
Oleh: Fatimah Roudatul Jannah
Suara USU, Medan. Kanker merupakan salah satu jenis penyakit yang terjadi akibat tumbuhnya sel tertentu di dalam tubuh dengan jenis pertumbuhan yang tidak normal dan tidak terkendali. Menurut Wold Health Organization (WHO), yang melalukan penelitian melalui lembaga riset kanker International Agency for Research on Cancer (IARC) menghadirkan data estimasi yang menunjukkan kepastian akan beratnya beban kanker bagi dunia. Penyebaran penyakit kanker yang semakin masif, juga telah sampai di Indonesia dengan beragam kasus dan upaya penanganan yang terus dikembangkan. Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), data Global Cancer Observatory pada tahun 2022 menunjukkan, bahwa Indonesia telah mengalami 408.661 kasus kanker baru dengan angka kematian mencapai 242.099 atau lebih dari 50% dari total kasus secara keseluruhan. Menambahkan informasi tersebut, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa jumlah kasus kanker di Indonesia terus meningkat dan diprediksi melonjak hingga lebih dari 70% pada 2050 apabila langkah untuk mencegah maupun mendekteksinya tidak kunjung diperkuat.
Penyakit kanker juga sampai pada anak-anak usia 0-19 tahun, dengan menjadi salah satu kasus kanker yang saat ini semakin banyak terjadi di Indonesia. Setidaknya, telah terjadi sekitar 11.156 kasus kanker pada anak setiap tahunnya, dan dapat berpotensi terus berkembang jumlahnya seiring dengan waktu yag terus bergulir. Sayangnya, kasus kanker pada anak di Indonesia belum mendapat perhatian yang cukup di kalangan masyarakat. Kurangnya perhatian dan pengetahuan, menyebabkan penyakit kanker pada anak dapat terdeteksi cukup lama dan sudah mencapai stadium yang cukup tinggi saat terdeteksi. Para penderita kanker cilik ini juga tidak semuanya berasal dari keluarga yang berkecukupan dan mampu memenuhi kebutuhan pengobatan dan pengutana psikososialnya, sehingga adanya jembatan bantuan sangat diperlukan dalam proses pengobatannya.
Maka dari itu, Yayasan Pita Kuning hadir sebagai yayasan filantropi yang berkomitmen pada misinya untuk meningkatkan kualitas hidup dan pemberian layanan psikososial bagi anak-anak penderita kanker dari keluarga pra-sejahtera dengan mekanisme keanggotaan (membership). Layanan pendampingan oleh Yayasan Pita Kuning yang diberikan oleh para pekerja sosial bersertifikasi yang dihimpun dari lulusan D4/S1 Ilmu Kesejahteraa Sosial, merupakan satu-satunya pendampingan dengan pekerja sosial profesional bagi anak dengan kanker. Sampai saat ini, Pita Kuning telah menangani sekitar 50 anak dengan kanker yang tersebar di daerah Jabodetabek, DIY Yogyakarta, Bali, dan Medan. Dalam hal penanggulangan kanker, pengetahuan seputar pengobatan serta perawatan yang diberlakukan bagi anak dengan kanker di Pita Kuning merujuk pada Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN).

Perjalanan yayasan ini bermula dari tahun 2006 dengan terbentuknya suatu komunitas yang pada masanya fokus dalam penggalangan dana secara konvensional yang kemudian disalurkan ke salah satu rumah sakit kanker di Jakarta. Perkembangan komunitas yang mendapat semakin banyak perhatian dan kesadaran dari masyarakat maupun lembaga sekitar, pada akhirnya mengantarkan Pita Kuning menjadi suatu yayasan kanker anak yang resmi dan memulai aksi-aksi nyatanya dalam membantu menjaga dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak dari keluarga pra-sejahtera. Pengawas dan Pembina yayasan ini meliputi, Steny Agustaf dan Pandji Pragiwaksono selaku Pendiri dan Pembina, serta Indrodjojo Kusumonegoro sebagai pengawas yayasan.
Pita Kuning merupakan salah satu lembaga yang aktifitasnya secara menyeluruh ditujukan pada pemberdayaan dan pembangunan masyarakat yang menitikberatkan perhatiannya pada anak-anak dengan kanker di Indonesia. Yayasan ini sampai di Kota Medan pada tahun 2021 melalui perluasan wilayah layanan yang dilakukan, mengingat pertumbuhan kanker pada anak yang juga menyebar di berbagai wilayah selain daripada wilayah Jabodetabek.
Melalui program yang telah terstruktur dengan jelas, para pekerja sosial profesional yang terhimpun dalam Pita Kuning, melancarkan berbagai aktifitas bantuan yang meliputi beragam bentuk yang terencana. Biasanya, pekerja sosial melakukan pemantauan terhadap kondisi anak dengan kanker baik fisik maupun psikososialnya secara berkala, dengan juga melihat kebutuhan anak dengan kanker beserta keluarganya saat melakukan visiting rutin antara pekerja sosial dan anak. Terdapat pula pendampingan yang bersifat rekresional dengan didamping para relawan yang biasanya secara berkala dihimpun melalui rekrutmen terbuka oleh Pita Kuning. Bentuk pendampingan rekresional ini beragam, dapat berupa piknik yang diadakan ke taman bermain, atau sekadar jalan-jalan ke suatu tempat rekreasi. Dana yang terhimpun juga disalurkan dalam bentuk-bentuk fisik yang melengkapi kebutuhan anak-anak dengan kanker dalam proses pengobatan maupun perawatannya. Seperti misalnya, pemberian nutrisi bulanan, bantuan tempat tinggal yang dapat dipergunakan selama anak sedang melakukan pengobatan di rumah sakit, berikut juga transportasi menuju rumah sakit, kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan langsung dengan medis, bimbingan belajar mengajar, hingga aspek kedukaan seperti pengurusan jenazah maupun uang duka.
Sebagai salah satu relawan Pita Kuning yang bertempat di Medan, saya dapat melihat upaya dan perencanaan signifikan yang dihasilkan Pita Kuning untuk memastikan kualitas hidup anak-anak dengan kanker dapat terpenuhi dengan baik. Sejatinya, pendampingan oleh pekerja sosial terhadap anak dengan kanker adalah suatu kebutuhan yang hampir menyentuh ‘kebutuhan dasar’ mereka. Anak-anak ini, di usia yang masih sangat belia justru secara perlahan telah dihadapkan dengan pemahaman terkait penyakit yang ia derita dan mau tidak mau harus mengerti adanya batasan yang harus ditaati untuk menjaga imun tubuhnya tetap stabil. Meskipun demikian, hal tersebut tidak boleh menjadi penghalang yang memberi aura pesimis pada tumbuh kembang sang anak. Maka pendampingan pekerja sosial hadir membantu anak-anak ini untuk tetap menyadari bahwa kehidupan mereka adalah milik mereka, dengan segala kegemaran dan hobi yang sangat boleh mendapat ruang perkembangannya. Dengan tetap membiarkan anak-anak bertumbuh seperti halnya anak-anak seusianya, mereka akan mendapatkan pemahaman bahwa bermain dan belajar adalah dunia yang memang sudah selayaknya menjadi hak yang mereka terima.
Visiting yang dilakukan berkala juga dapat menumbuhkan keterikatan yang baik antara anak dengan pekerja sosial, begitupun antara orang tua sang anak dengan pekerja sosial. Pada dasarnya, orang tua dari anak dengan kanker adalah individu yang paling dekat dan menjadi bagian dalam pertumbuhan sang anak, sehingga memastikan kesiapan orang tua atau keluarga atas keadaan anaknya juga sangat penting agar sesi pengobatan dapat berlangsung dengan baik. Ditambah lagi dengan penyaluran nutrisi setiap bulannya, yang tidak hanya melibatkan pekerja sosial tetapi juga dengan menggaet partisipasi para relawan untuk ikut serta menjadi penyalur nutrisi bulanan ini, memberi relawan kesempatan untuk bertemu dan melihat keadaan anak dengan kanker bersamaan dengan terpenuhinya kebutuhan nutrisi sang anak. Bagi anak-anak yang tinggal jauh dari rumah sakit tempat mereka rutin dirawat, tersedia rumah yang dapat digunakan selama anak tersebut harus dekat dengan lokasi perawatan, sehingga memudahkan akses dengan bantuan atau perawatan yang diperlukan.
Para relawan di Medan, bersama salah seorang pendamping yang memang bertempat di Medan, beberapa kali melakukan campaign yang bertujuan untuk menyebarluaskan pengetahuan seputar kanker pada anak dan fakta bahwa leukimia adalah jenis kanker yang paling sering terjadi pada anak, kepada orang-orang di kawasan kegiatan dilangsungkan. Seperti misalnya kami melakukan pembagian setangkai bunga segar gratis dengan pesan yang digantung di batang bunganya, dengan menyasar anak-anak, orang tua, atau pasangan muda yang memiliki balita untuk diajak berbincang sejenak terkait kanker pada anak. Campaign semacam ini biasa dilakukan pada hari jadi yayasan maupun Hari Kanker Anak Sedunia yang berlangsung pada 15 Februari 2025 lalu.

Campaign pada Hari Kanker Anak Sedunia 2025
Melalui hadirnya Pita Kuning dan berbagai komunitas peduli kanker lainnya, sejatinya tujuan peningkatan kualitas kehidupan bagi anak-anak dengan kanker dapat terpenuhi dengan baik. Mendapat ruang bermain, bertemu dengan sesama penderita kanker sepertinya dan menjalin pertemanan, terpenuhi nutrisi yang dikonsumsi, hingga rekreasi yang meningkatkan perkembangan psikososialnya, merupakan bentuk-bentuk pengembangan yang berhasil diterapkan pekerja sosial dan para relawan terhadap anak dengan kanker. Penyebaran pengetahuan dan informasi-informasi penting menyangkut kanker juga merupakan bentuk kepedulian yang menumbuhkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat luas yang pada akhirnya dapat ikut andil menyalurkan bantuan dan lebih peduli terhadap kesehatan dirinya dan anak-anaknya dengan melakukan pemeriksaan sedini mungkin untuk mencegah kanker terlanjur menggerogoti tubuh. Tidak hanya kualitas hidup anak dengan kanker beserta keluarga pra-sejahteranya saja, tetapi secara tidak langsung Pita Kuning telah mengajak berbagai brand maupun perusahaan lokal untuk turut menyebarkan kesadaran dan kepedulian pada kalangan muda maupun masyarakat umum, yang sangat berarti bagi anak-anak dengan kanker.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD) dengan Dosen Pengampu Dr. Agus Suriadi, S.Sos., M.Si.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment