Oleh : Nur Padilah Ramadani
Suara USU, Medan. Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan yang berada di wilayah tropis, sehingga memiliki potensi curah hujan sepanjang tahun dengan tingkat yang sangat beragam. Letak geografis Indonesia di antara dua Samudra menyebabkan iklim Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika kedua Samudra tersebut. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, tercatat jumlah kejadian bencana per tanggal 22 April 2026 sebanyak 806 kejadian. Kejadian bencana alam didominasi oleh bencana hidrometeorologi sebesar 99,13% dan bencana geologi sebesar 0,87%, dengan urutan bencana banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, serta gelombang pasang atau abrasi. Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor non-alam maupun faktor manusia, sehingga menimbulkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Untuk mengurangi dampak bencana, diperlukan upaya mitigasi. Mitigasi bencana adalah upaya berkelanjutan pada berbagai tingkat, mulai dari tingkat individu hingga tingkat nasional, guna mengurangi dampak yang ditimbulkan bencana terhadap individu, keluarga, komunitas, dan kondisi ekonomi.
Rentetan bencana alam yang datang silih berganti terus menghantam berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari banjir bandang, gempa bumi, hingga tanah longsor, sehingga kembali menyadarkan kita pada satu kenyataan pahit masyarakat masih gagap dalam menghadapi kondisi darurat. Takdir geografis ini tidak sejalan dengan tingkat literasi mitigasi bencana pada warganya. Ketika sirene peringatan berbunyi atau tanah mulai bergetar, kepanikan massal kerap lebih kuat mendominasi dibandingkan langkah evakuasi yang terencana dan terstruktur.
Rendahnya kesadaran tanggap bencana di masyarakat menimbulkan dampak fatal yang secara langsung memperburuk krisis, seperti kepanikan massal dan ketidaktahuan akan rute evakuasi yang sering memicu tindakan irasional dan membahayakan keselamatan jiwa, pergerakan warga yang tidak teratur di lapangan yang kerap menghambat akses jalur tim penyelamat sekaligus mengacaukan distribusi bantuan, serta dampak lanjutan yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang.
Untuk menekan dampak bencana, diperlukan upaya mitigasi. Mitigasi bencana merupakan upaya yang berlangsung secara berkelanjutan pada berbagai tingkat, mulai dari individu hingga tingkat nasional, dengan tujuan mengurangi dampak yang ditimbulkan bencana terhadap individu, keluarga, komunitas, dan kondisi ekonomi. Fokus mitigasi bencana adalah tindakan yang dilakukan untuk menghadapi dampak berbagai bencana alam yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi jiwa dan harta. Kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana sangat penting guna menekan risiko terhadap dampak yang muncul saat bencana terjadi.
Persiapan bencana yang paling utama adalah mengenali potensi ancaman di sekitar rumah serta menyiapkan tas siaga darurat yang berisi perbekalan minimal untuk tiga hari. Langkah kesiapsiagaan bencana meliputi, mengenali potensi ancaman bencana di lingkungan tempat tinggal, menyusun rencana evakuasi keluarga, menentukan titik kumpul, serta mengetahui jalur keluar yang aman, lalu menyimpan nomor telepon darurat penting seperti Basarnas, BNPB, atau pemadam kebakaran pada ponsel, memantau informasi cuaca dan gempa secara berkala melalui aplikasi resmi dari BMKG. Selain itu, siapkan isi tas siaga bencana berupa air minum kemasan dan makanan siap saji yang cukup untuk tiga hari, dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, dan surat berharga dalam wadah kedap air, kotak pertolongan pertama pada kecelakaan beserta obat-obatan pribadi yang rutin dikonsumsi, serta senter, baterai cadangan, peluit, dan pakaian ganti.
Menghadapi kenyataan alam Indonesia yang rentan bencana masyarakat harus menanggapinya melalui persiapan yang terencana, cermat, dan berlangsung secara berkelanjutan. Kesadaran akan mitigasi bencana perlu segera bergeser dari sekadar gagasan yang muncul musiman menjadi budaya yang tertanam kuat dalam setiap dimensi kehidupan bermasyarakat. Kita tidak lagi dapat terus terperangkap dalam putaran kepanikan yang hanya berujung pada penanganan darurat setelah kejadian.
Sudah saatnya langkah pencegahan dasar yakni menelusuri potensi bahaya di lingkungan sekitar, memahami jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga bencana secara mandiri, hingga mengikuti ketentuan tata ruang lingkungan menjadi kebiasaan dan rutinitas setiap keluarga. Pada saat yang sama, pemerintah memikul tanggung jawab yang tidak dapat ditawar untuk menyediakan infrastruktur peringatan dini yang tepat dan akurat serta memastikan pendidikan kebencanaan diberikan sejak dini.
Keselamatan di tengah ancaman hidrometeorologi maupun geologi pada akhirnya berawal dari kepedulian tiap individu di dalam rumah tangga kita. Jangan biarkan ketidaktahuan membuat kita menjadi korban. Mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh terhadap bencana menuntut tindakan nyata pada hari ini, bukan menunggu sampai esok. Kesiapsiagaan merupakan awal terbaik untuk menjaga keselamatan hidup serta masa depan bangsa.
Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk
Leave a comment