Home Entertaiment Menyelami Trauma Pascagenosida yang Tak Pernah Usai dalam Film Upshot
EntertaimentFilm

Menyelami Trauma Pascagenosida yang Tak Pernah Usai dalam Film Upshot

Share

Oleh: Alya Nayla Sahirah 

Suara USU, Medan. Kalau kita menonton film tentang Palestina, mungkin sebagian besar akan menampilkan konflik yang terjadi secara frontal, adanya senjata api, pemberontakan, reruntuhan, atau pertumpahan darah yang tak berkesudahan. Namun, Upshot hadir dengan menampilkan sudut pandang yang berbeda. Film pendek karya sutradara Maha Haj ini justru ditayangkan tanpa emosi yang meledak-ledak, hanya ada suasana keheningan dan rutinitas sehari-hari yang tampaknya biasa saja, tetapi ternyata menyimpan luka yang mendalam. Dengan durasi sekitar 34 menit, Upshot mengajak penonton menyelami bagaimana dampak trauma pasca genosida bisa terus terpendam dan menetap, bahkan dalam waktu yang sangat berkepanjangan.

Film ini menyoroti kehidupan sepasang suami istri, Suleiman dan Lubna, yang tinggal di sebuah peternakan kecil, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, seolah terpisah dari dunia luar. Sejak awal, penonton disuguhkan pada adegan keseharian mereka yang sangat sederhana seperti mengurus hewan ternak, berjalan menyusuri dan memanen hasil ladang, hingga makan sambil berbincang tentang topik-topik ringan. Namun, ada satu hal ganjil yang terus muncul dalam percakapan keduanya setiap saat, yaitu anak-anak mereka. Suleiman dan Lubna membicarakan mereka seolah semuanya masih hidup, hanya saja sedang berada di lokasi yang jauh.

Mereka membayangkan usia anak-anaknya terus bertambah. Ada yang diceritakan sedang berkuliah, ada yang sudah bekerja, bahkan ada yang disebut sudah menikah dan memiliki anak. Percakapan ini selalu berlangsung dengan suasana yang santai, bahkan terkadang diiringi dengan candaan. Perlahan, penonton mulai menyadari bahwa cerita-cerita tersebut bukanlah sekadar perasaan rindu orang tua pada anak-anaknya yang merantau. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dan tidak pernah disampaikan secara gamblang.

Kenyataan pahit itu baru benar-benar terasa ketika seorang jurnalis mengunjungi rumah mereka untuk mewawancarai Suleiman dan Lubna, menanyakan kisah hidup dan anak-anak yang sering mereka ceritakan. Namun, permintaan itu diabaikan dan ditolak berulang kali. Wawancara tersebut dianggap berpotensi meruntuhkan dunia imajinasi kecil yang selama ini mereka bangun, dan menguak memori yang disimpan rapat-rapat. Kehadiran jurnalis menjadi titik balik film, karena dari sinilah perlahan terungkap bahwa anak-anak yang terus mereka ceritakan sebenarnya telah meninggal akibat konflik kejam yang terjadi.

Upshot memang tidak pernah menampilkan adegan kematian atau konflik yang brutal secara langsung. Maha Haj memilih pendekatan yang jauh lebih menyentuh perasaan penonton dengan memperlihatkan bagaimana orang tua yang kehilangan seluruh anaknya mencoba bertahan dengan cara mereka sendiri. Mereka menjadikan imajinasi sebagai tempat anak-anak tersebut tetap ‘hidup’ dan masa depan mereka tetap bisa diperbincangkan. Film ini menunjukkan bahwa dampak konflik dan munculnya trauma tidak selalu ditampilkan dalam bentuk tangisan histeris atau amarah, tetapi juga dalam bentuk cerita-cerita yang terus diulang agar rasa kehilangan tidak sepenuhnya menenggelamkan seseorang.

Dari segi sinematografi dan visual, Upshot tampil sederhana dengan pergerakan kamera yang lebih banyak dibiarkan diam, sehingga memberikan ruang bagi penonton untuk mengamati gestur-gestur dan detail kecil dari ekspresi wajah para pemerannya. Pemandangan dan latar yang ditampilkan mungkin terasa cukup sepi dan berkabut, tetapi tampilan ini berhasil menciptakan kesan keterasingan dan berduka yang ingin disoroti oleh sutradaranya. Tidak ada musik yang terlalu mendominasi, sehingga keheningan menjadi bagian penting dari pengalaman menonton film ini. Detail-detail ini membuat emosi film terasa lebih dekat dan lebih menyentuh penonton saat sudah memahami plot twist-nya di akhir.

Akting Mohammed Bakri sebagai Suleiman dan Areen Omari sebagai Lubna juga menjadi tulang punggung film ini. Keduanya tidak menjadi tokoh dengan dialog panjang atau ekspresi yang berlebihan. Justru melalui cara mereka menatap satu sama lain, adanya jeda percakapan, dan cara mereka menyebut nama anak-anaknya, penonton bisa merasakan beban emosional yang mereka simpan selama bertahun-tahun. Hal ini membuat kisah mereka terasa sangat manusiawi dan tidak dibuat-buat.

Keunggulan Upshot juga terletak pada ciri khas Maha Haj yang tidak menjelaskan segalanya secara langsung atau tersurat dalam film. Narasinya humanis dan tidak menjadikan Palestina sebagai latar konflik, melainkan ruang hidup manusia dengan segala emosinya yang kompleks. Sejak awal, penonton diajak menyusun sendiri kepingan-kepingan cerita, hingga akhirnya menyadari bahwa selama ini Suleiman dan Lubna terjebak dalam trauma yang belum selesai. Film ini memang tidak menawarkan ending yang manis, tetapi justru meninggalkan wadah refleksi tentang bagaimana manusia berdamai, maupun gagal berdamai dengan kehilangan.

Pendekatan khasnya itu terbukti memperoleh berbagai apresiasi di ranah internasional. Upshot meraih Pardino d’Oro Swiss Life dan Junior Jury Award di Locarno Film Festival, serta berbagai penghargaan lain di festival film internasional. Film ini juga diputar dalam ajang Palestine Cinema Days, sebuah festival film tahunan yang diselenggarakan oleh Filmlab Palestine. Festival ini menjadi gerakan budaya yang bertujuan menghadirkan film sebagai wadah perlawanan, ingatan, dan ekspresi masyarakat Palestina melalui layar lebar.

Meskipun memiliki banyak keunggulan, alur cerita Upshot mungkin terasa lambat dan membosankan bagi sebagian penonton yang terbiasa dengan cerita yang menggebu-gebu dengan konflik ditampilkan secara eksplisit. Ritmenya yang tenang dan minim dialog memang menuntut kesabaran dan perhatian penuh dari penonton agar memahami makna sebenarnya dari film tersebut. Namun, bagi kalian yang bersedia merenungi konflik lebih dalam, film ini sangat cocok karena menawarkan pengalaman emosional yang kuat dan sangat membekas.

Upshot adalah pengingat bahwa konflik tidak hanya terlihat dari reruntuhan fisik bangunan dan perkotaan, tetapi juga melalui trauma psikologis dari cara manusia mengingat, mencintai, dan bertahan dalam luka tersebut. Melalui alur cerita yang sederhana tapi sarat makna, film ini berhasil menunjukkan wajah lain dari Palestina yang jarang tersorot, yaitu wajah orang tua yang terus menghidupkan anak-anaknya melalui cerita, karena dunia nyata terlalu kejam untuk diterima sepenuhnya.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.