Home Kabar Kampus Mahasiswa FKG USU Raih Prestasi dalam International Dental Summer Course 2026
Kabar Kampus

Mahasiswa FKG USU Raih Prestasi dalam International Dental Summer Course 2026

Share


Reporter: Tania Renata Panjaitan

Suara USU, Medan. Perwakilan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara (USU) meraih tiga prestasi gemilang pada ajang International Dental Summer Course 2026 yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 07–17 Juli 2026. Di bawah bimbingan drg. Ika Astrina, M.DSc, delegasi USU yang beranggotakan Anggi Risabela Harianja, Ayu Oktaria Malau, Dina Clarissa Boangmanalu, Elvina Fadhilah, Farah Fawnia Syabrina, Grania Zanetha Sembiring, Natalia Margaretha, Rebecca Marcelin Hutagalung, Tiara Salwa, Viola Lisandra Girsang, dan Vanesha Agita Sari berhasil berpartisipasi dalam International Dental Summer Course hingga meraih sejumlah penghargaan. Penghargaan tersebut mencakup Juara I Pitching Contest, Juara II Pitching Contest, serta Juara Best Outfit.

Dina Clarissa Boangmanalu, salah satu delegasi, menyatakan bahwa motivasi utamanya mengikuti International Dental Summer Course 2026 adalah keinginan untuk memperluas wawasan akademik dan mengembangkan kemampuan berkolaborasi dalam lingkup internasional. Tak hanya itu, Dina menilai bahwa kegiatan ini menjadi peluang untuk bertukar pikiran dengan mahasiswa dan akademisi dari berbagai universitas.

“Kegiatan ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk berdiskusi dengan mahasiswa dan akademisi dari berbagai universitas,” ungkapnya.

Dengan berbekal motivasi besar tersebut, tim FKG USU kemudian mengikuti serangkaian proses persiapan hingga akhirnya dinyatakan sebagai delegasi Universitas Sumatera Utara. “Prosesnya diawali dengan adanya informasi mengenai International Dental Summer Course 2026 yang dibuka untuk mahasiswa kedokteran gigi. Kami melihat kegiatan ini sebagai kesempatan yang sangat baik untuk mengembangkan kapasitas akademik sekaligus memperluas jejaring internasional. Setelah memenuhi persyaratan administrasi dan proses pendaftaran yang ditetapkan oleh pihak kampus serta penyelenggara, kami dinyatakan dapat mengikuti kegiatan ini sebagai peserta,” jelas Dina.

Dalam ajang internasional tersebut, tim FKG USU tampil menakjubkan dalam kompetisi Mini Project Pitching Contest. Tim FKG USU mengusung gagasan inovatif bernama Eco-Smile, yaitu aplikasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu masyarakat mendeteksi dini karies gigi secara mandiri. “Ide ini berangkat dari kenyataan bahwa masih banyak masyarakat yang terlambat memeriksakan kondisi giginya karena keterbatasan akses dan biaya, serta kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi,” papar Dina.

Melalui penjelasan Dina, dapat diketahui bahwa melalui Eco-Smile, pengguna dapat mengunggah foto rongga mulut atau gigi menggunakan kamera ponsel. Selanjutnya, sistem AI akan menganalisis gambar tersebut untuk mengidentifikasi gejala awal karies dan memberikan hasil skrining beserta tingkat risikonya. Lebih dari itu, aplikasi Eco-Smile juga dilengkapi dengan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut, rekomendasi langkah-langkah pencegahan, serta anjuran untuk segera berkonsultasi kepada dokter gigi apabila ditemukan indikasi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam wawancara, Dina turut menegaskan bahwa Eco-Smile dibuat bukan dengan tujuan menggantikan diagnosis dokter gigi, melainkan menjadi alat skrining awal agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mendorong masyarakat untuk mencari penanganan profesional. Tim FKG USU berharap dengan adanya inovasi ini, proses deteksi karies akan lebih mudah sehingga dapat membantu menurunkan angka kejadian karies yang terlambat ditangani.

Inovasi mengesankan tersebut tentu tak terlepas dari proses pencarian dan penyusunan ide, riset, hingga persiapan presentasi di hadapan para peserta dari berbagai universitas. “Penyusunan proyek ini merupakan pengalaman yang sangat berharga karena tim kami (kelompok 3) terdiri dari mahasiswa dari tiga universitas yang berbeda, yaitu Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Meskipun berasal dari latar belakang dan pengalaman yang beragam, kami berupaya membangun komunikasi yang efektif sejak awal agar dapat menghasilkan solusi yang relevan dan inovatif.”

Prosesnya dimulai dengan sesi brainstorming untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan gigi yang masih banyak dihadapi masyarakat. Usai berdiskusi dan bertukar perspektif, seluruh anggota tim sepakat untuk mengangkat isu keterlambatan deteksi karies karena tingginya prevalensi karies, banyaknya hambatan akses, serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan gigi secara rutin.

Berangkat dari gagasan tersebut, lahirlah Eco-Smile, sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang berfungsi sebagai alat skrining awal karies gigi. Tak berhenti di situ, anggota tim kemudian melakukan riset dengan menelaah berbagai literatur ilmiah mengenai karies, pemanfaatan AI dalam bidang kesehatan, serta aplikasi serupa yang telah dikembangkan. Hasil riset tersebut menjadi dasar dalam menyusun konsep aplikasi, menentukan fitur-fitur utama, serta memastikan bahwa solusi yang ditawarkan memiliki dasar ilmiah dan dapat menjawab permasalahan yang diangkat. Dalam tahap presentasi, anggota tim membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing dan saling memberi masukan untuk menyempurnakan materi. Dina mengaku, kolaborasi lintas universitas menjadi kekuatan tim karena menghadirkan berbagai perspektif, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan kerja sama.

Namun, kolaborasi lintas universitas ternyata turut menjadi tantangan tersendiri bagi anggota tim. “Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah bagaimana membangun kolaborasi efektif dalam waktu yang singkat, mengingat kami berasal dari universitas yang berbeda. Kami harus menyatukan berbagai ide untuk menghasilkan satu solusi yang matang. Selain itu, kami juga dituntut untuk menyusun solusi yang tak hanya inovatif, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat dan relevan dengan permasalahan gigi saat ini,” ujar Dina.

Meski dibersamai dengan seluruh tantangan tersebut, International Dental Summer Course menjadi ajang yang memperkuat kemampuan akademik dan nonakademik mahasiswa. Dari sisi akademik, kegiatan ini memperluas wawasan, melatih berpikir kritis berdasarkan bukti ilmiah, serta menyusun dan mempresentasikan solusi inovatif. Sementara itu, dari sisi nonakademik, para mahasiswa dapat melatih kerja sama dalam tim multikultural, meningkatkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, adaptasi, hingga kepercayaan diri dalam forum internasional.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.