
Oleh: Alicia Reylina, Aisha Tri Rahmayuni, Yobel Pascal Zebua, Deva Junita Graciela Simanjuntak, Rozinah Indah Priyanti, Gabriel Hans Valentino Westenberg Munthe, Rossa Apriana
Suara USU, Medan. Di tengah maraknya bisnis kopi yang menjamur di Kota Medan, ada satu nama UMKM berhasil menarik perhatian bukan hanya karena produk yang ditawarkan, tetapi juga karena nilai edukatif dan sosial yang diusungnya. KEDERA Coffee & Beverages, singkatan dari “Kede Rakyat,” berdiri sejak tahun 2019 sebagai respons terhadap terhentinya Medan International Coffee Festival (MICF) akibat pandemi. Didirikan oleh Ahmad Luthfi Hutasuhut, UMKM ini memosisikan diri bukan hanya sebagai tempat minum kopi, tetapi juga sebagai pusat pelatihan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya kopi lokal.
Berbasis di Jalan Rakyat No.123, Medan Perjuangan, KEDERA hadir dengan konsep unik, yakni menggabungkan bisnis Business-to-Business (B2B) yang memasok kopi ke hotel-hotel dengan aktivitas edukatif seperti pelatihan barista dan tempat uji kompetensi (TUK). Meskipun bukan fokus utama, KEDERA tetap memiliki mini café sebagai representasi fisik dan sarana interaksi langsung dengan konsumen, khususnya generasi muda yang sedang magang maupun peserta pelatihan.
Dalam dunia pemasaran modern, eksistensi merek tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Seperti yang dikemukakan oleh Brodie et al. (2011), customer engagement adalah suatu kondisi psikologis yang muncul dari pengalaman interaktif dan ko-kreatif antara pelanggan dan suatu merek. Sementara Strauss dan Frost (2014) menyatakan bahwa keterlibatan pelanggan dibentuk dari tiga pilar utama, yakni content engagement, media engagement, dan engagement marketing activities. Ketiganya menjadi fondasi strategi KEDERA dalam membangun kedekatan dengan audiens, baik secara daring maupun luring.
Dari sisi konten, KEDERA rutin membagikan berbagai aktivitas harian di kedainya melalui media sosial. Konten-konten seperti proses pembuatan kopi, suasana kedai, promosi “beli satu gratis satu”, hingga edukasi seputar dunia kopi menjadi bahan utama dalam membangun koneksi emosional dengan audiens. Menariknya, dalam pengelolaan konten ini, KEDERA melibatkan siswa-siswa PKL dari berbagai SMK dan perguruan tinggi di Medan. Selain memberikan ruang praktik nyata bagi pelajar, langkah ini memperkaya sudut pandang konten yang dibuat dan memberikan nuansa yang lebih segar dan otentik di setiap unggahan mereka.
Dalam hal pemanfaatan media, KEDERA menunjukkan pendekatan yang adaptif terhadap tren digital. Di Instagram, mereka menonjolkan kualitas visual dan dokumentasi event. Di TikTok, mereka memproduksi konten video singkat edukatif yang menjelaskan cara penyajian menu spesial atau cerita di baliknya. Sedangkan di Facebook, mereka membangun hubungan dengan komunitas yang lebih luas dan beragam. Pemanfaatan media yang tepat sasaran ini memperkuat citra KEDERA sebagai brand yang responsif dan inklusif terhadap berbagai segmen pelanggan.
Tak kalah penting, aktivitas engagement marketing menjadi senjata andalan KEDERA dalam mempertahankan keterlibatan pengikutnya. Misalnya, dengan memanfaatkan fitur Instagram Stories, KEDERA menggelar sesi tanya-jawab (Q&A) seputar minuman favorit atau ide menu baru, sehingga pelanggan merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Di dunia nyata, KEDERA juga aktif menggelar workshop seperti pelatihan latte art dan edukasi biji kopi. Kegiatan ini tidak hanya membangun loyalitas, tetapi juga menguatkan identitas mereka sebagai pelopor edukasi kopi lokal. Partisipasi dalam event bazar dan pameran UMKM semakin menegaskan positioning mereka di tengah komunitas.
Semua strategi yang diterapkan oleh KEDERA membuktikan bahwa customer engagement bukanlah sekadar jargon pemasaran, tetapi investasi hubungan jangka panjang antara merek dan pelanggan. Melalui kombinasi konten yang autentik, pemilihan platform media yang tepat, dan kegiatan interaktif yang bermakna, KEDERA tidak hanya membangun audiens, tetapi juga komunitas yang tumbuh bersama.
Dengan semakin luasnya jangkauan digital dan meningkatnya kompetisi di industri kopi, KEDERA menjadi contoh nyata bagaimana UMKM lokal bisa unggul bukan karena modal besar, melainkan karena nilai yang dibawa dan keterlibatan emosional yang dibangun dengan konsumennya.
Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Marketing Management dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment