Home Tempat Menyesap Kenangan di Conical CC, Antara Aroma Kopi dan Dinding Tua yang Bersuara
Tempat

Menyesap Kenangan di Conical CC, Antara Aroma Kopi dan Dinding Tua yang Bersuara

Share
Dokumentasi: Suara USU

Oleh: Aliza Asyula Darma, Rizqi Putra Permono

Suara USU, Medan. Di jantung Kota Medan, tepatnya di Jalan Putri Hijau, berdiri sebuah kedai kopi dengan atmosfer yang jauh dari kesan hiruk-pikuk perkotaan. Letaknya tersembunyi di belakang kompleks Rumah Sakit Tembakau Deli sebuah bangunan tua yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Tempat ini bernama Conical CC, singkatan dari Conical Creative Circle. Namun, lebih dari sekadar kedai kopi, Conical adalah ruang lintas makna: sejarah, seni, dan cita rasa yang disajikan dalam cangkir-cangkir hangat.

Dikelola oleh Fandy Ahmad, pria yang lebih akrab disapa Fandy Blek, Conical merupakan wujud dari perjalanan panjang dan konsistensi dalam dunia perkopian. “Conical itu dibuka tanggal 19 Oktober 2024. Kami langsung operasional tanpa seremoni gas aja langsung buka,” ujar Fandy saat ditemui pada Jumat, 23 Mei 2025. Ini bukanlah kedai kopi pertamanya. Sebelumnya, Fandy telah terlibat dalam lima hingga enam usaha kedai kopi dengan berbagai merek. Namun, Conical terasa berbeda. Bukan hanya karena lokasi dan atmosfernya yang unik, melainkan juga karena kisah di balik berdirinya tempat ini.

Bangunan yang kini menjadi Conical dulunya merupakan ruang laundry Rumah Sakit Tembakau Deli. Setelah puluhan tahun tidak digunakan, tempat itu tak lebih dari gedung tua kosong dengan mesin-mesin besar dan dinding yang mengelupas. Namun, justru dari situ cerita bermula. “Kami dapat tempat ini dari teman yang arahkan ke sini. Awalnya saya kira dikasih ruang untuk angkringan, eh malah dikasih bangunan. Ya sudah, kami ambil,” jelas Fandy. Ia mengaku sempat terkejut ketika mengetahui bahwa bangunan ini pernah digunakan sebagai ruang cuci rumah sakit. Beberapa mesin bekas laundry bahkan masih dibiarkan berada di lokasi sebagai bagian dari elemen visual.

Renovasi pun dilakukan, meskipun dengan banyak batasan. Sebagai bangunan cagar budaya, bentuk asli bangunan tidak boleh diubah, terutama di bagian depan. “Kami nggak boleh mengubah bentuk bagian depan, jadi kami hanya bisa renovasi secukupnya. Misalnya lantai, itu hanya kami poles sampai mengilap, nggak diubah-ubah,” ujarnya. Desain interior Conical pun mengikuti konsep unfinished atau setengah jadi, sejalan dengan kondisi asli bangunan. Dinding yang keropos, lantai semen, serta bekas bak air dari era laundry dulu masih terlihat. Namun, justru dari situ atmosfer unik dan keotentikan Conical muncul.

Nama “Conical” sendiri tidak datang begitu saja. Diambil dari istilah conical burr, komponen dalam grinder kopi yang dikenal paling konsisten menghasilkan gilingan, nama ini mewakili semangat utama Conical: konsistensi. “Kami bergerak di kopi dan ingin menjaga konsistensi dalam produk, pelayanan, hingga atmosfer tempat. Filosofi Conical itu mengerucut, fokus, dan menjaga kualitas,” jelas Fandy. Menurutnya, kenyamanan memang penting dalam bisnis kopi, tetapi kualitas produk tetap harus menjadi yang utama. “Kualitas adalah nilai utama, kenyamanan nilai selanjutnya. Kalau tempat luas dan nyaman, orang akan betah dine-in. Tapi kalau ruang kecil, ya kita kejar kualitas produk,” tambahnya.

Apa yang membuat Conical lebih dari sekadar tempat ngopi adalah inisiatif Fandy membuka ruang bagi industri kreatif. Itulah mengapa ada embel-embel “Creative Circle” di belakang nama Conical. “Kita ingin tempat ini jadi ruang diskusi dan aktivitas kreatif. Kawan-kawan dari berbagai komunitas bisa pakai tempat ini. Kita udah pernah adain Medan Brewers Championship di bulan Februari kemarin, juga ada sesi melukis bareng, dan diskusi-diskusi kecil,” tuturnya. Conical juga terbuka untuk kolaborasi. Beberapa agenda ke depan telah disiapkan bersama pelaku industri kopi dan seni. “Conical punya roastery sendiri, dan kami lagi garap kolaborasi dengan beberapa roaster bean lokal. Kolaborasi ini penting buat saling dorong perkembangan,” ungkap Fandy.

Membuka usaha di bangunan bersejarah tentu memiliki dua sisi. Satu sisi, elemen sejarah bisa menjadi daya tarik tersendiri. Namun, di sisi lain, persepsi masyarakat tentang rumah sakit tua bisa menjadi tantangan. “Masih ada yang mikir seram, karena dulunya rumah sakit. Tapi buat yang udah datang, mereka malah bilang tempat ini adem dan tenang. Kita di tengah kota, tapi atmosfernya kayak hidden gem,” kata Fandy sambil tersenyum. Lokasi yang agak tersembunyi juga menuntut upaya promosi ekstra. Fandy menyadari bahwa dibutuhkan strategi khusus untuk memperkenalkan Conical kepada publik. Namun, ia percaya bahwa ketika orang sudah datang, pengalaman mereka akan menjadi promosi terbaik. “Banyak yang nggak nyangka tempat ini bisa jadi senyaman ini. Bahkan teman-teman yang dulu sempat buka angkringan di sekitar sini aja kaget,” ucapnya bangga.

Bagi Fandy, Conical bukan hanya tentang menjual kopi. Lebih dari itu, ini adalah upaya merawat ruang-ruang yang dulu terlupakan dan menghidupkannya kembali lewat kreativitas. “Kalian harus datang ke Conical. Ini eks-laundry Rumah Sakit Tembakau Deli, tapi kalian nggak perlu takut. Kami tawarkan produk berkualitas dan tempat yang nyaman. Yang kalian khawatirkan itu sebenarnya nggak ada,” pesan Fandy untuk pengunjung baru. Dengan semangat konsistensi dan kreativitas, Conical menunjukkan bahwa sejarah bisa menjadi bagian dari masa kini asal kita tahu cara menyeduhnya. Sejarah yang melekat pada bangunan kafe ini justru memperkaya pengalaman pengunjung serta memberikan kesan kenyamanan dan ketenteraman yang langka di tengah hiruk-pikuk Kota Medan. Kafe Conical CC tidak hanya menghadirkan kopi berkualitas, tetapi juga menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, serta tempat di mana setiap orang dapat menemukan inspirasi dan ketenangan.

Kesan menarik juga datang dari pengunjung, salah satunya Fachrial Azmi Lubis, yang sudah tiga kali mampir ke Conical. Ia pertama kali mengetahui tempat ini dari media sosial karena seorang temannya pernah bekerja sama dengan Conical. “Yang menarik perhatian saya pertama kali adalah gaya bangunannya yang autentik, karena memang bekas bangunan kolonial Belanda,” ujarnya. Saat pertama kali masuk, Fachrial langsung merasakan atmosfer yang berbeda. “Suasananya nyaman, cocok banget untuk yang suka kerja dari kafe. Pengalaman ngopi di sini beda dari kafe lain, karena nuansa kolonial nya sangat terasa,” tambahnya.

Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.