Oleh: Adelia Jasmine Efendi
Suara USU, Medan. Di tengah padatnya jadwal kuliah, tuntutan organisasi, serta tugas yang datang tanpa jeda, banyak mahasiswa kini menghadapi tekanan yang tidak sedikit. Kelelahan yang dulu diredakan dengan tidur siang, berjalan-jalan, atau sekadar berbincang dengan teman, sekarang digantikan oleh satu aktivitas sederhana “menggulir layar ponsel tanpa henti”. Fenomena ini menjadikan scroll tak berujung sebagai bentuk self soothing baru. Di ruang kelas sebelum dosen datang, di kantin kampus, di halte bus, dan di kamar kost, pemandangan yang sama berulang, mahasiswa menunduk, mata terpaku pada layar, jempol bergerak tanpa jeda. Istirahat tidak lagi benar-benar diam, ia berubah menjadi aktivitas digital.
Mahasiswa sekarang hidup pada era yang serba cepat. Target IPK, prestasi organisasi, sertifikat webinar, lomba, magang, membuat banyak mahasiswa merasa harus selalu produktif. Ketika lelah datang, tubuh seolah tidak lagi meminta tidur, tetapi meminta distraksi. Penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association menyebutkan bahwa generasi usia 18 hingga 25 tahun mengalami tingkat stress paling tinggi dibandingkan kelompok usia lain, dan salah satu pelarian yang paling banyak digunakan adalah media soaial.
Dalam psikologi, self soothing berarti kemampuan menenangkan diri saat menghadapi tekanan emosional. Biasanya dilakukan dengan menarik napas dalam,journaling, aktivitas fisik ringan, ngobrol dengan orang terdekat, ibadah dan refleksi. Namun, kini muncul variasi baru yaitu self soothing digital, media sosial menawarkan kecepatan, akses instan, hiburan, distraksi dan pikiran yang berat. Menurut studi di Journal of Behavioral Addictions, konsumsi konten pendek dapat memicu pelepasan dopamin yang memberi rasa nyaman sementara, tetapi cenderung membuat pengguna ingin terus mengulang aktivitas yang sama. Artinya, kita merasa “lebih baik”, tetapi setelah layar dimatikan, pikiran berat dan tugas menumpuk tetap ada. Disinilah paradoks muncul, aktivitas yang terasa menenangkan justru bisa memperpanjang kelelahan mental jika dilakukan tanpa kendali.
Efek scroll tak berujung tidak langsung terlihat, tapi perlahan nyata, waktu belajar terpotong tanpa terasa, tidur mundur larut malam, fokus akademik menurun, perbandingan sosial meningkat, kesehatan mental terpengaruh. Namun, media sosial tidak sepenuhnya buruk, di dalamnya ada komunitas minat yang suportif, akses informasi beasiswa dan magang, edukasi mental health, hiburan yang memang membantu. Masalahnya bukan pada medianya, melainkan bagaimana kita menggunakannya. Scroll tak berujung disebut pelarian halus karena terlihat “normal”, jarang dianggap serius, sering dibungkus dengan alasan “healing sebentar”. Di balik itu, mahasiswa sebenarnya sedang menghindari tugas yang berat, menunda hal yang membuat cemas, lari dari ekspektasi diri sendiri, meredakan takut gagal, dan mencari pengakuan sosial. Scroll tidak lagi sekadar hiburan, melainkan mekanisme coping emosional.
Berhenti total mungkin tidak realistis. Kehidupan akademik, organisasi, hingga informasi kampus kini banyak bergerak melalui layar, yang diperlukan adalah batas sehat, bukan pelarangan. Beberapa langkah kecil yang dapat dicoba adalah tetapkan waktu khusus “tanpa layar”, terutama sebelum tidur. Gunakan pengingat durasi pada aplikasi, letakkan ponsel jauh saat belajar, pilih konten yang benar-benar bermanfaat, dan ganti sebagian waktu scroll dengan aktivitas fisik ringan. Terpenting adalah kesadaran diri, tanyakan pada diri sendiri, aku sedang istirahat atau lari dari tugas? aku butuh hiburan atau tidur? setelah scroll, perasaanku benar-benar lebih baik atau hanya sementara?
Scroll tak berujung sebagai self soothing mengajarkan satu hal, banyak mahasiswa diam-diam lelah. Di balik canda di linimasa, likes, dan video lucu, ada kepala yang pusing oleh tugas, ada hati yang cemas tentang masa depan, dan ada tubuh yang sebenarnya butuh istirahat. Tidak ada yang salah dengan mencari hiburan, tidak ada yang salah dengan membuka media sosial. Namun, ada saat ketika kita perlu berhenti sejenak dan bertanya apakah kita sedang beristirahat atau hanya mengalihkan rasa lelah?
Saat jawaban jujur sudah ditemukan, kita bisa mulai belajar menata ritme hidup, memberi ruang bagi tidur yang cukup, percakapan nyata, udara luar, dan istirahat yang sungguh-sungguh memulihkan. Bukan hanya berhenti sejenak dari kenyataan, tetapi benar-benar pulih untuk menjalaninya kembali.
Redaktur: Nurur Rahmah
Leave a comment