SUARA USU
Uncategorized

Merosotnya Kelestarian Istana Maimun: Mengejar Tindakan Mendesak untuk Menyelamatkan Warisan Budaya yang Terancam

Penulis: Bertiana Sirait, Chlara Berliana Marbun, Emanuela Patrecia Ginting, Nursakti Sihotang, Doly Theo Andreas Sihotang, Cut Nisza Thahyra

Suara USU, Medan. Project Based Learning (PBL) adalah kepanjangan dari Project Based Learning, Project Based Learning adalah sebuah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Metode ini menuntut mahasiswa untuk dapat melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Project based learning atau pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered) untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Mahasiswa secara konstruktif akan melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan.

Melalui kegiatan PBL ini, kami menggunakan metode wawancara dan observasi dengan petugas/pengurus istana maimun untuk mengetahui potensi istana maimun itu sendiri sebagai objek wisata sejarah serta mencari tau apakah kelestarian istana maimun masih terjaga sampai saat ini.

Wawancara dan observasi ini merupakan indikator dalam penilaian UAS (Ujian Akhir Semester) mata kuliah Pekerjaan Sosial Internasional, dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos, M. Kesos.

Beberapa mahasiswa Universitas Sumatera Utara dari mata kuliah Pekerjaan Sosial Internasional Kelompok 1 Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang terdiri dari Chlara Berliana Marbun (210502179), Emanuela Patrecia Ginting (210502195), Nursakti Sihotang (210502171), Doly Theo Andreas Sihotang (210502194), Cut Nisza Thahyra (210502191), Bertiana Sirait (210502186) akan membahas tentang istana maimun.

Berdasarkan metode wawancara dan observasi pada tanggal 19 Mei 2023 beberapa fakta mengenai Istana Maimun dapat kita ketahui yaitu dari Sejarah istana maimun yang terletak di Medan, Sumatera Utara adalah salah satu peninggalan budaya yang paling penting di Indonesia. Istana ini dibangun pada tahun 188 oleh sultan Deli ke-9, Sultan Ma’amun AL Rashid Perkasa Alam. Istana maimun awalnya berfungsi sebagai tempat tinggal dan pusat pemerintahan kesultanan Deli. Sejarah nama Maimun diambil dari nama istri Sultan Deli yang ke-9 untuk menghormati istrinya, yang diambil dari nama terakhir yang yakni bernama Maimunah.

Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, tetapi juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu Deli, dengan gaya Islam, Spanyol, India, Belanda dan Italia. Namun sayang, kelestarian tempat wisata ini mulai mengalami kemerosotan.

Istana Maimun, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu peninggalan budaya yang megah dan memikat, kini sedang menghadapi tantangan dalam menjaga kelestariannya. Dengan sedih, kita menyaksikan bagaimana istana ini mulai kehilangan keanggunan dan pesona yang dulu membuatnya begitu istimewa.

Salah satu faktor yang berkontribusi pada hilangnya kelestarian Istana Maimun adalah dampak waktu dan kurangnya perawatan yang memadai. Bagian bangunan yang penuh ornamen mengalami kerusakan dan keausan seiring berjalannya waktu. Cat yang terkelupas, kayu yang lapuk, dan batu yang retak semakin menurunkan estetika dan integritas fisik istana.

Tidak hanya itu, tekanan dari perkembangan urbanisasi juga memberikan dampak negatif. Bangunan komersial dan perubahan tata kota di sekitar Istana Maimun menyebabkan istana terkurung dalam keadaan yang semakin terasing. Lalu lintas yang padat dan kebisingan lalu lintas juga mengganggu suasana istana yang seharusnya tenang.

Kurangnya dana dan perhatian dari pemerintah dan lembaga budaya juga menjadi faktor krusial dalam kehilangan kelestarian Istana Maimun. Proyek pemeliharaan dan restorasi yang diperlukan terhenti atau terlambat dilaksanakan karena keterbatasan sumber daya. Tanpa pemeliharaan yang tepat, istana terpaksa membiarkan pesona dan keindahannya memudar.

Tantangan lainnya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya. Minat dan partisipasi masyarakat dalam upaya pemeliharaan Istana Maimun belum mencapai tingkat yang diharapkan. Pengunjung sering kali tidak menyadari bahwa peran mereka sebagai pengunjung bertanggung jawab mencakup menjaga kebersihan, menjaga ketertiban, dan menghormati warisan budaya yang ada.

Namun, meskipun Istana Maimun mengalami masa sulit, masih ada harapan untuk mengembalikan kelestariannya yang hilang. Perlu adanya komitmen yang lebih kuat dari pemerintah, lembaga budaya, dan masyarakat untuk menyadari pentingnya menjaga dan merawat istana ini. Pendanaan yang memadai, rencana perawatan jangka panjang, dan upaya konservasi yang berkelanjutan harus menjadi fokus utama.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga kebudayaan, dan komunitas lokal juga penting dalam mengatasi tantangan ini. Bersama-sama, mereka dapat mengembangkan strategi yang efektif untuk mendapatkan sumber daya yang diperlukan dan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan budaya kita.

Ini merupakan sedikit informasi yang dapat kami sajikan, semoga kita sebagai pembaca dapat bersatu untuk memulihkan pesona yang hilang dan memastikan bahwa istana maimun tetap menjadi saksi kejayaan masa lalu dan warisan yang abadi bagi generasi mendatang.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Pekerjaan Sosial Internasional dengan Dosen Pengampu: Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kesos.

Redaktur: Anna Fauziah Pane

 

 

 

 

 

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Strategi Human Capital Management (HCM) Perusahaan dalam Mengelola Pemutusan Hubungan Kerja

redaksi

Strategi untuk Mengurangi Ekspoitasi Anak ( Pengemis) melalui Patroli Rutin oleh Tim URC Dinas Sosial Kota Medan

redaksi

Pengukuran Dampak Sosial dan Ekonomi Pasar Murah di Lingkungan Lokal Kantor Camat Medan Baru

redaksi