Oleh: Khaira Nikita
Suara USU, Medan. Seiring maraknya isu bullying yang terjadi, industri perfilman Tiongkok turut mengangkat persoalan tersebut ke dalam sebuah film berjudul Cry Me A Sad River. Film yang dirilis pada 27 Desember 2018 dengan durasi sekitar 1 jam 45 menit ini merupakan adaptasi dari novel karya Guo Jingming berjudul Bei Shang Ni Liu, serta disutradarai oleh Luo Luo.
Dibintangi oleh Ren Min, film ini menyoroti kehidupan Yi Yao, tokoh utama yang merupakan seorang gadis dari keluarga kurang mampu. Ia tinggal di gang sempit bersama ibunya yang bekerja sebagai tukang pijat. Latar belakang ekonomi serta pekerjaan sang ibu membuat Yi Yao kerap dipandang sebelah mata dan menjadi sasaran bullying oleh teman-temannya di sekolah.
Perundungan tersebut semakin intens ketika Yi Yao didiagnosis mengidap penyakit kulit yang menyerang area sensitif tubuhnya. Kondisi ini kemudian diketahui oleh salah satu teman sekolahnya yang diam-diam mengikutinya sepulang sekolah. Sejak saat itu, bullying terhadap Yi Yao semakin parah. Ia menanggung semuanya seorang diri, tanpa ada yang benar-benar peduli atau bersedia mengulurkan bantuan.
Hingga suatu hari, Yi Yao bertemu dengan Gu Sen Xi, seorang siswa di sekolah yang sama yang pernah menyelamatkannya dari percobaan bunuh diri. Berbeda dari yang lain, Gu Sen Xi tidak menjauhinya, melainkan melindungi Yi Yao dari perundungan yang ia alami. Kehadiran Gu Sen Xi menjadi salah satu alasan Yi Yao untuk bertahan dan kembali tersenyum. Dari sanalah, ia mulai menemukan keberanian untuk melawan bullying yang selama ini menimpanya.
Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Menjelang akhir cerita, Yi Yao kembali difitnah oleh teman-temannya. Ia pun berada pada titik keputusasaan yang mendalam dan merasa beban hidupnya semakin berat.
Film ini menunjukkan bahwa bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Serangan psikologis yang berlangsung terus-menerus juga dapat meninggalkan luka yang sangat dalam. Gambaran tersebut relevan dengan kondisi nyata saat ini. Data UNESCO menunjukkan bahwa lebih dari 30% siswa di dunia pernah menjadi korban bullying, atau sekitar satu dari tiga pelajar. Perundungan terbukti berdampak pada prestasi akademik, kesehatan mental, hingga meningkatkan risiko putus sekolah.
Selain itu, film ini juga menyoroti fenomena bystander effect, yakni ketika orang-orang di sekitar korban mengetahui adanya perundungan, tetapi memilih untuk diam. Dalam cerita, banyak siswa yang menyaksikan penderitaan Yi Yao tanpa berusaha membela atau menghentikan pelaku. Sikap pasif tersebut justru memperparah kondisi korban. Pesan yang ingin disampaikan pun jelas: diam terhadap ketidakadilan sama berbahayanya dengan melakukan perundungan itu sendiri. Dalam kehidupan nyata, berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang gagal merespons bullying secara cepat berpotensi meningkatkan risiko gangguan psikologis pada korban.
Hubungan antara bullying dan depresi yang ditampilkan dalam film ini juga didukung oleh berbagai penelitian. Sebuah meta-analisis yang melibatkan lebih dari 133 ribu anak dan remaja menemukan bahwa korban bullying memiliki risiko depresi 2,77 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya. Selain itu, penelitian lain terhadap lebih dari 95 ribu siswa menunjukkan bahwa korban bullying lebih rentan mengalami kecemasan, gangguan tidur, stres pascatrauma, hingga depresi. Semakin berat tingkat perundungan yang dialami, semakin tinggi pula risiko gangguan psikologis yang muncul.
Dari sisi sinematografi, Cry Me A Sad River menggunakan nuansa warna yang cenderung muram untuk memperkuat atmosfer kesedihan dan keterasingan tokoh utama. Akting Ren Min sebagai Yi Yao menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini karena mampu menampilkan dinamika emosi karakter secara meyakinkan. Penonton tidak hanya menyaksikan penderitaan korban bullying, tetapi juga dapat merasakan tekanan psikologis yang perlahan menghancurkan dirinya.
Film Cry Me A Sad River menjadi pengingat bahwa empati, keberanian untuk bersuara, serta dukungan sosial merupakan faktor penting dalam mencegah tragedi serupa terjadi di dunia nyata. Meski bukan film baru, karya ini tetap layak masuk dalam daftar tontonan, terutama bagi penonton yang menyukai genre drama dengan pesan yang kuat. Film ini juga menghadirkan berbagai makna mendalam yang disampaikan secara apik melalui setiap adegannya.
Redaktur: Frianka Raya Sitanggang
Leave a comment