Home Kuliner Keumamah, Makanan Khas Aceh yang Menggugah Selera ternyata Punya Sejarah
Kuliner

Keumamah, Makanan Khas Aceh yang Menggugah Selera ternyata Punya Sejarah

Share

(Sumber: https://www.fimela.com) 

Penulis: Rifatul Suaidah

Suara USU, Medan. Aceh merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatera yang memiliki berbagai macam budaya, tradisi serta kulinernya yang lezat. Salah satu kuliner yang mencuri perhatian adalah keumamah, makanan yang menggugah selera karena rasanya yang kaya akan rempah. “Eungkot keumamah” atau lebih dikenal dengan keumamah merupakan makanan yang menggunakan bahan baku ikan laut seperti ikan tuna, ikan tongkol dan ikan cakalang. Keumamah juga dikenal sebagai “Ikan Kayu” karena teksturnya yang kering sehingga memungkinkan keumamah tahan berbulan-bulan. Namun siapa sangka, dibalik cita rasa yang gurih dan sedikit pedas, tersimpan perjalanan sejarah yang bermakna.

Pada masa penjajahan belanda, para pejuang Aceh harus bergerilya di hutan selama berbulan-bulan, sehingga logistik perang harus selalu ada, termasuk makanan. Para pejuang Aceh pada masa lampau mengelola ikan kayu sebagai bahan lauk-pauk untuk bertahan di masa peperangan karena daya tahan makanan yang lama. Hal inilah yang memunculkan cikal bakal makanan keumamah. Para pejuang Aceh yang diharuskan berpindah-pindah menjadikan keumamah sebagai salah satu cadangan logistik yang praktis, mengenyangkan dan mudah dibawa kemana saja.

Selain itu, di masa lalu para jemaah haji khususnya berasal dari Bumi Rencong Aceh juga membekali diri dengan keumamah. Apakah alasan dibalik hal tersebut? Pada masa Hindia Belanda, jemaah haji berangkat ke tanah suci menggunakan kapal laut yang dapat memakan waktu hingga 6 bulan lamanya. Hal ini yang menjadi alasan utama para Jemaah haji asal Aceh membawa keumamah sebagai bekal selama perjalanan karena lezat, praktis, mudah di santap serta memiliki daya tahan yang lama. Keumamah bukan hanya sekedar hidangan, tetapi simbol perjuangan para pejuang Aceh dalam melawan penjajahan belanda.

Nah, setelah kita mengetahui sejarah yang bermakna tentang makanan khas Aceh yaitu keumamah, mari kita telusuri bahan dan cara pengolahan makanan khas Aceh ini. Adapun bahan utamanya ialah ikan, dapat menggunakan ikan tuna, ikan tongkol ataupun ikan cakalang. Bumbu yang biasanya digunakan adalah asam sunti (belimbing wuluh kering). Selanjutnya, Proses pembuatan keumamah yaitu pembersihan ikan, perebusan ikan untuk menghilangkan bau amis, serta pengeringan dibawah sinar matahari hingga benar-benar kering agar bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama. Proses ini yang menjadikan keumamah disebut sebagai ikan kayu.

Sobat SU, setelah melalui 3 tahapan itu, keumamah dapat dimasak menggunakan bumbu dan rempah yang beragam tergantung keinginan masing-masing. Biasanya masyarakat Aceh memasaknya dengan cara ditumis, digulai, atau dipepes. Keumamah sering disajikan dalam berbagai acara budaya dan perayaan di Aceh untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat, seperti dalam acara Kenduri, Hari Besar Islam, Acara Adat dan Perjalanan Haji. Oleh karena itu, dengan mengetahui informasi ini, kita tidak hanya menjaga warisan kuliner, tetapi juga menghormati sejarah dan perjuangan masyarakat Aceh.

Redaktur: Khaira Nazira

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.