Home Tulisan Menilik Isu Pelecehan dan Eksploitasi Anak dalam Kacamata Hasan Al Banna pada Cerpen Tio Na Tonggi
Tulisan

Menilik Isu Pelecehan dan Eksploitasi Anak dalam Kacamata Hasan Al Banna pada Cerpen Tio Na Tonggi

Share
Sumber: Ruang Sastra

 

Oleh: Dewi Indah Kuswara, Dira Shafira Putri, Nabila Syafira Siregar, Margaretha Rose Venerini Sidabutar

Suara USU, Medan. Hasan Al Banna merupakan seorang sastrawan Sumatera Utara yang aktif menulis karya-karya sastra, khususnya pada cerpen dan esai. Salah satu cerpen karyanya berjudul “Tio na Tonggi” yang artinya Tio yang menggairahkan. Cerpen “Tio na Tonggi” karya Hasan Al Banna menggambarkan bagaimana pelecehan seksual dan eksploitasi terhadap anak diibaratkan seperti pohon aren yang terus menerus disadap. Perbandingan antara Tio dan pohon aren yang terus-menerus disadap bisa diartikan sebagai eksploitasi tubuhnya secara fisik dan emosional.

Bagian paling mengerikan dari cerpen ini adalah bagaimana sang ayah mulai melakukan pelecehan seksual terhadap Tio, anaknya. Awalnya ia selalu mengisahkan legenda “Pitta Borgot Nauli”, sebuah cerita tentang seorang anak perempuan yang berkorban demi kesejahteraan ayahnya, cerita ini ditanamkan kepada Tio sebagai konsep bakti terhadap orang tua.

Seiring waktu kondisi psikologis ayahnya semakin memburuk, dan pelecehan mulai terjadi. Sang ayah mulai menarasikan legenda “Pitta Borgot Nauli” untuk membentuk pemikiran bahwa pengorbanan total termasuk tubuhnya, adalah konsep bakti seorang anak. Tio dipaksa mengalami pelecehan seksual secara berulang yang secara simbolis digambarkan sebagai “penyadapan sumber nira” bagaimana tubuhnya dieksploitasi seperti pohon aren.

Tio bukan hanya korban fisik, tetapi juga korban simbolik. Tubuhnya diparalelkan dengan pohon aren yang harus terus “menangis” untuk bertahan hidup. Kalimat “air matanya bukan nira!” menjadi simbol yang menyedihkan, di mana Tio, seorang anak perempuan, dipaksa menjadi sumber penghidupan ayahnya dalam bentuk yang paling mengerikan.

Lebih dari itu, cara cerita ini membangun klimaksnya melalui metafora tuak na tonggi semakin menegaskan posisi Tio sebagai objek. Jika dalam adat Batak tuak na tonggi adalah minuman murni yang disajikan dalam ritual sakral, dalam cerpen ini istilah itu justru menjadi simbol eksploitasi. “Tio na tonggi” bukan lagi sekadar seorang anak, tetapi sesuatu yang dijual, sesuatu yang bisa “dinikmati.” Penyalahgunaan metafora ini membuat cerita terasa semakin brutal, karena bukan hanya tubuh Tio yang dikhianati, tetapi juga seluruh makna pengorbanan yang selama ini dijunjung tinggi dalam budaya Batak

Ketika ayahnya semakin terpuruk secara finansial, Tio dijadikan sumber daya terakhir yang dieksploitasi dan disamakan dengan pohon aren yang disadap hal ini terlihat pada kalimat terakhir cerpen, “Tunggu tuakku yang terbaik! Tuak na tonggi, tuak alami yang sedap lagi manis. Itulah Tio na tonggi, Tio yang menggairahkan, kawan”. Seperti pohon aren yang terus-menerus diambil manfaatnya sampai habis, Tio juga mengalami penderitaan yang terus-menerus tanpa ada kesempatan untuk bebas.

Ayah Tio adalah gambaran maskulinitas yang terjebak dalam kemiskinan. Sebagai seorang paragat bargot, ia kehilangan sumber mata pencahariannya seiring hilangnya pohon aren. Alih-alih mencari solusi lain, ia larut dalam keterpurukan dan beralih ke alkohol. Di titik inilah karakter ayah mengalami degradasi moral, dari pria pekerja keras menjadi predator yang memanfaatkan anaknya.

Namun, permasalahannya bukan sekadar pada tindakannya, tetapi bagaimana narasi membangun karakter ini dengan nada simpatik. Ia digambarkan sebagai pria yang putus asa, kehilangan arah, dan bahkan ditolak oleh perempuan-perempuan lain. Seolah-olah kondisi itu cukup untuk membangun alasan bagi perbuatannya. Dengan kata lain, cerpen ini, secara halus, berisiko memberikan ruang bagi pembenaran predator seksual berbasis penderitaan.

Alasan kami memilih cerpen ini sebagai objek kritik adalah karena isu yang diangkat cukup relevan dengan masalah yang ada di dunia nyata. Dimana pelecehan seksual dan eksploitasi terhadap anak masih sering terjadi di dunia nyata. Cerpen ini menggambarkan kondisi dimana anak tidak dapat melawan, dan hanya pasrah dengan apa yang ia alami. Hal ini terjadi karena sosok yang melakukan hal keji ini tak lain adalah keluarga korban sendiri.

Namun, sayangnya cerpen ini tidak memiliki akhir yang bahagia untuk korban. Cerpen ini memang menggambarkan Tio sebagai korban yang mutlak atau takdir, seolah sudah ditentukan. Tidak ada upaya perlawanan atau bantuan dari luar, yang memperlihatkan bagaimana korban sering kali tidak memiliki kekuatan untuk keluar dari situasi mereka. Kurangnya penyelesaian atau harapan bagi korban, yang bisa membuat cerita ini terasa terlalu pesimis tanpa ada jalan keluar. Cerita ini tidak memberikan solusi atau harapan bagi Tio, yang menunjukkan bagaimana korban sering kali terjebak dalam lingkaran penderitaan tanpa jalan keluar, seolah menormalisasikan pelecehan dan eksploitasi terhadap anak.

Dengan akhir yang terasa begitu memilukan, pembaca bisa saja berpikir bahwa apa yang terjadi pada Tio adalah hal yang mutlak serta memang sewajarnya terjadi. Padahal apa yang terjadi pada Tio bukanlah suatu hal yang wajar, melainkan melenceng dari norma yang ada. Meski tujuan penulisan cerpen ini baik karena menyinggung isu pelecehan dan eksploitasi, tapi penulis sayangnya tidak menekankan kepada pembaca bahwa apa yang terjadi di dalam novel adalah sesuatu yang salah.

Mungkin akan lebih baik jika cerpen ini menghadirkan setidaknya setitik harapan untuk Tio untuk berusaha melepaskan diri dari cengkraman eksploitasi. Penulis mungkin dapat menghadirkan tokoh perempuan seperti relawan murah hati yang nantinya akan membantu Tio dalam melawan tindak asusila yang dilakukan oleh ayahnya. Dengan begitu, pembaca pun dapat mengerti bahwa masalah yang dialami Tio bukan mustahil untuk diatasi, serta dapat memberikan pesan moral yang menyegarkan pula.

Tio na Tonggi adalah cerpen yang kuat secara emosional, tetapi bermasalah secara etis. Ia menyampaikan pesan tentang keterpurukan ekonomi yang bisa berujung pada kehancuran moral, tetapi pada saat yang sama, ia juga berisiko menggiring pembaca untuk melihat eksploitasi anak sebagai bagian dari keputusasaan.

Sebagai karya sastra, cerpen ini memang berhasil membangun ketegangan dan tragedi yang menggugah, tetapi secara moral, ia gagal memberikan ruang bagi perlawanan. Tio tidak diberi kesempatan untuk melawan atau setidaknya keluar dari nasibnya. Cerita ini tidak mengkritik pelaku, tetapi justru memperlihatkannya sebagai korban dari keadaan. Dengan demikian, cerpen ini lebih seperti potret gelap yang tanpa solusi, yang justru bisa membahayakan jika tidak dibaca dengan kritis.

Artikel ini adalah publikasi tugas Apresiasi dan Kritik Sastra dengan Dosen Pengampu Jakaria, S.S., M.A.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.