
Oleh: Muhammad Aditya Rizqy
Suara USU, Medan. Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Sumatera Utara (USU) memperkenalkan sebuah terobosan inovatif bernama Literacy Catalyst Building, sebuah konsep perpustakaan masa depan yang mengintegrasikan teknologi Mixed Reality (MR), Artificial Intelligence (AI), dan robotika dalam satu ekosistem literasi berbasis arsitektur biofilik.
Inovasi ini diinisiasi oleh lima mahasiswa lintas disiplin yaitu, Abdillah Sani Lubis, Dwi Sekar Sari, Mhd Aditya Rizqy, Johanna Beatrix Lordian, dan Meutia Afifah Husnaidi, di bawah bimbingan dosen pendamping Ibu Chindy Elsanna Revadi S.T., M.T. Proyek ini lahir dari keprihatinan atas rendahnya tingkat literasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), yang masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Data PISA 2022 mencatat, Indonesia berada di peringkat 72 dari 79 negara, sementara survei UNESCO menunjukkan Indonesia berada di posisi ke-60 dari 61 negara dengan tingkat literasi sangat rendah.
Data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat juga menunjukkan, bahwa Sumut hanya mencapai angka persentase 51,72 pada 2022, dan sedikit mengalami peningkatan menjadi 56,10 pada 2023. Namun, capaian ini masih jauh di bawah rata-rata nasional yang sudah menyentuh angka 64. “Artinya, Sumut masih harus berjuang keras untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujar Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumut, Dwi Endah Purwanti, dalam sebuah acara literasi yang dilangsungkan di Medan.
Literacy Catalyst Building hadir untuk menjawab persoalan tersebut dengan menghadirkan perpustakaan berwajah baru yang lebih inklusif, interaktif, dan adaptif terhadap generasi digital. Bangunan ini dirancang dengan tiga zona utama, yaitu Green Reading Area sebagai ruang baca terbuka berbasis taman yang menghadirkan ketenangan alami; zona utama perpustakaan yang dilengkapi AudioDialogue Room dan robot navigasi NaviLibro; serta VirtuShelf, sebuah ruang eksplorasi digital berbasis MR yang memungkinkan pengunjung merasakan pengalaman membaca imersif.
Dengan pendekatan arsitektur biofilik, bangunan ini menggabungkan pencahayaan alami, ventilasi silang, dan material ramah lingkungan untuk menciptakan suasana belajar yang sehat sekaligus inspiratif. Fasilitas tambahan seperti maker space, zona gamifikasi, dan aula serbaguna, juga disiapkan sebagai ruang kolaborasi kreatif bagi pelajar, mahasiswa, maupun komunitas literasi.
Selain membangun konsep fisik, tim juga menyiapkan strategi penyebaran gagasan melalui media digital. Mereka meluncurkan video edukatif, konten literasi bulanan di media sosial, hingga hasil kegiatannya dirilis di kanal YouTube. Konten ini diharapkan mampu menjangkau masyarakat luas, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pemerintah daerah, sehingga pesan literasi bisa menyebar dengan cepat dan berkelanjutan
Menurut dosen pendamping, Ibu Chindy Elsanna Revadi S.T., M.T., proyek ini adalah bentuk nyata bagaimana mahasiswa bisa memadukan kreativitas, riset, dan kepedulian sosial. “Literacy Catalyst Building bukan sekadar bangunan atau konsep futuristik, melainkan upaya membangkitkan kembali budaya membaca yang mulai tergerus oleh arus digitalisasi. Dengan pendekatan biofilik dan integrasi teknologi, kami ingin literasi terasa lebih dekat, menyenangkan, sekaligus relevan bagi generasi muda,” ungkapnya.
Proyek ini juga berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 4 (pendidikan berkualitas), SDGs 9 (inovasi dan infrastruktur), dan SDGs 11 (kota dan komunitas berkelanjutan). Lebih dari sekadar proyek PKM, Literacy Catalyst Building diharapkan menjadi fondasi dalam membangun kembali budaya literasi bangsa menuju Visi Indonesia Emas 2045.
“Kami percaya bahwa revitalisasi perpustakaan berbasis teknologi adalah langkah strategis untuk membangun generasi pembelajar yang siap menghadapi masa depan,” pungkas Abdillah Sani Lubis, salah satu anggota tim PKM yang terlibat dalam pengembangan gagasan perpustakaan futuristik tersebut.
Artikel ini adalah publikasi tugas PKM dengan Dosen Pembimbing Ibu Chindy Elsanna Revadi S.T., M.T.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment