:format(webp)/article/xTLzRJG-gTamGTMwMo8fD/original/1666340104-Mengikis-Stigma-Masalah-Kesehatan-Mental.jpg)
Oleh: Rafly Zaidan Ahmad, Nurindah, Ayu Ramadani, Lamtiur Marito Manik, Habel Raflesia Saragih, Kyla Aprilia Hairunisa, dan Vincent Sebastian Manullang
Suara USU, Medan. Kesehatan mental menjadi isu penting di kalangan mahasiswa, terutama di tengah tekanan akademik, sosial, dan ekonomi yang semakin kompleks. Mahasiswa di Kota Medan menghadapi beragam tantangan yang dapat memicu stres, kecemasan, hingga depresi. Keberagaman latar belakang sosial ekonomi turut memperkaya sekaligus memperberat kondisi mental mereka. Data Riskesdas menunjukkan bahwa sekitar 20% mahasiswa mengalami stres berat dan 15% mengalami gejala depresi, angka yang menegaskan perlunya perhatian serius terhadap kesejahteraan mental di lingkungan kampus.
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dengan dosen dan mahasiswa, serta survei kuantitatif terhadap 20 mahasiswa melalui Google Form, menunjukkan bahwa 90% responden menganggap isu kesehatan mental sangat penting. Namun, hanya 40% merasa mendapatkan informasi yang cukup mengenai cara mengatasi masalah mental. Sebagian besar mahasiswa mengaku mengalami stres akibat beban tugas kuliah, tuntutan adaptasi, tekanan keluarga, serta masalah finansial. Mahasiswa baru menjadi kelompok yang paling rentan karena harus menyesuaikan diri dengan ritme perkuliahan yang baru dan lingkungan sosial yang berbeda.
Wawancara dengan dosen mengungkap bahwa peran pendidik sangat menentukan dalam menciptakan suasana belajar yang suportif. Dosen diharapkan bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga figur pendamping yang berempati, sehingga mahasiswa memiliki ruang aman untuk bercerita dan meminta bantuan. Sementara itu, survei menunjukkan bahwa hanya 5% mahasiswa yang pernah berkonsultasi dengan psikolog profesional. Mayoritas lebih memilih mencurahkan masalah kepada teman dekat atau keluarga karena merasa lebih nyaman dan tidak takut distigma.
Temuan ini sejalan dengan pandangan WHO yang menyebut kesehatan mental sebagai kondisi sejahtera yang membuat seseorang mampu menghadapi tekanan hidup. Berbagai literatur juga menekankan bahwa stres akademik, persoalan ekonomi, dan minimnya dukungan sosial merupakan pemicu utama gangguan mental pada mahasiswa. Di sisi lain, stigma terhadap isu psikologis masih menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk mencari bantuan profesional.
Melihat kompleksitas masalah tersebut, kampus diharapkan memainkan peran lebih besar dalam memperkuat layanan konseling dan edukasi kesehatan mental. Program seminar, lokakarya, dan kampanye kesadaran mental dinilai penting untuk meningkatkan literasi sekaligus mengurangi stigma. Selain itu, dibutuhkan budaya saling peduli di lingkungan kampus agar mahasiswa tidak merasa sendirian saat menghadapi tekanan.
Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa di Kota Medan memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya kesehatan mental, tetapi masih mengalami kendala besar dalam mengelola stres dan mengakses layanan profesional. Beban akademik, masalah ekonomi, dan kurangnya dukungan sosial menjadi faktor yang paling berpengaruh. Peran aktif dosen, pihak kampus, serta lembaga terkait sangat dibutuhkan untuk memperkuat sistem dukungan psikologis dan menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat bagi mahasiswa.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment