Home Kabar SUMUT Massa Aksi Kamisan di Medan Blokade Jalan dan Bakar Pos Polisi
Kabar SUMUT

Massa Aksi Kamisan di Medan Blokade Jalan dan Bakar Pos Polisi

Share
Dokumentasi: Suara USU

Reporter: Chairani

Suara USU, Medan. Aksi Kamisan Medan yang kembali menggelar aksi protes di Lapangan Merdeka pada Jumat (29/8), diwarnai kericuhan pada sore hari. Massa aksi yang sejak awal datang untuk menyuarakan dua tuntutan utama, yakni reformasi kepolisian dan pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), semakin membesar jumlahnya dan memanas seiring waktu.

Sekitar pukul 15.28 WIB, barisan demonstran kian padat. Mahasiswa, aktivis, buruh, hingga rombongan santri dari Labuhanbatu Utara (Labura) bergabung dalam aksi. “Kalau bisa, DPR dibubarkan. Lebih baik bubar,” teriak salah seorang santri dalam orasinya yang disambut riuh massa.

“Hak kita dirampas, kita tidak lagi ditindas tapi kita dilindas. Jangan pernah diam kawan-kawan, tetap bersuara. Menyuarakan hak-hak kita yang seharusnya kita dapatkan. Hanya ada satu kata, lawan!” seru salah satu orator perempuan dalam orasi di tengah blokade jalan.

Aksi yang awalnya berlangsung damai dipenuhi dengan berbagai ekspresi perlawanan. Sebuah puisi dibacakan untuk mengenang Affan Kurniawan, korban jiwa yang melibatkan aparat kepolisian. Selain itu, beberapa perwakilan bergantian menyampaikan orasi, seorang komedian perempuan turut tampil di hadapan massa, serta simbol perlawanan ditunjukkan dengan membawa tameng bergambar babi sebagai kritik terhadap institusi kepolisian.

Menjelang pukul 15.54 WIB, massa mulai memblokade jalan di sekitar Lapangan Merdeka. Mereka duduk bersama di tengah jalan sambil menyanyikan lagu Indonesia Pusaka.

Situasi berubah drastis saat aparat kepolisian tiba di lokasi. Pos polisi di simpang Jalan Balai Kota dirusak dengan lemparan batu, helm, dan bambu oleh massa yang bergabung di tengah aksi. Tidak hanya itu, pembakaran pos polisi juga terjadi, disertai pencopotan kamera CCTV yang terpasang di jalan tersebut. Bendera One Piece turut dikibarkan sebagai simbol perlawanan dan identitas gerakan.

Kerumunan sempat ricuh setelah beredar dugaan adanya intel di tengah massa. Sejumlah peserta terlihat mendorong dan meneriaki seseorang yang dicurigai sebagai penyusup. Meski situasi sempat menegang, massa diarahkan untuk tidak terprovokasi.

Hingga menjelang sore, massa masih bertahan di sekitar Lapangan Merdeka. Mereka terus menyuarakan tuntutan reformasi kepolisian dan pembubaran DPR dengan orasi bergantian, menyanyikan lagu Buruh Tani, dan mempertahankan blokade jalan.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.