Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Buku A untuk Amanda adalah salah satu karya Annisa Ihsani yang mengajak pembaca untuk mengikuti kisah hidup seorang gadis ambisius yang menyukai kesempurnaan, bernama Amanda. Di tengah budaya yang mengukur keberhasilan melalui nilai dan prestasi, buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini hadir sebagai refleksi atas tekanan yang diam-diam dialami oleh banyak pelajar. Melalui 264 halaman yang menghadirkan sosok Amanda, pembaca seolah-olah diajak melihat bahwa nilai yang sempurna tak selalu beriringan dengan ketenangan batin.
Amanda dikenal sebagai sosok cerdas dan berorientasi pada pencapaian. Nilai ujian yang tak pernah lepas dari huruf A, jawaban yang selalu tepat saat merespons pertanyaan dari guru, serta kepercayaan dari orang-orang sekitar menghiasi hari-harinya dengan begitu indah. Bagi orang lain, Amanda tak membutuhkan tekad besar atau daya juang tinggi untuk meraih prestasi.
Namun, kepercayaan dari orang lain yang begitu tumpah-ruah ternyata tak mampu menuhi tangki kepercayaan diri Amanda terhadap dirinya sendiri. Amanda merasa bahwa ia tak sepandai kesan yang ditampilkannya. Menurutnya, nilai dan seluruh prestasinya hanyalah sebuah keberuntungan. Setiap pertanyaan guru yang berhasil dijawab hanyalah kebetulan yang ia tahu jawabannya. Lambat laun, Amanda merasa ia seperti pembohong. Dengan kulit luarnya yang menonjolkan kecerdasan, ia merasa orang-orang salah menilainya. Kekhawatiran bahwa ternyata ia bodoh pun terus menghantui pikirannya, hingga membunuh fokus, ketenangan, dan kegigihannya dalam akademik.
Sepanjang waktu, Amanda terus menganggap dirinya sebagai penipu ulung yang telah merugikan banyak orang. Hingga konsentrasi akan masa kini dirampas oleh pikiran-pikirannya, mulai dari nilai B yang mewarnai hasil ujiannya, perlombaan esai sains yang terlewatkan dan terlambatnya memberi konfirmasi kepada universitas impiannya. Amanda yang tak pernah berjauhan dengan akademik sempurna dan segudang prestasi menganggap nilai bukan sekadar angka, melainkan tolak ukur keberhasilan yang menentukan bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain.
Amanda yang merasa dirinya telah membohongi banyak orang, cemas akan kemungkinan terbongkarnya kebohongannya selama ini. Ia takut orang-orang akan memandangnya berbeda, begitu tahu bahwa ia tak sepintar yang selama ini terlihat. Amanda merasa dirinya hanyalah sosok yang tak jauh dari keberuntungan dan kebetulan.
Annisa Ihsani menggambarkan bagaimana budaya prestasi dan pencapaian berubah menjadi tekanan akademik melalui sosok Amanda. Tuntutan untuk selalu memperoleh hasil terbaik, memenuhi ekspektasi lingkungan, serta ketakutan akan kegagalan perlahan membentuk beban yang memengaruhi cara Amanda memandang dirinya sendiri.
Buku ini menyinggung tentang budaya prestasi (achievement culture) yang terus melingkupi kehidupan pelajar. Budaya prestasi merupakan cara pandang yang mendorong individu untuk terus tumbuh, berinovasi, dan memberikan hasil terbaik secara berkelanjutan. Budaya prestasi dapat meningkatkan kualitas akademik secara menyeluruh dan membangun daya saing yang baik dalam lingkungan akademik. Namun, di sisi lain, juga dapat memicu tekanan akademik yang merambat pada kesehatan mental. Beban untuk terus-menerus menorehkan prestasi membentuk rasa ambisius yang tidak sehat sehingga tetap diperlukan lingkungan positif untuk membentuk daya juang yang sehat.
Annisa Ihsani berhasil menunjukkan fenomena tekanan akademik melalui tokoh Amanda yang perlahan-lahan kehilangan kepercayaan dirinya. Alur buku ini membawa Amanda perlahan-lahan mengalami penurunan performa dalam akademiknya. Ungkapan-ungkapan Amanda yang menyatakan dirinya pembohong, tak sepintar yang dilihat oleh orang lain, dan merasa tak pantas untuk suatu pujian seolah dikemas untuk menunjukkan bahwa pencapaian yang sempurna pun tak luput dari tekanan akademik.
Tema tersebut tidak hanya menjadi latar cerita, tetapi juga disampaikan secara konsisten melalui alur, penokohan, dan konflik yang dialami oleh Amanda. Annisa Ihsani mengemas isu-isu yang begitu dekat dengan realitas pelajar sehingga alurnya pun terasa mudah untuk diikuti. Peristiwa jatuh dan bangunnya tokoh Amanda membuat jalan cerita terasa konsisten dan realistis. Konflik yang menerpa kehidupan Amanda pun terasa relevan bagi pembaca yang mungkin sudah pernah mengalami hal serupa. Dengan begitu, beberapa kutipan reflektif dapat menyentuh perasaan dan menjadi motivasi tersendiri bagi pembaca.
Salah satu kutipan yang berkesan dalam buku ini adalah “Alam semesta tak memiliki kewajiban untuk membuatku berharga. Aku yang harus melakukannya untuk diriku sendiri.” Kutipan ini seolah merangkul pembaca bahwa nilai diri tak semestinya ditentukan oleh pengakuan orang lain, prestasi akademik, maupun ekspektasi lingkungan sekitar.
Terlepas dari berbagai keunggulan yang ditawarkan, buku A untuk Amanda masih memiliki beberapa aspek yang dapat menjadi bahan evaluasi. Pertama, latar tempat dalam buku ini cukup ambigu dan kurang konsisten, terdapat sentuhan lokal dan barat yang saling berbaur. Kemudian, bagian penyelesaian konflik menuju akhir cerita juga terasa terlalu cepat. Beberapa konflik yang sebelumnya berkembang cukup intens diselesaikan dalam waktu singkat. Akibatnya, penutup buku ini kurang memberikan ruang imajinasi bagi pembaca untuk turut menghayati proses penyelesaian konflik yang dialami oleh Amanda.
Meski demikian, karya Annisa Ihsani ini tetap layak dibaca untuk mengingatkan kita bahwa keberhasilan dalam hidup tidak selamanya dinilai dari deretan angka. Dengan isu yang dekat dan relevan dalam kehidupan nyata, buku ini cocok dibaca oleh siswa, mahasiswa, maupun orang yang pernah merasa terbebani oleh ekspektasi akan prestasi. Buku A untuk Amanda mengingatkan kita bahwa tidak ada manusia yang berhasil sepanjang waktu dan tidak ada manusia yang gagal dalam segala hal. Jatuh dan bangun dalam kehidupan mengajarkan kita untuk menerima ketidaksempurnaan diri secara perlahan-lahan.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment