Reporter: Ghefira Mannawa Salwa
Bagi sebagian pecinta drama Korea, Study Group tentu bukan lagi judul yang asing. Diadaptasi dari webtoon populer dengan judul yang sama dan tayang pada Januari 2025, serial ini berhasil mencuri perhatian penonton hingga ramai diperbincangkan di berbagai media sosial. Tidak sedikit yang berharap kisahnya berlanjut ke musim berikutnya karena alur cerita yang penuh aksi sekaligus menyimpan pesan yang membekas. Di balik adegan pertarungan dan konflik antarsiswa, Study Group mengangkat nilai tentang kegigihan, konsistensi, serta keberanian untuk terus belajar.
Serial ini mengisahkan Yoon Ga Min, seorang siswa di Sekolah Menengah Teknik Yuseong yang dikenal sebagai sekolah dengan lingkungan penuh kekerasan dan minim semangat belajar. Berbeda dengan siswa lain yang lebih memilih menyelesaikan masalah melalui adu fisik, Ga Min justru memiliki impian sederhana, yaitu meraih nilai yang baik dan berhasil masuk perguruan tinggi.
Ironisnya, impian tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan. Meski memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa, Ga Min selalu kesulitan memahami pelajaran dan kerap memperoleh nilai rendah. Ia sering dianggap bodoh dan tidak memiliki kemampuan akademik yang baik. Namun, alih-alih menyerah pada penilaian orang lain, ia terus berusaha meningkatkan kemampuannya. Di tengah lingkungan sekolah yang tidak mendukung budaya belajar, Ga Min bahkan berinisiatif membentuk kelompok belajar agar dapat berkembang bersama teman-temannya.
Inilah yang menjadi kekuatan utama Study Group. Drama ini tidak menempatkan kecerdasan sebagai sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan sebagai hasil dari proses yang panjang. Melalui karakter Yoon Ga Min, penonton diajak memahami bahwa setiap orang memiliki cara dan waktu belajar yang berbeda. Tidak semua siswa mampu memahami materi dengan cepat. Ada yang harus membaca berulang kali, mengerjakan latihan berkali-kali, bahkan mengalami berbagai kegagalan sebelum akhirnya berkembang.
Pesan tersebut terasa dekat dengan realitas pendidikan di Indonesia. Tidak sedikit pelajar maupun mahasiswa yang masih mengukur kemampuan diri berdasarkan nilai semata. Mereka yang memperoleh nilai tinggi sering dianggap lebih pintar, sedangkan mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi justru diberi label kurang mampu. Padahal, perkembangan akademik setiap individu berlangsung melalui proses yang berbeda.
Di sisi lain, tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya berasal dari kemampuan individu. Masih banyak siswa yang menghadapi keterbatasan fasilitas, ketimpangan kualitas pendidikan, hingga tekanan untuk selalu memperoleh nilai terbaik. Tidak sedikit pula yang kehilangan rasa percaya diri karena merasa tertinggal dari teman-temannya. Akibatnya, proses belajar berubah menjadi perlombaan, bukan lagi ruang untuk bertumbuh.
Melalui perjuangan Yoon Ga Min, Study Group mengingatkan bahwa belajar bukan tentang siapa yang paling cepat memahami materi, melainkan siapa yang tetap mau mencoba ketika menghadapi kesulitan. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju pemahaman yang lebih baik.
Hal lain yang menarik ialah keberanian Ga Min membentuk kelompok belajar di lingkungan yang menganggap belajar sebagai sesuatu yang tidak penting. Ia percaya bahwa memahami materi akan lebih mudah jika dilakukan bersama. Nilai kebersamaan ini juga relevan dengan kehidupan pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Diskusi kelompok, saling berbagi pemahaman, hingga belajar bersama kerap menjadi cara yang efektif untuk mengatasi berbagai kesulitan akademik.
Di tengah perkembangan dunia pendidikan saat ini, semangat seperti yang ditunjukkan Ga Min menjadi sesuatu yang patut diapresiasi. Kemajuan teknologi memang membuat akses terhadap informasi semakin mudah, tetapi tantangan untuk tetap konsisten belajar juga semakin besar. Gangguan media sosial, tekanan akademik, hingga rasa malas kerap membuat banyak pelajar kehilangan motivasi. Oleh karena itu, kegigihan menjadi modal penting yang perlu dimiliki setiap individu.
Serial ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki proses belajar dan kelebihannya masing-masing. Tidak semua orang dilahirkan dengan kemampuan akademik yang sama. Ada yang unggul dalam berhitung, menulis, berkomunikasi, berolahraga, maupun bidang lainnya. Hal tersebut tergambar melalui sosok Yoon Ga Min. Meski sering dianggap lemah dalam bidang akademik, ia memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa. Namun, kelebihan tersebut tidak membuatnya berhenti di zona nyaman. Ia tetap berusaha mengejar hal yang selama ini menjadi kelemahannya, yaitu kemampuan akademik.
Di situlah letak nilai utama yang ingin disampaikan Study Group. Seseorang tidak harus menjadi yang paling pintar untuk terus belajar. Kesadaran Ga Min terhadap kekurangannya tidak membuatnya rendah diri atau menyerah. Sebaliknya, ia memilih untuk terus berusaha, menjaga konsistensi, dan membuktikan bahwa kemampuan akademik dapat diperjuangkan. Kegigihan itulah yang menjadi nilai lebih dalam dirinya, bukan semata karena pantang menyerah, tetapi juga karena ia berani keluar dari zona nyaman untuk mengembangkan sisi dirinya yang masih lemah.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang siapa yang memperoleh nilai tertinggi, melainkan tentang siapa yang terus bertumbuh melalui setiap proses yang dijalani. Lingkungan, sekolah, maupun masyarakat seharusnya tidak terburu-buru memberi label kepada mereka yang tertinggal. Sebaliknya, setiap anak perlu diberi ruang untuk mengenali potensinya, memperbaiki kekurangannya, serta memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui Study Group, penonton diajak menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya milik mereka yang paling cerdas, tetapi juga mereka yang memilih untuk tidak berhenti mencoba.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment