Oleh: Syifa Salsabila, Farouq Aidil Akbar, Awi Febrian, Muhammad Rangga Firansyah, Roulina Chelsea Harianja, Ananda Mnde Pakpak Kanaya Manik, Irham Ari Saputra, dan Angelica
Suara USU, Medan. Thrifting berasal dari kata thrift yang berarti hemat atau irit. Oleh karena itu, thrifting adalah aktivitas membeli barang-barang bekas yang masih layak pakai, terutama pakaian, dengan harga lebih murah dibandingkan barang baru. Barang thrifting biasanya didapat dari toko barang bekas (thrift shop), pasar loak, atau penjual baju online yang mengumpulkan pakaian preloved. Tujuan utama thrifting adalah memperoleh barang dengan harga terjangkau sekaligus mendukung gaya hidup berkelanjutan melalui pengurangan limbah tekstil. Selain itu, thrifting juga memberikan kesempatan untuk menemukan barang unik atau vintage yang sulit ditemui di pasaran, serta menjadi ruang kreativitas bagi individu untuk memodifikasi pakaian sesuai selera pribadi. Bagi banyak orang, thrifting bukan sekadar mencari barang murah, tetapi juga pengalaman menemukan sesuatu yang unik dan langka, termasuk pakaian era lama yang sudah tidak diproduksi lagi.
Salah satu alasan mengapa vintage fashion semakin digemari adalah karena memberikan kebebasan untuk mengekspresikan diri. Barang-barang vintage sering memiliki ciri khas yang menjadikan seseorang tampil berbeda dari yang lain. Di tengah arus fashion yang serba cepat dan diproduksi massal, memiliki gaya yang unik menjadi nilai tambah tersendiri.
Seiring meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, banyak orang mulai beralih ke thrifting dan vintage fashion untuk mengurangi dampak negatif industri fast fashion. Dengan membeli barang bekas, masyarakat dapat membantu menekan jumlah limbah tekstil serta mengurangi permintaan akan produksi pakaian baru yang membutuhkan banyak sumber daya alam.
Thrifting juga menjadi solusi bagi mereka yang ingin tampil modis tanpa menguras dompet. Dengan anggaran terbatas, seseorang tetap bisa mendapatkan pakaian berkualitas dan bermerek di toko thrift store. Banyak barang vintage yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi sehingga lebih awet dan cocok untuk dipakai dalam berbagai kesempatan.
Seperti kegiatan lainnya, thrifting memiliki dampak baik dan buruk. Dampak positifnya adalah terciptanya gaya hidup ramah lingkungan karena pakaian bekas dapat dimanfaatkan kembali, sehingga mengurangi sampah tekstil. Thrifting juga memberikan akses belanja murah tanpa mengurangi kualitas, serta membuka peluang usaha bagi penjual dan pelaku bisnis kreatif. Selain itu, thrifting turut mendorong keberagaman gaya fashion karena setiap orang bisa menemukan pakaian dengan model yang khas.
Adapun dampak buruk thrifting antara lain kemungkinan beredarnya pakaian dengan kualitas yang sudah menurun sehingga tidak tahan lama. Jika dilakukan berlebihan, thrifting dapat menggeser pasar lokal yang menjual produk baru. Dari sisi kesehatan, ada risiko pakaian kurang higienis apabila tidak dibersihkan dengan benar sebelum digunakan. Selain itu, harga yang murah dapat memicu perilaku konsumtif karena orang cenderung membeli lebih banyak dari kebutuhannya.
Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa thrifting memiliki sisi positif maupun negatif tergantung bagaimana masyarakat memaknainya. Di satu sisi, thrifting mendukung gaya hidup berkelanjutan, menyediakan barang berkualitas dengan harga terjangkau, serta membuka peluang usaha kreatif. Namun, di sisi lain, thrifting juga dapat menimbulkan masalah seperti risiko kebersihan, penurunan kualitas pakaian, hingga memicu perilaku konsumtif. Oleh karena itu, thrifting sebaiknya dilakukan secara bijak: membeli sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan barang, dan tetap mempertimbangkan nilai keberlanjutan agar manfaatnya optimal tanpa memunculkan masalah baru.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment