Oleh: Anastasyia Dwi T Sitinjak
Suara USU, Medan. Berdamai merupakan album studio perdana penyanyi dan penulis lagu Indonesia, Ghea Indrawari, yang dirilis pada 10 Maret 2024 pukul 00.00 WIB melalui Hits Records, bertepatan dengan ulang tahun Ghea ke-26. Album yang memuat 10 lagu tersebut menjadi ruang bagi Ghea untuk mengolah berbagai pengalaman emosional melalui musik yang didominasi gitar akustik dan lirik reflektif. Salah satu lagu yang menjadi bagian dari album tersebut ialah Berdamai, mengajak pendengar memahami proses menerima keadaan, mengikhlaskan hal-hal yang tidak dapat diubah, dan menemukan ketenangan dalam diri.
Dominasi gitar akustik menjadi salah satu karakter musikal dalam album ini sekaligus memperlihatkan sisi Ghea sebagai penyanyi yang turut memainkan gitar. Aransemen akustik yang kontemplatif berpadu dengan sentuhan sinematik sehingga menciptakan suasana intim. Karakter tersebut terasa kuat dalam Berdamai melalui petikan gitar akustik, piano lembut, dan vokal Ghea yang penuh penghayatan.
Dari sisi visual, sampul album Berdamai menggunakan nuansa kelam dan tidak menampilkan wajah Ghea secara langsung. Wajahnya hanya terlihat melalui pantulan cermin. Pilihan visual tersebut memberikan kesan reflektif yang sejalan dengan tema emosional dalam album.
Sebagai lagu yang menjadi bagian dari album tersebut, Berdamai menghadirkan balada pop dengan aransemen yang tidak berlebihan. Perpaduan gitar akustik, piano, dan vokal yang tenang membuat perhatian pendengar tertuju pada emosi serta pesan yang dibangun melalui lirik.
Pada bagian awal, lagu ini membawa pendengar pada kegelisahan seseorang yang mulai mempertanyakan hasil dari perjuangan yang telah dilakukan.
Apa maksudnya semua sia-sia
Pengorbananmu tak ada gunanya
Sekarang lihat kau di mana
Siapa yang sudah keras berusaha
Lirik tersebut menghadirkan kegelisahan seseorang ketika usaha yang telah dilakukan belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Pertanyaan itu menjadi pintu masuk menuju tema utama lagu, yaitu menghadapi keraguan ketika perjalanan hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Nuansa lagu semakin terasa melalui penggalan lirik selanjutnya.
Ada yang memulai ketika muda
Yang lainnya ternyata tak berdaya
Sudah beda garis awalnya
Jelas beda pula garis akhirnya
Bagian tersebut menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kondisi dan titik awal yang berbeda. Karena itu, keberhasilan tidak selalu dapat diukur dengan menggunakan pencapaian orang lain sebagai pembanding.
Pesan spiritual dalam lagu ini juga disampaikan melalui penggalan lirik berikut.
Jika segalanya dikabulkan
Kau lupa caranya tuk berdoa.
Lirik tersebut tidak hanya mengingatkan manusia untuk tetap berdoa, tetapi juga menunjukkan bahwa proses dalam mencapai sesuatu memiliki nilai tersendiri. Ketika semua keinginan langsung terpenuhi, kita bisa kehilangan proses refleksi dan lupa bahwa perjalanan menuju sesuatu juga memiliki makna yang begitu besar.
Lagu ini kemudian membawa pendengar pada gagasan tentang penerimaan. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, menerima keadaan bukan berarti berhenti berusaha. Penerimaan menjadi proses untuk memahami bahwa ada hal-hal yang dapat dikendalikan dan ada pula yang harus dilepaskan.
Menjelang bagian akhir, gagasan tersebut dirangkum melalui penggalan lirik,
Berhenti marah pada dunia,
berhentilah hatimu membenci.
Berdamailah dengan keadaan,
berdamailah dengan dirimu sendiri
Lirik tersebut menjadi penegasan terhadap tema utama lagu. Setelah melalui berbagai pertanyaan dan kegelisahan, pendengar diarahkan untuk menerima keadaan sekaligus memberikan ruang kepada diri sendiri untuk menjalani proses.
Pada akhirnya, Berdamai tidak hanya menjadi lagu tentang kesedihan atau kehilangan. Lagu ini memperlihatkan cara Ghea mengolah pengalaman emosional menjadi karya yang sederhana secara musikal, tetapi memiliki ruang refleksi yang luas. Melalui dominasi gitar akustik, piano yang lembut, dan vokal yang intim, Berdamai menjadi bagian dari album yang mengajak pendengar melihat penerimaan bukan sebagai bentuk menyerah, melainkan sebagai langkah untuk melanjutkan perjalanan.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment