
Oleh: T. Saskia Azzahra, Zaskia Assyifa
Suara USU, Medan. Dalam lanskap sosial yang terus berubah, keberadaan keluarga single parent atau orang tua tunggal menjadi semakin lazim. Baik karena perceraian, kematian pasangan, maupun pilihan hidup, keluarga jenis ini kini bukan lagi fenomena yang asing. Namun, di balik dinamika tersebut, tumbuh sejumlah tantangan—terutama bagi anak-anak yang dibesarkan dalam struktur keluarga ini.
Realita Keluarga Single Parent
Single parent bukan sekadar status, melainkan peran ganda yang dijalani satu orang tua dalam membesarkan anak tanpa kehadiran pasangan. Mereka menjadi tulang punggung ekonomi, pengasuh utama, sekaligus pendamping emosional bagi anak-anak mereka. Meskipun banyak orang tua tunggal yang berhasil menjalani peran ini dengan luar biasa, kenyataannya tidak sedikit anak yang terdampak secara sosial maupun psikologis.
Dampak Sosial, Anak dan Lingkungan yang Menilai
Salah satu tantangan terbesar anak dalam keluarga single parent adalah stigma sosial. Di beberapa lingkungan, keluarga tanpa dua orang tua masih dipandang “tidak lengkap” atau “bermasalah”. Hal ini bisa berdampak langsung pada cara anak menilai dirinya sendiri, bahkan pada hubungan sosialnya di sekolah dan lingkungan. Anak juga berpotensi menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber daya, seperti pendidikan berkualitas atau aktivitas ekstrakurikuler, akibat keterbatasan finansial yang mungkin dialami orang tua tunggal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri, motivasi belajar, dan keterlibatan sosial anak.
Dampak Psikologis, Emosi yang Terbagi dan Tidak Terpenuhi
Secara psikologis, anak dalam keluarga single parent mungkin menghadapi perasaan kehilangan, penolakan, atau kekosongan emosional—terutama jika mereka masih sangat kecil saat perpisahan orang tua terjadi. Ketidakhadiran satu figur orang tua dapat menciptakan pertanyaan dalam diri anak yang tidak mudah dijawab, seperti: “Kenapa ayah/ibu tidak ada?” atau “Apakah aku yang salah?” Studi menunjukkan bahwa anak-anak dalam keluarga single parent lebih rentan mengalami kecemasan, depresi ringan, dan masalah perilaku, terutama jika tidak mendapat dukungan emosional yang memadai dari orang tua maupun lingkungan sekitar.
Tak Semua Berdampak Negatif
Namun, penting untuk digarisbawahi: tidak semua anak dari keluarga single parent mengalami dampak negatif. Banyak anak tumbuh menjadi pribadi tangguh, empatik, dan mandiri karena situasi keluarga mereka. Kuncinya terletak pada kualitas pengasuhan, stabilitas emosional orang tua, dan adanya dukungan sosial yang memadai. Ketika orang tua tunggal mampu menciptakan lingkungan penuh kasih, mendengarkan anak, serta menjaga komunikasi terbuka, anak akan lebih mudah beradaptasi dan tumbuh secara sehat.
Langkah-langkah untuk Mendukung Anak
-
Perkuat hubungan emosional dengan anak. Luangkan waktu berkualitas untuk mendengarkan dan memahami kebutuhan emosional mereka.
-
Bangun rutinitas yang stabil. Struktur harian yang konsisten memberikan rasa aman bagi anak.
-
Libatkan lingkungan. Sekolah, keluarga besar, dan komunitas lokal bisa menjadi jaringan pendukung yang membantu tumbuh kembang anak.
-
Pertimbangkan bantuan profesional. Konseling anak atau terapi keluarga bisa menjadi solusi ketika muncul masalah yang lebih kompleks.
Menumbuhkan Kesadaran dan Empati Sosial
Sebagai masyarakat, sudah saatnya kita berhenti melihat keluarga single parent dari kacamata sempit. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menciptakan ruang yang inklusif, ramah anak, dan bebas stigma. Karena setiap anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh bahagia dan berkembang maksimal—terlepas dari bentuk keluarganya.
Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment