Home Sosok Mengabdi di Garis Depan Toksinologi Indonesia, Kisah Dr. Tri Maharani
Sosok

Mengabdi di Garis Depan Toksinologi Indonesia, Kisah Dr. Tri Maharani

Share

Oleh: Rosani Margaretha Samosir

Suara USU, Medan. Gigitan ular berbisa masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan, perkebunan, dan kawasan hutan. Namun, perhatian terhadap penanganannya belum sebanding dengan risikonya. Di tengah kondisi tersebut, Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K), FICEP, FIMMA mendedikasikan diri pada toksinologi, khususnya penanganan gigitan ular berbisa. Kiprahnya membuat ia dikenal sebagai salah satu pelopor toksinologi klinis di Indonesia.

Dr. Tri Maharani lahir pada 31 Agustus 1971. Ketertarikannya pada dunia kedokteran membawanya menempuh pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Magister Imunologi di Universitas Airlangga pada 2001. Bidang tersebut menjadi bekal penting dalam memahami racun dan respons tubuh, yang kemudian mendukung kiprahnya dalam toksinologi.

Setelah meraih gelar magister, Dr. Tri sempat berencana melanjutkan pendidikan doktor di bidang Patologi Klinik. Namun, hasil tes psikologi yang menunjukkan dirinya lebih cocok bekerja langsung bersama pasien membuatnya memilih pendidikan Spesialis Kedokteran Emergensi di Universitas Brawijaya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di bidang biomedis di universitas yang sama. Perpaduan imunologi, kedokteran emergensi, dan biomedis menjadi fondasi dalam menangani gigitan ular berbisa yang membutuhkan penanganan cepat sekaligus pemahaman mengenai racun dan antibisa.

Pada 2011, ia mengikuti program Sandwich-like PhD Biomedical Science di Universiteit Leuven, Belgia. Pengalaman tersebut memperluas wawasan ilmiahnya dan semakin menguatkan ketertarikannya pada toksinologi. Sejak saat itu, ia aktif mengembangkan pengetahuan mengenai penanganan gigitan ular berbisa serta berbagai keracunan akibat hewan dan tumbuhan beracun.

Karier Dr. Tri tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Daha Husada, Kediri, dan kini bekerja di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sejak 2012, ia secara sukarela memberikan konsultasi kasus kepada dokter dan tenaga kesehatan di berbagai daerah agar pasien korban gigitan ular berbisa memperoleh penanganan yang tepat.

Melihat masih minimnya perhatian terhadap kasus gigitan ular berbisa, Dr. Tri turut mendirikan Remote Envenomation Consultancy Services (RECS) Indonesia pada 2015. Ia juga mendirikan Indonesia Toxinology Society (ITS). Kedua organisasi tersebut menjadi wadah pengembangan pendidikan, penelitian, konsultasi, dan kolaborasi di bidang toksinologi. Melalui kegiatan seminar, pelatihan, dan edukasi, Dr. Tri turut mendorong tenaga kesehatan dan masyarakat memahami penanganan gigitan ular berdasarkan pedoman ilmiah.

Pengabdiannya semakin dikenal ketika ia berjuang memperoleh antivenom yang belum tersedia di Indonesia demi menyelamatkan pasien korban gigitan ular berbisa langka. Demi mendapatkan obat tersebut, ia rela terbang ke luar negeri menggunakan biaya pribadi. Baginya, setiap nyawa memiliki hak yang sama untuk diselamatkan. Kepedulian tersebut mendorongnya terus memperjuangkan pemerataan akses antivenom di Indonesia.

Dedikasi itu juga memperlihatkan bahwa penanganan gigitan ular tidak berhenti pada pertolongan pertama. Pengetahuan mengenai racun, kebutuhan antivenom, kecepatan penanganan, serta kemampuan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam menentukan keselamatan pasien. Karena itu, konsultasi, pelatihan, dan edukasi yang dilakukan Dr. Tri menjadi bagian dari upayanya memperkuat penanganan kasus di berbagai daerah.

Di tingkat internasional, Dr. Tri tercatat sebagai anggota kelompok kerja WHO tentang snakebite envenoming yang terlibat dalam penyusunan strategi global penanganan gigitan ular berbisa pada 2019. Ia juga menjabat sebagai President of Indonesia Toxinology Society serta terlibat dalam jaringan internasional Remote Envenomation Consultancy Services (RECS). Kiprah tersebut menunjukkan keterlibatannya dalam upaya penanganan gigitan ular berbisa di tingkat nasional dan internasional.

Atas dedikasi tersebut, Dr. Tri menerima Liputan6 Award 2026 kategori Kesehatan pada 23 Mei 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas kontribusinya di bidang kesehatan. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata untuk dirinya, melainkan untuk meningkatkan perhatian terhadap masyarakat yang berisiko menjadi korban gigitan ular berbisa.

Perjalanan hidup Dr. Tri Maharani menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari pendidikan tinggi, tetapi juga keberanian memilih jalan yang jarang ditempuh. Ketika gigitan ular masih kerap dianggap sepele, ia menjadikannya sebagai panggilan pengabdian. Melalui ilmu pengetahuan, pelayanan medis, penelitian, dan edukasi, Dr. Tri terus berupaya agar korban gigitan ular berbisa memperoleh kesempatan untuk hidup dan pulih.

Redaktur: Debora Gracia Nauli

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.