SUARA USU
Kabar SUMUT

Mahira Dinabila, Sosok Hingga Kejanggalan dalam Kematian

Reporter: Siti Annisa / Anna Fauziah Pane

Suara USU, Medan. Mahira Dinabila atau yang akrab disapa Ira adalah seorang mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU stambuk 2022.

Mahira sendiri telah lulus dari bangku SMA pada 2021 lalu. Dirinya sempat gap year satu tahun dan bekerja di tempat kerja almarhumah ibu angkatnya, sebelum kemudian mengikuti UTBK dan resmi menjadi mahasiswa pada 2022.

Mahira memiliki tekad kuat untuk berkuliah. Diduga Mahira memerlukan data dan dana dari ayah angkatnya untuk bisa berkuliah. Hingga Mahira memutuskan untuk kembali tinggal bersama ayah angkatnya. Akhirnya, tinggallah Mahira di Perumahan Rivera, Amplas, yang merupakan TKP.

Berdasarkan penuturan keluarga dan teman terdekatnya, Mahira merupakan anak yang baik, pekerja keras, ambisius, pintar, pendiam dan baik yang dalam artian tidak pernah mengeluh. Hal tersebut dibuktikan dari giatnya dia dalam meraih kelulusan UTBK USU di tahun 2022.

“Kami saja tidak tau kalau dia daftar ke USU ini, tiba-tiba dapat kabar dia sudah lulus saja di FISIP USU. Itu pun kami tau nya dari story Whatsapp nya dia (Mahira). Kami ucapkan selamat ke dia (Mahira) dan kami rasa bangga sekali sama dia, dengan hasil kerja kerasnya dan tanpa banyak omong gitu,” ungkap Aie yang merupakan tante Mahira dari ibu angkatnya.

Mahira merupakan orang yang tidak mau merepotkan orang lain. Dikenal baik dan aktif dalam dunia perkuliahan. Terlihat ketika bertanya ke dosen dan saat melakukan praktek yang mengharuskan untuk ngobrol dengan masyarakat.

“Awal kenal Mahira tuh orangnya pendiam sampe ngira pasti anaknya gabakal asik nih, tapi ternyata ceria banget anaknya. mahira juga good listening bintang 5,” ungkap I selaku teman Mahira di kampus.

I juga mengatakan, Mahira sangat menjaga privasi tentang kehidupannya tetapi Mahira pernah cerita tentang sosok papa angkatnya yang digambarkan sebagai orang yang baik dan penyabar.

Mahira ditemukan meninggal di kediamannya di Kompleks Rivera, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, pada Rabu (3/5). Saat ditemukan, kondisi jasad Mahira dalam keadaan kepala sudah menjadi tengkorak yang gosong terbakar, tetapi bagian tubuh masih utuh serta kaki patah.

Terdapat beberapa kejanggalan pada kematian almarhumah. Jasad almarhumah ditemukan di rumah tkp dengan kondisi rumah terkunci dari luar, tetapi motor dan kucing peliharaan Mahira berada di luar rumah. Menurut penuturan tante Mahira, rumah tersebut tidak bisa dijangkau/dikunci dari dalam ke luar. Sudah pasti harus ada yg menguncinya dari luar.

Kemudian adalah penemuan surat dan pena yang terletak rapih. Yang menjadi kejanggalan adalah tulisan di surat tersebut berbeda jauh dengan tulisan tangan Mahira.

Selain itu, kosakata yang digunakan juga tidak seperti kosakata yang biasa digunakan almarhumah. “Ira nggak pernah membahasakan dirinya ‘aku’ pasti ‘Ira’ terus juga dia nggak pernah manggil bapak, dia panggil papa,” tutur Aie, yang juga ada di TKP pada 3 Mei lalu.

Kejanggalan lain adalah penemuan cat rambut yang diduga milik orang lain. Cat rambut tersebut berada di dapur, dekat dengan jasad. Menurut penuturan tante dan temannya, Mahira sendiri tidak pernah mengecat rambutnya.

Mahira terakhir berhubungan dengan keluarga tantenya melalui WhatsApp pada 22 April dalam suasana lebaran. Kemudian ponsel Mahira tidak pernah aktif lagi sampai ditemukan pada 3 Mei lalu.

Berdasarkan latar belakang keluarga Mahira Dinabila. Saat umur 4 bulan, Mahira diadopsi oleh orang tua angkatnya yang diambil dari adik perempuan kandung pihak ayah angkatnya. Diketahui, Mahira adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara (kandung).

Sepanjang hidupnya bersama orang tua angkatnya, Mahira dan ibu angkatnya kerap mendapatkan perlakuan kasar hingga kekerasan dari ayah angkatnya. Pada tahun 2016, orang tua angkat Mahira bercerai dan rumah di Rivera tersebut jatuh ke tangan ibu angkat Mahira sesuai pada berkas perceraian.

Seusai itu Mahira memutuskan hidup dan tinggal bersama Ibu angkatnya. Namun, pada tahun 2020 sang Ibu meninggal dunia lalu Mahira melanjutkan hidup bersama keluarga Ibu angkatnya selama 1,5 tahun. Sebelumnya, rumah di Rivera tersebut sudah menjadi milik Mahira sesuai dengan permintaan ibu angkatnya dalam surat warisan (tidak bisa dipublikasikan).

Hingga saat ini, penyelidikan masih terus berjalan.

Redaktur: Taty Kristina


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Kota Medan Kembali Raih Piala Adipura, Bobby: Kolaborasi Pemerhati Lingkungan dan Sampah

redaksi

LBH Medan: Ada Penurunan Kualitas Mahasiswa dalam Perjuangan Bersama Rakyat

redaksi

Sekolah Pascasarjana USU Dampingi Pengembangan Ekowisata di Percut Sei Tuan Deli Serdang

redaksi