Home Musik Menemukan Arti Penerimaan dalam Ketidakpastian Lewat Lagu “Que Sera, Sera”
Musik

Menemukan Arti Penerimaan dalam Ketidakpastian Lewat Lagu “Que Sera, Sera”

Share

Oleh: Dinda Sri Aulia

Suara USU, Medan. Masa depan selalu menyimpan pertanyaan yang tidak seluruhnya dapat dijawab. Sejak kecil, manusia membayangkan akan menjadi apa dirinya kelak, menjalani kehidupan seperti apa, dan ke mana langkahnya akan membawa. Namun, semakin dewasa, pertanyaan tersebut semakin kompleks karena tidak semua hal dapat direncanakan. Gagasan tentang ketidakpastian tersebut tergambar dalam Que Sera, Sera (Whatever Will Be, Will Be), lagu yang dipopulerkan oleh Doris Day.

Que Sera, Sera dirilis pada 21 Mei 1956 dan diciptakan oleh Jay Livingston dan Ray Evans. Lagu tersebut diperkenalkan melalui film garapan Alfred Hitchcock, The Man Who Knew Too Much, yang juga dibintangi oleh Doris Day. Pada tahun yang sama, lagu ini menerima Academy Award for Best Original Song. Frasa qué será, será yang digunakan sebagai judul berasal dari bahasa Spanyol dan secara umum dimaknai sebagai “apa yang akan terjadi, terjadilah”.

Ungkapan tersebut menjadi inti pesan lagu tentang penerimaan terhadap hal-hal di masa depan yang tidak dapat diketahui atau dikendalikan. Namun, maknanya tidak sekadar pasrah. Lagu ini juga menggambarkan bagaimana manusia tetap menjalani kehidupan meskipun tidak memiliki kepastian mengenai apa yang akan terjadi.

Que Sera, Sera menggambarkan perjalanan hidup melalui tiga tahap, yakni masa kanak-kanak, dewasa, hingga ketika seseorang telah memiliki keluarga. Pada setiap tahap, pertanyaan tentang masa depan muncul dalam bentuk yang berbeda.

Pada bagian awal, seorang anak bertanya kepada ibunya mengenai kehidupannya ketika dewasa. Kepolosan tersebut tergambar melalui keinginan untuk mengetahui seperti apa dirinya kelak.

When I was just a little girl,

 I asked my mother, what will I be?

 Will I be pretty? Will I be rich?”

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa rasa ingin tahu terhadap masa depan telah muncul sejak masa kanak-kanak. Bagi seorang anak, masa depan terlihat sebagai sesuatu yang belum diketahui dan membutuhkan jawaban dari orang yang lebih dewasa.

Ketika tumbuh dewasa dan mengenal cinta, pertanyaan tersebut kembali muncul dengan konteks yang berbeda. Masa depan tidak lagi hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga hubungan dan kehidupan yang ingin dibangun bersama orang lain.

“When I grew up and fell in love,

I asked my sweetheart, what lies ahead?

 Will we have rainbows day after day?”

Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa bertambahnya usia tidak menghilangkan keinginan manusia untuk mengetahui hari esok. Justru, semakin banyak hal yang dijalani, semakin banyak pula kemungkinan yang ingin dipastikan.

Namun, tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Di sinilah ungkapan Que Sera, Sera menjadi jawaban sekaligus bentuk penerimaan terhadap ketidakpastian.

“Que sera, sera.

Whatever will be, will be.

The future’s not ours to see.

Que sera, sera.”

Pesan tersebut tidak berarti manusia harus berhenti membuat rencana atau berusaha. Manusia tetap dapat menentukan tujuan dan memperjuangkan keinginannya, tetapi perlu menyadari bahwa hasil akhirnya tidak selalu berada dalam kendali. Penerimaan menjadi cara untuk menghadapi kenyataan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Narasi kemudian bergerak ke tahap ketika tokoh utama telah memiliki anak. Pertanyaan yang dahulu ia ajukan kepada ibunya kini kembali muncul dari generasi berikutnya.

“Now I have children of my own,

They ask their mother, what will I be?

Will I be handsome? Will I be rich?”

Bagian tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan tentang masa depan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Posisi seseorang pun berubah, dari anak yang mencari jawaban menjadi orang tua yang harus memberikan ketenangan.

Perjalanan tersebut membuat Que Sera, Sera tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi juga tentang perubahan manusia dalam menghadapi kehidupan. Masa depan yang dahulu ingin diketahui perlahan menjadi sesuatu yang dipahami tidak selalu dapat dipastikan.

Kesederhanaan pesan tersebut diperkuat oleh musik yang ringan dan mudah diingat. Lagu ini tidak menghadirkan ketidakpastian dengan suasana yang berat, tetapi melalui melodi yang hangat sehingga pesannya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada 2008, lagu tersebut juga digunakan dalam iklan semen Holcim di Indonesia, memperlihatkan bahwa Que Sera, Sera kembali hadir dalam konteks budaya populer di Indonesia.

Bagi mahasiswa, pesan lagu ini terasa dekat dengan fase kehidupan yang sedang dijalani. Masa perkuliahan sering kali diikuti pertanyaan mengenai karier, pekerjaan, pencapaian, hingga kehidupan setelah lulus. Keinginan untuk segera memiliki jawaban terkadang membuat masa depan terasa seperti sesuatu yang harus sudah ditentukan.

Padahal, merencanakan masa depan tetap dapat berjalan berdampingan dengan penerimaan terhadap ketidakpastian. Mahasiswa dapat terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan menentukan arah yang ingin dituju tanpa harus memaksa seluruh perjalanan hidup memiliki jawaban sejak sekarang.

Pada akhirnya, Que Sera, Sera mengajak pendengarnya untuk tetap berusaha sambil memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Masa depan mungkin belum memiliki jawaban, tetapi ketidakpastian tersebut bukan alasan untuk berhenti menjalani hari ini.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.