SUARA USU
Opini

Membunuh Bahasa Sendiri

Oleh: Misuki Awanda

SUARA USU, Medan – Bahasa sebagai alat untuk interaksi antar manusia dalam masyarakat memiliki sifat social, yaitu pemakaian bahasa digunakan oleh setiap lapisan masyarakat. Bahasa bukan hal individual yang hanya dapat dipakai dan dipahami oleh penutur saja akan tetapi, pemakaian bahasa akan lebih tepat bila antara penutur dan mitra tutur saling memahami makna tutur. Sebagai masyarakat Indonesia tentunya kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat komunikasi dan mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Namun, pemakaian Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari mulai bergeser digantikan oleh pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul dan beriringan dengan munculnya tren baru seperti bahasa anak jaksel yang identik dengan mencampur Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris, interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan Bahasa Indonesia dalam situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar. Lalu apakah kita perlu khawatir dengan penggunaan bahasa gaul yang juga sejalan dengan adanya bahasa anak jaksel?

Seperti yang kita tahu, zaman dahulu kelas menengah memakai bahasa campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda untuk mempertegas status sosial sebagai orang terdidik dan luas pergaulan. Namun sekarang, hal itu kembalo terjadi. Seperti candaan “anak jaksel”, ini fenomena sosial pada kelas menengah keatas yang tujuannya pun masih sama yaitu ingin memperlihatkan kepada khalayak ramai bahwa dirinya adalah orang yang berpendidikan dan luas pergaulan dengan harapan orang dapat melihat itu dari bahasa yang ia gunakan. Namun, apakah itu menjadi masalah? Tidak, bukan merupakan suatu kesalahan ketika seseorang berharap orang lain berfikir bahwa dirinya mempunyai intelektualitas yang lebih tinggi ketika seseorang tersebut menggunakan bahasa campuran, tetapi ada konteks yang harus kita tahu untuk menyeimbangkan kapan dan dimana kita dapat menggunakan bahasa campuran tersebut.

Dikutip dari laman berita BBC Indonesia, seorang pakar linguistik Universitas Indonesia, Bernadette Kushartanti, berpendapat bahwa ini adalah risiko kontak bahasa,“hal ini tidak bisa dihindari karena memang ada interaksi setiap bahasa, ada bahasa inggris, bahasa arab, bahasa korea, bahasa gaul, bahasa macam macam yang membuat perkembangan bahasa seperti ini tidak bisa dihindari,” ungkap Bernadette.

“Saya tidak mengatakan bahwa ini tidak mengkhawatirkan, tapi kita harus melihatnya dari dua sisi.” Bernadette bermaksud bahwa dua sisi itu adalah dimana disatu sisi kita membutuhkan cara untuk tetap mengungkapkan bahasa dengan benar, tapi disisi yang kedua bahasa juga punya fungsi, kalau terlalu formal maka pada situasi tertentu kita akan menjadi terasing dan itu membuat kita merasa tidak dekat dengan siapapun, akibatnya tidak ada kata akrab sesama teman atau dengan lawan bicara .

 

Berbicara tentang keakraban berarti berbicara tentang tujuan lahirnya bahasa gaul itu ada, bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun waktu tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Jadi, soal mengkhawatirkan atau tidak itu dapat dilihat dari konteks nya, pada saat kapan seseorang harus menggunakan bahasa formal dan pada saat kapan seseorang harus menggunakan bahasa gaul yang dicampur dengan bahasa asing, akan mengkhawatirkan ketika bahasa gaul digunakkan didalam ragam formal dan mereka tidak bisa membedakan konteks ragam bahasa tersebut, tetapi dibalik itu semua generasi muda seperti remaja harus mempunyai pengetahuan bahasa dengan struktur yang rapi. dengan mempunyai pengetahuan bahasa tersebut yang namanya “Membunuh Bahasa Sendiri” itu mungkin tidak akan terjadi, karena selain kita bisa membedakan konteks pemakaian kita juga punya bekal pengetahuan bahasa yang rampung dan kekhawatiran soal bahaya adanya bahasa gaul dapat merusak bahasa indonesia sebagai identitas Negara tidak akan terjadi.

Lalu timbul pertanyaan “apa pengaruh bahasa gaul bagi perkembangan bahasa indonesia sebagai identitas bangsa?” Nah, kalau berbicara soal pengaruh bahasa gaul bagi indonesia dikutip dari Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB 2015 ada beberapa pengaruh diantaranya yaitu :

  1. Eksistensi Bahasa Indonesia Terancam Terpinggirkan Oleh Bahasa Gaul seperti yang kita tahu bersama bahwa Aktivitas berbahasa sangat erat kaitannya dengan budaya sebuah generasi. Kalau generasi negeri ini kian tenggelam dalam pudarnya bahasa Indonesia yang lebih dalam, mungkin bahasa Indonesia akan semakin sempoyongan dalam memanggul bebannya sebagai bahasa nasional dan identitas bangsa. Dalam kondisi demikian, diperlukan pembinaan dan pemupukan sejak dini kepada generasi muda agar mereka tidak mengikuti pembusukan itu.
  2. Menurunnya Derajat Bahasa Indonesia, mengapa hal ini bisa terjadi? Karena bahasa gaul yang begitu mudah untuk digunakan berkomunikasi dan hanya orang tertentu yang mengerti arti dari bahasa gaul, maka remaja lebih memilih untuk menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari. Sehingga bahasa Indonesia semakin pudar bahkan dianggap kuno di mata remaja dan juga menyebabkan turunnya derajat bahasa indonesia.
  3. Menyebabkan punahnya Bahasa Indonesia, Penggunaan bahasa gaul yang semakin marak di kalangan remaja merupakan sinyal ancaman yang sangat serius terhadap bahasa indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Sehingga tidak dapat dipungkiri suatu saat bahasa Indonesia bisa hilang karena tergeser oleh bahasa gaul di masa yang akan datang.

 

Nah, sebagai generasi bangsa yang berintelektualitas, kita sebagai remaja yang memegang peran untuk kemajuan bangsa di generasi selanjutnya harus mampu untuk menyesuaikan penggunaan bahasa tersebut untuk tetap menjaga eksistensi bahasa dimasa masa yang akan datang dan menjaga bahasa indonesia tetap menjadi identitas bangsa yang kita banggakan bersama. Ayo cerdas berbahasa, karena bangsa butuh kita untuk tetap menjaga bahasa indonesia yang sessunggunya.

 

Redaktur: M.Wirayudha Azhari Lubis


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Wajibkah Mahasiswa Berperan Sebagai Agent Of Change?

redaksi

Terjebak Malasitis, Ancaman Lupa Materi Kuliah bagi Mahasiswa?

redaksi

Personal Branding bagi Mahasiswa, Pencitraan?

redaksi