Home Sosok Mengenal José Mujica, Mantan Presiden Uruguay yang Sederhana
Sosok

Mengenal José Mujica, Mantan Presiden Uruguay yang Sederhana

Share

Oleh: Ruth Jelita Laia


Suara USU, Medan. Di sebuah rumah pertanian kecil di pinggiran Montevideo, seorang lelaki tua biasa duduk di kebunnya. Ia mengenakan pakaian kerja yang lusuh, ditemani seekor anjing berkaki tiga. Tak ada iring-iringan pengawal, tak ada kemegahan yang biasa melekat pada seorang mantan kepala negara. Ia pernah memimpin Uruguay, tetapi memilih untuk tidak pernah berhenti menjadi dirinya sendiri.

Lelaki itu adalah José Alberto Mujica Cordano, atau yang lebih akrab disapa “Pepe”. Pada usia 89 tahun, ia mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan kanker kerongkongan yang menyebar hingga ke hati. Kabar duka itu disampaikan langsung oleh Presiden Uruguay, Yamandú Orsi, yang mengenangnya sebagai sosok yang mencintai rakyatnya dengan sepenuh hati. Dari berbagai penjuru Amerika Latin, ucapan belasungkawa mengalir deras, menandai betapa besar pengaruh seorang Mujica yang namanya melampaui batas-batas negaranya yang kecil.

Perjalanan hidup Mujica sendiri dimulai jauh sebelum dunia mengenalnya sebagai presiden. Ia lahir pada 20 Mei 1935 di Paso de la Arena, kawasan pedesaan di pinggiran Montevideo, dari keluarga sederhana. Dari sang ibu, ia mewarisi kecintaan pada politik, buku, dan tanah yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Namun, masa mudanya membawa arah yang berbeda. Pada awal 1960-an, ketika semangat Revolusi Kuba dan sosialisme menyebar ke berbagai negara Amerika Latin, Mujica bergabung dengan Tupamaros, kelompok gerilya perkotaan yang pada awalnya memperjuangkan keadilan sosial. Seiring waktu, gerakan itu berubah menjadi kelompok bersenjata yang terlibat dalam pembakaran, penculikan, hingga pembunuhan aparat.

Bagian paling kelam dalam hidupnya berlangsung selama 14 tahun di penjara. Sebagian besar masa itu ia jalani dalam sel isolasi dengan penyiksaan yang berat. Selama dua tahun, ia ditempatkan di dasar sebuah sumur sebagai tempat penahanan. Kesunyian yang berkepanjangan membuatnya mengaku sempat kehilangan kewarasan hingga berbicara kepada semut hanya agar pikirannya tetap hidup. Dua kali ia mencoba melarikan diri, termasuk melalui sebuah terowongan bersama ratusan tahanan lainnya. Kebebasan baru datang pada 1985 ketika Uruguay kembali ke pemerintahan demokratis. Bagi Mujica, hari pembebasan itu jauh lebih berarti daripada hari ketika ia dilantik menjadi presiden.

Setelah demokrasi dipulihkan, Tupamaros meninggalkan perjuangan bersenjata dan bertransformasi menjadi bagian dari sistem politik Uruguay. Mujica pun memulai perjalanan baru sebagai politisi. Ia menjabat sebagai anggota parlemen, senator, ketua Senat, hingga menteri pertanian. Di setiap tahap perjalanan politiknya, ia didampingi Lucía Topolansky, sesama mantan gerilyawan yang kemudian menjadi istri sekaligus kelak menjabat sebagai wakil presiden.

Pada 2009, ketika usianya telah menginjak 74 tahun, Mujica mencalonkan diri sebagai presiden. Masa lalunya sebagai gerilyawan sempat memicu perdebatan publik. Meski demikian, ia berhasil memenangkan pemilihan melalui dua putaran dan mengalahkan kandidat dari Partai Nasional. Setahun kemudian, ia resmi menjadi Presiden Uruguay.

Di bawah kepemimpinannya, Uruguay dikenal sebagai salah satu negara paling progresif di Amerika Latin. Pemerintahannya melegalkan aborsi, mengesahkan pernikahan sesama jenis, serta menjadi negara pertama yang mengatur produksi dan penjualan ganja secara legal melalui negara. Selama masa jabatannya, ekonomi tumbuh relatif stabil dan tingkat kemiskinan menurun. Namun, pemerintahannya juga tidak luput dari kritik, terutama terkait meningkatnya belanja publik dan reformasi pendidikan yang dinilai belum berhasil memenuhi harapan.

Meski berbagai kebijakan itu banyak dibicarakan, dunia justru lebih mengenang Mujica karena gaya hidupnya yang tidak biasa bagi seorang kepala negara. Ia menolak tinggal di istana kepresidenan dan memilih tetap menetap di rumah pertaniannya yang sederhana. Ia bepergian dengan penerbangan kelas ekonomi, menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk kegiatan sosial, dan tetap mengendarai Volkswagen Beetle tua berwarna biru muda yang kemudian menjadi ikon dirinya.

Pilihan hidup itulah yang membuat media internasional menjulukinya sebagai “Presiden termiskin di dunia”. Mujica sendiri selalu menolak sebutan tersebut. Menurutnya, kemiskinan bukan diukur dari sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan dari sikap seseorang yang tak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Ia meyakini bahwa seorang pemimpin seharusnya hidup sedekat mungkin dengan rakyat yang dipimpinnya, bukan menciptakan jarak melalui kemewahan.

Sepanjang perjalanan hidupnya yang penuh gejolak, satu hal yang selalu melekat pada namanya adalah bersih dari tuduhan korupsi. Bahkan ketika penyakit kanker menggerogoti tubuhnya pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, ia tetap berbicara tentang kematian dengan tenang. Baginya, kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian alami dari kehidupan yang akan dialami setiap manusia.

Kepergian José Mujica pun meninggalkan duka yang melampaui batas Uruguay. Para pemimpin dari Meksiko, Chili, Kolombia, dan berbagai negara lain mengenangnya sebagai simbol kebijaksanaan, integritas, dan kesederhanaan.

Di tengah dunia politik yang kerap diwarnai kemewahan dan perebutan kekuasaan, Mujica meninggalkan warisan yang jauh lebih sederhana, tetapi mungkin justru lebih sulit diwujudkan. Ia membuktikan bahwa jabatan tertinggi tidak harus mengubah cara seseorang hidup, dan bahwa kekuasaan dapat berjalan berdampingan dengan kerendahan hati. Itulah pelajaran yang akan terus dikenang dari seorang José Mujica.

Redaktur: Romaito Margareta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.