
Oleh: Dewi Putri B Simarmata
Suara USU, Medan. Semakin lama, tanpa sadar, kita bukan hanya melestarikan kebiasaan-kebiasaan yang menyebabkan kerusakan di bumi, tetapi juga menyantap perlahan hasil kerusakan itu sendiri. Di tengah kebiasaan praktis yang telah mengakar dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti kebiasaan membungkus makanan dengan plastik sekali pakai, membeli air dalam kemasan plastik, hingga memilih benda-benda serba instan yang dibalut dalam lapisan plastik. Sayangnya, kita sedang membentuk masalah yang tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga masalah yang perlahan kembali menyerang tubuh kita sendiri. Masalah ini bukan lagi soal sampah yang tercecer di jalanan, menumpuk di pembuangan, atau mengapung di laut, melainkan partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil yang telah menyusup ke dalam air yang kita minum, makanan yang kita santap, dan bahkan udara yang kita hirup setiap hari, yakni mikroplastik.
Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari limbah plastik yang terurai maupun dari produk sehari-hari seperti scrub wajah, pasta gigi, hingga serat pakaian sintetis yang sudah menjadi bagian dari realitas hidup kita. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mikroplastik terbagi ke dalam dua jenis, mikroplastik primer, yaitu partikel plastik yang memang diproduksi untuk produk tertentu seperti sabun, deterjen, kosmetik, dan pakaian sintetis, serta mikroplastik sekunder, yang berasal dari penguraian plastik yang dibuang ke lingkungan, khususnya lautan.
Masalahnya, plastik yang masuk ke laut tidak serta-merta menghilang. Plastik justru terpecah menjadi partikel mikro akibat paparan sinar UV, abrasi air laut, dan proses fisik lainnya. Menurut laporan dari Program Lingkungan PBB (UNEP), setiap tahun sekitar 11 juta ton sampah plastik mencemari lautan, dan jumlah ini diperkirakan bisa tiga kali lipat pada tahun 2040 jika tidak ada intervensi serius. Indonesia sendiri telah menjadi salah satu negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Menurut laporan dari National Plastic Action Partnership (NPAP), Indonesia telah menghasilkan sekitar 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, dengan sekitar 620.000 ton di antaranya bocor ke saluran air dan lautan.
Tentu kita tahu bahwa ini bukanlah pencapaian yang bisa dibanggakan, melainkan merupakan alarm pengingat bagi kita bahwa upaya pengelolaan sampah kita masih jauh dari kata efektif. Terlebih, sebagian besar sampah plastik yang mencemari laut ini tidak hanya merusak ekosistem laut dan keanekaragaman hayati, tetapi juga berpotensi kembali ke manusia dalam bentuk mikroplastik yang sulit terurai dan sulit terdeteksi.
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Environment International pada Maret 2022 oleh peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam, mikroplastik untuk pertama kalinya ditemukan dalam darah manusia. Dari 22 sampel darah yang diuji, hampir 80% mengandung partikel mikroplastik, termasuk jenis Polietilena Tereftalat (PET) dan Polistirena. Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik telah berhasil masuk ke dalam sistem peredaran darah manusia dan dapat menyebar ke berbagai organ tubuh.
Ironisnya, meskipun sudah banyak kampanye pengurangan plastik dan gerakan sadar lingkungan, kebiasaan hidup kita sehari-hari justru masih memperlihatkan ketergantungan besar terhadap plastik sekali pakai. Tanpa perlu menyebut satu persatu kebiasaan tersebut, kita semua tahu betapa mudahnya tangan ini meraih plastik. Semua barang dibungkus rapi dengan plastik, digunakan sebentar, lalu dibuang, seakan itu bukan masalah kita lagi begitu plastik itu meninggalkan genggaman.
Hal yang lebih mencemaskan, banyak dari kita yang sebenarnya sadar akan bahaya plastik, tetapi memilih diam atau abai karena merasa kontribusi individunya tidak akan memberikan perubahan signifikan. ‘Cuma satu botol air mineral aja, kok cemasnya berlebihan.’ Padahal, krisis lingkungan hari ini justru terbentuk dari akumulasi tindakan-tindakan kecil yang terus diulang oleh jutaan orang setiap harinya. Dan dalam skala sebesar, pilihan personal bukan lagi urusan pribadi, tetapi menjadi bagian dari persoalan global. Jadi jika kita terus berpikir bahwa satu gelas plastik, satu bungkus makanan, satu kantong belanja itu bukan masalah besar, maka kita sedang mengabaikan fakta bahwa kita sendiri sedang menjadi korban dari kelalaian kolektif ini.
Sebenarnya, kesadaran ini sudah diedarkan sejak lama. Sudah banyak kampanye peduli lingkungan dengan mengajak masyarakat untuk bergotong royong membersihkan lingkungan dan mengganti kebiasaan lama dalam penggunaan plastik ke penggunaan barang yang dapat didaur ulang. Namun, yang menjadi masalah, kesadaran lingkungan sering kali berhenti di permukaan dan sekadar menjadi tren sesaat. Tak jarang simbol kepedulian hanya dipertontonkan di media sosial tanpa benar-benar mengubah perilaku sehari-hari, atau ikut bersih-bersih pantai sekali, lalu kembali ke gaya hidup lama.
Jika kepedulian terhadap lingkungan hanya dijadikan ajang pencitraan atau formalitas seremonial, maka jangan heran jika kerusakan terus berulang dan masa depan kita akan semakin terancam. Mikroplastik bukan lagi isu yang jauh dari kita melainkan sudah ada dalam napas kita, dalam darah kita, dan bahkan dalam sistem reproduksi manusia. Kita sudah terlalu nyaman hidup dalam sistem yang menyederhanakan segalanya, hingga lupa bahwa kemudahan itu dibayar dengan kerusakan jangka panjang.
Redaktur: Nurur Rahmah
Leave a comment