Home Sastra Menghapus Lara Bangsaku
Sastra

Menghapus Lara Bangsaku

Share

Oleh : Ega Sridewi Sipahutar

Senandika dalam jiwa,
Gelisah menyusup di setiap sudut asa.
Berita muram bertalu-talu,
Membawa lara yang tak kunjung berlalu.

Hatiku gundah, bertanya:
Apa kabar bangsaku?
Mengapa nestapa begitu erat menyelimuti?
Mengapa tawa direnggut tragedi?

Lihat si pendusta dengan wajah tebal,
Menabur keserakahan tanpa penyesalan.
Dimabuk harta, buta nurani,
Mengabaikan jerit rakyat kecil yang tertindih.

Manis lidah mereka,
Tikus-tikus berdasi beraksi lagi.
Manipulasi menjadi senjata,
Meraup harta rakyat, tak peduli luka bangsa.

Di pesisir, mereka menjalin kerja gelap,
Menyelundupkan barang-barang haram.
Lupa, bahwa negeri ini tengah merintih,
Tersandera oleh tangan-tangan yang tak kenal rasa malu.

Aku bertanya dalam hati,
Di mana akal sehat yang dulu pernah kita miliki?
Apakah nurani telah mati,
Sehingga bangsa ini terus didera derita?

Ekonomi kian melemah,
Produk lokal tak lagi dipandang megah.
Kemiskinan menjalar di setiap penjuru,
Bangsaku terkurung dalam lingkar pilu.

Lihatlah negeri ini,
Ia menangis meminta perhatian.
Lihatlah bangsa ini,
Ia menjerit menagih keadilan.

Ayolah, bangsaku!
Bangkitlah, jangan biarkan ia terus lara.
Kibarkan asa, torehkan cinta,
Jadikan negeri ini tempat yang penuh bahagia.

Mari bersatu, saling melengkapi,
Berjalan bersama, melindungi negeri.
Berantas korupsi, pikirkan rakyat kecil,
Dukung karya lokal untuk kejayaan ekonomi.

Hargai pencipta, junjung inovasi,
Tuangkan rasa simpati, cintai ibu pertiwi.
Percayalah, jika kita peduli,
Lara bangsa akan terhapus,
Dan senyum ibu pertiwi akan terbit kembali.

Redaktur : Grace Pandora Sitorus

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.