Home Musik Ketadu Mara Alat Musik Khas NTT
Musik

Ketadu Mara Alat Musik Khas NTT

Share
Sumber: nttbangkit.com

Oleh: Christy Cherina

Suara USU, Medan. Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan berbagai budaya, seperti bahasa, tari, dan musik. Salah satu wilayah yang memiliki kekayaan tersebut adalah wilayah bagian timur Indonesia yang terkenal dengan keragaman seni budayanya, terutama alat musik tradisional. Salah satu alat musik tradisional khas Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah Ketadu Mara. Ketadu Mara atau yang dikenal juga dengan juk adalah warisan alat musik petik dan pukul khas Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya daerah Sabu Raijua. Hingga saat ini alat musik ini diupayakan agar dilestarikan oleh masyarakat lokal agar tetap ada dan dapat dimainkan oleh para generasi selanjuutnya.

Ketadu Mara memiliki ciri khas dengan memiliki tiga bagian utama yaitu, ekor, batang, dan kepala. Ketadu Mara dapat dimainkan dengan cara dipukul dengan kayu kecil dan dipetik menggunakan kedua tangan dengan satu tangan untuk memegang dan memukul bagian kepala, sementara tangan lain memegang ekor untuk mengendalikan getaran suara.  Ketadu Mara terbuat dari kayu atau bambu dengan dua senar dan berbentuk seperti gitar dengan bagian puncaknya yang menyerupai kepala ayam yang menambah keunikannya. Bagian badan instrumen berupa seruas bambu atau potongan kayu yang salah satu ujungnya dilubangi sebagai ruang resonansi. Pada bagian tengah terdapat lubang suara berbentuk persegi empat, dan di sisi lubang tersebut dibuat kulit bambu yang diganjal dengan batangan kayu hingga berfungsi sebagai dawai sehingga bisa dipetik atau dipukul.

Alat musik ini digunakan untuk hiburan, ekspresi diri, atau mengiringi tarian. Ketadu Mara mirip seperti gitar dan sering dimainkan oleh orang yang sedang menggembala atau bertani di sawah sebagai pelipur lara saat bekerja di sawah atau saat menggembala. Selain itu, Ketadu Mara juga diyakini dapat mengundang cecak bernyanyi dan menarik perhatian makhluk halus.

Namun, saat ini banyak kekhawatiran yang dialami oleh penduduk Nusa Tenggara Timur mengenai alat musik ini. Ketadu Mara menghadapi tantangan dalam hal regenerasi pemain dan pengrajin, terutama di era modern yang cenderung mengadopsi alat musik populer modern. Tidak banyak pengrajin yang memiliki bakat untuk membuat Ketadu Mara, hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai pelestarian alat musik ini.

Selain itu, regenerasi pemain juga sangat dikhawatirkan, hanya sedikit penduduk yang dapat memainkan alat musik daerah ini. Salah satunya adalah Djuku Djami seorang maestro musik tradisional ketadu mara yang masih dapat memainkan dan melestarikan alat musik ini. Hanya sedikit generasi muda yang memiliki bakat dan minat untuk belajar memainkan Ketadu Mara. Hal ini yang perlu diperhatikan dengan seksama agar tidak terjadinya kepunahan alat musik tradisional ini. Bahkan saat ini ditemukan bahwa Ketadu Mara terancam punah karena jumlahnya tidak mencapai 10 buah lagi di Sabu Raijua. Beberapa kebijakan perlu dilakukan agar alat musik ini terjaga kelestariannya. Kebijakan seperti, pembelajaran alat musik tradisional di beberapa sekolah di daerah Nusa Tenggara Timur dapat dilakukan agar ada generasi penerus yang dapat memainkan alat musik ini.

Beberapa kebijakan perlu dilakukan karena Ketadu Mara adalah bagian penting dari warisan budaya Nusa Tenggara Timur yang menyiratkan seni, kepercayaan lokal, dan kearifan tradisional yang diekspresikan melalui musik. Dengan bentuknya yang sederhana dan bahan yang alami, alat musik ini menunjukkan kreativitas dan kedalaman budaya masyarakat Sabu Raijua dan sekitarnya. Pelestarian alat musik Ketadu Mara sangat penting dilakukan agar generasi masa depan bisa memahami dan menghargai identitas etnis mereka melalui musik ini.

Redaktur: Nurur Rahmah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.