
Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Fenomena burn out bukanlah sesuatu yang asing bagi para mahasiswa. Hal ini kerap terjadi dengan dilatar belakangi berbagai alasan. Ada yang karena memang tak memiliki jeda untuk istirahat karena padatnya kesibukan, ada juga yang diakibatkan karena terburu-buru dalam melakukan segala hal agar mendapatkan hasil lebih cepat, seolah-olah bersaing.
“Vienna” oleh Billy Joel adalah lagu dari album The Stranger yang dirilis pada tahun 1977. Lagu ini menasehati para pendengarnya untuk tak terlalu buru-buru mengejar kesuksesan, melainkan menikmati setiap proses yang hadir dalam kehidupan. Ajakan melangkah lebih perlahan dan jangan terlalu keras pada diri sendiri tersebut dituangkan Billy Joel dalam lirik berikut:
Slow down you crazy child
You’re so ambitious for a juvenile
Potongan lirik lainnya, penyanyi legendaris yang lahir pada tahun 1949 itu mengingatkan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Billy Joel menuangkan keyakinan bahwa setiap hal yang dilakukan dengan tergesa-gesa hanya akan menguras energi kita dalam lagu ini.
Where’s the fire, what’s the hurry about?
You better cool it off before you burn it out,
Tak hanya memiliki makna yang hangat, hal yang melatar belakangi Vienna diciptakan juga sesuatu yang menarik untuk diulas. Kisah Billy Joel tak pernah bertemu dengan ayahnya sejak perceraian orang tuanya merupakan sesuatu yang mendorong Billy Joel dalam menciptakan lagu penuh makna ini.
Vienna dalam lagu ini merupakan metafora untuk usia tua. Usia tua sering dianggap sebagai akhir dari segalanya. Banyak orang yang yakin bahwa menginjak usia senja, maka tak banyak hal mengagumkan yang bisa dicapai dan kegiatan produktif yang bisa dilakukan. Dalam lagu ini, Billy Joel meyakinkan bahwa usia tua tak menghalangi seseorang untuk terus berkontribusi di tengah-tengah masyarakat.
Penggunaan Vienna sebagai metafora usia tua dimulai dengan kisah mengharukan ketika Billy Joel yang bertemu kembali dengan ayahnya di Vienna saat melakukan tur pertamanya. Ketika keduanya berjalan-jalan disana, ayah Joel mengatakan, “Tidak, dia punya pekerjaan. Dia merasa berguna. Dia punya tempat di masyarakat kita.” Sewaktu Billy Joel remaja merasa kasihan dengan seorang wanita tua yang menyapu di jalan.
Ternyata ucapan sang ayah bagaikan sihir yang mampu menggerakkan kreativitas Billy Joel. Ia kemudian menuangkan setiap memori tersebut dalam sebuah lagu yang berjudul Vienna. Kisah sedih dan haru, metafora yang begitu hangat, nasehat untuk melangkah lebih perlahan, dan ajakan untuk lebih menghargai diri sendiri membungkus lagu Vienna dengan sangat baik.
But you know that when the truth is told
That you can get what you want
Dinamika dalam hubungan Billy Joel dan sang ayah menjadi salah satu contoh nyata bahwa ketika sudah waktunya, setiap hal yang memang selayaknya menjadi milik kita akan kita dapatkan.
Kisah menarik lainnya yang mendorong Billy Joel menciptakan lagu ini adalah kejenuhannya sendiri. Meniti karier sejak usia muda, ternyata tak membuat Billy Joel terus merasa senang akan pencapaian yang ia peroleh. Perasaan tertekan untuk mempertahankan karier dan ketenarannya ternyata menggerogoti Joel di usia 28 tahunnya. Lagu ini menjadi pengingat bagi diri Joel sendiri bahwa tak apa mengambil jeda sejenak dan kembali melangkah setelahnya.
Mahasiswa dengan segala pergumulannya terkadang merasa penting untuk bersaing dengan orang lain. Tak sadar, hal tersebut membuat mereka letih akan sesuatu yang terus mereka paksa dan tuntut untuk diri mereka sendiri. Nyatanya, bukan masalah besar untuk memiliki proses yang berbeda dengan orang lain karena setiap orang tidak memiliki garis permulaan yang sama. Mengambil jeda sejenak di tengah-tengah jalan yang panjang pun bukanlah suatu masalah.
Gagal bukanlah akhir. Usia tua bukanlah akhir. Langkah lambat yang tak sama dengan milik orang lain bukanlah akhir. Berjalan di tempat yang berbeda, tak berarti salah jalan. Seperti makna yang dituangkan oleh Billy Joel dalam lagu Vienna, tak apa untuk melambatkan langkah dan menikmati hidup. Tak apa untuk melakukan setiap hal secara perlahan.
Redaktur: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment