Home Musik Lahirnya Kejujuran Petal dari Hantaman Eskpektasi yang Tidak Terealisasikan
Musik

Lahirnya Kejujuran Petal dari Hantaman Eskpektasi yang Tidak Terealisasikan

Share

Oleh: Muhammad Ar Rofi Nasution

Suara USU, Medan. Ariana Grande merilis “Petal” sebagai lagu sekaligus judul album studio kedelapannya pada 31 Juli 2026, beberapa bulan setelah single pembuka “Hate That I Made You Love Me” lebih dulu diluncurkan pada 29 Mei 2026. Album ini digarap bersama produser asal Swedia Iran, Ilya Salmanzadeh, yang juga mengerjakan setengah projek Grande sejak “Thank U, Next” hingga “Eternal Sunshine”. Namun berbeda dari dua album sebelumnya yang cenderung menahan diri dan standar pasar, “Petal” lebih merujuk sisi sang artis dengan apa adanya.

Dikutip dari wawancaran Grande dalam pers resminya Sang Artis tersebut menjelaskan bahwa judul “Petal” merujuk pada sesuatu yang penuh kehidupan dan tumbuh menembus celah dari sesuatu yang dingin dan keras. Metafora tersebut memberi penegasan bahwa album ini secara sadar dibangun sebagai proses melepaskan diri dari berbagai keterikatan negatif, baik yang berasal dari suara batin sendiri maupun tekanan dari luar. “Petal” ditelaah sebagai ungkapan rumor umum bagi para seniman.

Lirik lagu ini menyinggung anggapan klise bahwa seorang seniman membutuhkan air mata agar bisa terus berkarya, sebuah tuntutan yang selama bertahun-tahun dianggap wajar dalam industri hiburan. Grande seolah mempertanyakan validitas anggapan tersebut, alih-alih menerimanya begitu saja sebagai harga yang harus dibayar demi karya besar. Di sisi lain, lagu ini juga menyoroti paradoks kehidupan manusia dalam hadapi paradigma sosial yang mengeksplorasi upaya melepaskan diri dari tekanan terus menerus untuk mengubah penderitaan pribadi menjadi validasi artistik.

“Tryna feel something real to cry for”

“They say the artist needs tears to write more”,

bait pembuka lagu ini menunjukkan hasrat untuk merasakan sesuatu yang “real” agar punya alasan untuk menangis, seolah kesedihan harus dicari-cari demi memenuhi ekspektasi bahwa karya besar selalu lahir dari luka.  Kemudian disinggung dengan

“Cause all of my favorite stories end in some kind of catastrophe

“But I don’t need someone to save me”

pergerakan dari mencari-cari kesedihan menuju penegasan kemandirian ini mencerminkan pengalaman banyak orang di media sosial, ketika masalah kecil kerap dibesar-besarkan demi mendapat simpati atau perhatian, padahal kekuatan yang sesungguhnya justru datang dari kesanggupan menyelesaikan persoalan sendiri tanpa menunggu orang lain turun tangan.

“It’s such a fucked situation”

“Petal in the pavement”

“Just as long as she keeps getting it right”

“Heartbreak won’t bite here in paradise”

Bagian ini menghadirkan gambaran kelopak bunga yang bertahan di celah trotoar sebagai simbol utama dimana bunga yang tumbuh dari retakan aspal bukan simbol kelemahan, melainkan bukti ketangguhan yang lahir justru karena kondisi yang tidak ideal, disandingkan dengan situasi yang secara terang-terangan disebut kacau. Di sana muncul sindiran tentang “paradise” yang konon membuat patah hati tidak lagi terasa menyakitkan, asalkan sang tokoh terus tampil sempurna dan tetap mendapat sorak-sorai setiap malam.

Kontradiksi ini menyasar langsung budaya validasi yang harus terus-menerus dipertahankan agar rasa sakit tampak tidak ada. Pola yang sama gampang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tekanan untuk selalu tampak baik-baik saja di depan keluarga besar atau lingkaran pertemanan, seolah prestasi akademik, karier, atau penampilan fisik yang konsisten adalah syarat mutlak agar boleh dianggap sedang tidak baik-baik saja.

Tema ini juga relevan jika ditarik ke pengalaman yang lebih personal, terutama soal bagaimana seseorang menghadapi komentar negatif di media sosial. Banyak orang merasa tertekan oleh penilaian warganet atau bahkan kerabat dekat yang menghakimi pilihan hidup, mulai dari karier, pasangan, hingga penampilan fisik. Sikap acuh yang sehat terhadap penilaian semacam itu, sebagaimana tersirat dalam nada “Petal”, relevan untuk menjaga kesehatan mental di tengah budaya yang gemar menghakimi tanpa mengenal konteks utuh seseorang. Begitu pula soal keberanian mengakhiri hubungan yang tidak sehat, menyadari kapan harus bertahan dan kapan harus berhenti demi kewarasan diri sendiri, sebuah keputusan yang jarang mudah diambil meski jelas manfaatnya.

Memasuki kebagian jembatan lagu “Tell me who’s to blame, is it the people or myself? (Yep)” “But this time really feels so very different”

“This is not a cry for help Couple million for my thoughts”

“I’ve got plenty, but I’m not a victim”

Bagian retoris ini tentang siapa yang patut disalahkan, orang lain atau diri sendiri dengan menyandingkan kelimpahan materi terhadap penolakan tegas terhadap posisi sebagai korban. Pergulatan semacam ini sangat dekat dengan kegelisahan generasi muda yang lelah mengurasi citra hidup sempurna di media sosial, atau yang terjebak dalam pola mencari validasi lewat hubungan asmara yang berganti-ganti, sebelum akhirnya sampai pada titik menerima diri sendiri apa adanya, termasuk bagian yang tidak sempurna.

Lebih lanjut, “Petal” dipandang sebagai validasi atas proses penyembuhan yang tidak selalu terlihat rapi dari luar. Banyak orang, tidak hanya figur publik, sedang berjuang dengan lelah dan luka yang tidak kasat mata, sementara lingkungan sekitar kerap menuntut kesempurnaan tanpa memberi ruang untuk rapuh. Ketahanan mental yang ditawarkan lagu ini bukan berupa sikap menyangkal rasa sakit, melainkan kemampuan mengubah energi negatif dan kritik menjadi dorongan untuk melangkah ke fase berikutnya, tanpa harus berpura-pura baik-baik saja demi disukai orang lain.

Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.