
Oleh: Adzra Ashila, Rafiqah Aisyah, Amanda Dwi Nadya Lesmana, Jessica Margaret Sitanggang, Avrilliant Salsabila, Arya Ibrahim Siregar, Yohan William Silalahi
Suara USU, Medan. Industri tenun merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Sebagai salah satu bentuk kearifan lokal, tenun tidak hanya menjadi komoditas ekonomi tetapi juga merepresentasikan identitas budaya masyarakat Indonesia. Perkembangan kain tenun selama beberapa tahun ini sungguh pesat, dilihat dari banyaknya perlombaan dan juga fashion show yang mengusung tema tentang kain tradisional, maka kain tenun pun paling banyak ditampilkan. Hal ini membuat kita sadar bahwa kain tenun Indonesia sudah sangat melekat dengan kain tradisional yang sudah sangat tua namun tetap eksis hingga saat ini. Dengan mengimplementasikan konsep pemasaran yang strategis, seperti Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP), dapat menjadi alat yang efektif bagi pelaku usaha untuk mengidentifikasi pasar potensial, menetapkan target yang sesuai, dan memperkuat posisi produk pada UMKM, hingga dapat menjangkau konsumen dengan lebih efisien dan menghadapi persaingan dengan cara yang lebih terarah.
Dalam industri tekstil tradisional yang penuh nilai budaya dan persaingan, UMKM Tor Rose Tenun Khas Karo berhasil mencuri perhatian dengan strategi pemasaran berbasis Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP). Berdiri sejak 2015, usaha yang berlokasi di Komplek Citra Garden, Jl. Jamin Ginting ini memproduksi dan menjual kain tenun khas Karo dengan desain eksklusif yang diproduksi langsung oleh para penenun lokal.
Strategi STP Torose Tenun
Dalam mengumpulkan data-data terkait penelitian strategi STP yang diterapkan oleh Torose Tenun, kami melakukan wawancara dengan karyawan Torose Tenun sebagai objek mengenai strategi STP.

Pertama, Segmenting: Pasar Lokal hingga Nasional
Hasil wawancara dengan pihak internal, khususnya karyawan bernama Kak Sandia, menunjukkan bahwa Torose Tenun telah menerapkan segmentasi yang komprehensif: geografis, demografis, psikografis, dan perilaku.
- Geografis: Meski Torose Tenun berlokasi di Medan, pembeli produk ini berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, hingga Depok. Promosi digital melalui Instagram, WhatsApp, dan marketplace juga mendukung jangkauan ini.
- Demografis: Pelanggan berasal dari berbagai rentang usia, mulai dari remaja hingga lansia. Namun, dominasi konsumen lansia cukup signifikan, terutama perempuan yang ingin tampil dalam acara adat Karo.
- Psikografis: Mayoritas pembeli memiliki karakteristik menghargai budaya, menyukai produk lokal, dan mengutamakan kualitas. Banyak dari mereka penasaran melihat produk secara langsung setelah mengenalnya lewat media sosial.
- Perilaku: Produk Torose umumnya dibeli untuk keperluan pesta, duka cita, hingga acara adat lainnya. Tingkat loyalitas pelanggan tinggi, terlihat dari antusiasme terhadap produk baru yang sering diminta langsung via chat.
Kedua, Targeting: Fokus pada Segmen Responsif dan Bernilai Budaya
Dalam targeting, Torose menerapkan pendekatan diferensiasi bertingkat. Produk ditawarkan untuk semua kalangan usia, namun strategi difokuskan pada pelanggan lansia yang membeli produk untuk keperluan adat, karena mereka cenderung loyal dan menghargai makna budaya dari setiap motif tenun.
Kriteria pemilihan target mencakup:
- Responsif : Konsumen cepat merespons produk baru dan memberikan feedback positif.
- Potensi Penjualan : Menyasar kalangan menengah ke atas yang bersedia membeli kain seharga hingga 5 juta rupiah per set.
- Pertumbuhan : Pasar yang berkembang secara stabil, terutama melalui peningkatan interaksi di platform digital.
- Jangkauan Media : Penggunaan media sosial seperti Instagram, Shopee, TikTok, dan WhatsApp menjadi senjata utama Torose dalam menjangkau konsumen yang lebih luas.
Ketiga, Positioning: Produk Bernilai Budaya, Harga Bersahabat
Torose Tenun memposisikan dirinya sebagai penghasil produk tenun khas Karo yang eksklusif namun tetap terjangkau, dengan kualitas terjamin dan motif yang tidak tersedia di pasaran umum. Menurut keterangan informan, keunikan motif dan keterlibatan langsung penenun menjadikan setiap produk limited edition yang tidak hanya estetik, tetapi juga penuh makna.
Pelanggan tak sekadar membeli kain, tetapi juga membawa pulang warisan budaya yang bisa diturunkan kepada anak cucu. Inilah nilai lebih yang membedakan Torose Tenun dari kompetitornya. Seperti yang dikatakan karyawan Torose
“Karena kami memiliki motif yang limited tidak pasaran, tidak seperti pesaing lain dan kualitas produk hingga motif yang kami berikan berbeda dari yang lain. Kain tenun ini juga banyak digemari salah satunya karena ini merupkan aset bagi mereka untuk anak cucu karena nilai jualnya juga yang cukup tinggi.” Tutur Sandia.
Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Marketing Management dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si dan Ummi Salamah Sitorus, S.AB., M.M
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment