Home Buku Menyembunyikan Luka Batin dan Mengatasi Depresi Melalui Buku ‘I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki‘
Buku

Menyembunyikan Luka Batin dan Mengatasi Depresi Melalui Buku ‘I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki‘

Share

Oleh: Sintya Octavia Simorangkir

Suara USU, Medan. Buku yang berjudul ‘I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki’ karya Baek Se-hee, menarik perhatian pembaca dengan kisahnya yang mendalam dan jujur mengenai perjuangan kesehatan mental. Dalam buku ini, Baek Se-hee mengungkapkan pengalaman pribadinya menghadapi depresi dan gangguan kecemasan melalui serangkaian sesi terapi yang dibagikan kepada pembaca.

Penulis, yang juga seorang editor di bidang penerbitan, menceritakan bagaimana ia berjuang dengan perasaan rendah diri dan ketidakpuasan hidup, namun tetap menemukan kebahagiaan sederhana dalam hal-hal kecil, seperti makanan favoritnya, tteokpokki. Buku ini menyoroti konflik emosional antara dorongan untuk menyerah pada kehidupan dan keinginan untuk menemukan kebahagiaan, meskipun sesaat.

Melalui percakapan terbuka dengan terapisnya, Baek mengajak pembaca untuk merefleksikan isu-isu yang sering diabaikan seperti kesehatan mental, nilai diri, dan kebutuhan manusia akan penerimaan. Pesan yang disampaikan melalui buku ini menjukkan pentingnya dukungan mental serta kesadaran diri dalam menghadapi tantangan hidup. Dalam buku tersebut, Baek Se-hee menggunakan frasa-frasa seperti “Apakah kita hidup hanya untuk mengisi lubang kosong di dalam hati kita?” dan “Saya tidak ingin merasa lebih baik, saya hanya ingin tidak merasa buruk” yang memberikan pandangan jujur tentang bagaimana seseorang bisa terjebak dalam siklus depresi. Kalimat-kalimat ini seringkali menjadi sorotan karena mewakili perasaan yang tidak terungkapkan oleh banyak orang yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Ungkapan-ungkapan tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang betapa beratnya beban mental yang dirasakan oleh penulis, namun juga mengandung kejujuran yang menohok dan menyentuh hati pembaca. Dengan gaya bahasa yang lugas namun penuh makna, Baek berhasil membawa pembaca untuk melihat lebih dalam ke dalam pikiran orang-orang yang bergulat dengan perasaan hampa, namun tetap mencari makna dalam hal-hal kecil di kehidupan sehari-hari.

Buku yang pertama kali diterbitkan di Korea Selatan ini juga berhasil meraih perhatian internasional dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, menunjukkan bagaimana isu kesehatan mental merupakan masalah universal yang relevan bagi banyak orang di berbagai belahan dunia.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.