejarah, teknologi, lingkungan, dan identitas manusia. Direktur Museum MACAN, Venus Lau, menyebut rangkaian pameran tersebut sebagai upaya untuk kembali menyoroti Asia Tenggara sebagai ruang yang terus mengalami perubahan dan dibentuk oleh budaya, ingatan, teknologi, serta imajinasi.
Dalam Atlantis II, perupa asal Singapura, Dawn Ng, mengeksplorasi hubungan antara waktu dan perubahan. Menggunakan es dan pigmen sebagai material utama, karya ini memperlihatkan proses mencair dan menyebarnya pigmen pada kertas, sekaligus menggambarkan sifat sesuatu yang tidak bertahan selamanya.
Melalui Kenyalang Circus, Marcos Kueh mengangkat persoalan budaya masyarakat Sarawak yang semakin berkaitan dengan industri pariwisata. Karya tekstilnya mengajak pengunjung melihat bagaimana simbol dan identitas budaya dapat mengalami perubahan ketika ditempatkan dalam perkembangan ekonomi dan kehidupan modern.
Sementara itu, Menelan Cakrawala menghadirkan karya dari sejumlah seniman yang melihat lanskap bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi sebagai ruang yang dipengaruhi sejarah, kekuasaan, dan perubahan lingkungan. Pameran ini mempertemukan karya dari periode yang berbeda untuk menunjukkan bagaimana cara manusia memandang dan membentuk lanskap terus mengalami perubahan.
Berbeda dengan pameran lainnya, Beradu Padu karya Ruth Marbun juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk terlibat langsung. Mengangkat persoalan derasnya arus informasi di kehidupan modern, instalasi ini mengajak pengunjung membuat kolase menggunakan gambar hitam-putih dan selotip berwarna. Hasil karya pengunjung kemudian digabungkan menjadi bagian dari instalasi yang terus berkembang selama pameran berlangsung.
Adapun Period Piece karya Riar Rizaldi yang mengeksplorasi hubungan antara sinema, teknologi, sejarah, dan ingatan. Salah satu karya utamanya, Bioskop Asymptotic, terinspirasi dari pengalaman Rizaldi mengenal bioskop sejak kecil pada era 1990-an. Pameran ini juga menghadirkan karya video yang menghubungkan sejarah kolonial dengan perkembangan teknologi dan industri.
Untuk dokumentasi, pengunjung diperbolehkan mengambil foto dan video menggunakan ponsel untuk keperluan pribadi tanpa menggunakan flash. Sementara itu, penggunaan kamera profesional, tripod, dan selfie stick memerlukan izin dari pihak museum. Selama berada di galeri, pengunjung juga perlu menjaga jarak dari karya dan tidak menyentuhnya, serta tidak membawa makanan dan minuman ke dalam area pameran. Barang bawaan berukuran lebih besar dari A4 dapat dititipkan di ruang penitipan yang tersedia.
Dengan koleksi seni modern dan kontemporer yang beragam, pameran yang terus berganti, serta berbagai program publik yang ditawarkan, Museum MACAN tidak hanya menjadi ruang untuk melihat karya seni, tetapi juga tempat untuk mengenal dan memahami seni dari berbagai sudut pandang. Kehadirannya menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati karya seni sekaligus memperluas wawasan mengenai perkembangan seni modern dan kontemporer.
Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk
Leave a comment