Home Tulisan Minimnya Literasi di Indonesia: Tantangan bagi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU)
Tulisan

Minimnya Literasi di Indonesia: Tantangan bagi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU)

Share

Oleh: Vianova Kania/Rihadatul Aisy Wardah/Irma Jumeva Ginting/Yemima Putri Valentina

Suara USU, Medan. Minat baca di Indonesia masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan. Menurut laporan UNESCO, tingkat membaca masyarakat Indonesia sangat rendah, dengan hanya 1 dari 1.000 orang yang aktif membaca. Hasil survei PISA (Programme for International Student Assessment) juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia sering menempati peringkat bawah dibandingkan negara-negara lain. Rendahnya minat baca ini tidak hanya terjadi di masyarakat umum tetapi juga terlihat di kalangan mahasiswa, yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam meningkatkan literasi bangsa.

Menurut Anderson & Krathwohl (2001), budaya membaca sangat berkaitan erat dengan kemampuan berpikir kritis. Sementara itu, Hirsch Jr. (1987) berpendapat bahwa literasi adalah pondasi penting untuk kemajuan individu dan masyarakat. Tanpa literasi yang kuat, kemampuan mahasiswa untuk memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi juga akan terbatas.

Isu literasi juga menjadi perhatian di kalangan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU). Berdasarkan laporan UNESCO, Indonesia menempati posisi ke-62 dari 70 negara dalam tingkat literasi. Walaupun akses pendidikan formal terus meningkat, minat baca dan kemampuan literasi kritis masyarakat, terutama generasi muda, masih tergolong rendah.

Fenomena ini juga terlihat di lingkungan akademik USU. Survei internal yang dilakukan oleh BEM USU pada tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 40% mahasiswa membaca buku di luar materi perkuliahan lebih dari sekali sebulan. Ini menunjukkan bahwa gaya hidup siswa belum memasukkan kegiatan membaca ke dalamnya.

Akses terbatas adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan tingkat literasi yang rendah ini. Buku dan perpustakaan tidak ada di banyak tempat, terutama di daerah pedesaan. Karena masyarakat lebih cenderung menghabiskan waktu dengan gawai daripada membaca, budaya membaca yang lemah adalah salah satu penyebab utama kurangnya literasi. Selain itu, hambatan utama termasuk kualitas pendidikan yang rendah, kurikulum yang tidak berfokus pada literasi, dan kekurangan sarana pendidikan.

Namun, realitasnya menunjukkan bahwa mahasiswa lebih sering membaca materi kuliah yang bersifat wajib daripada membaca buku di luar kurikulum. Hal ini memunculkan pertanyaan: apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama rendahnya minat baca mahasiswa, dan bagaimana teknologi yang terus berkembang dapat menjadi alat untuk mengatasi masalah ini?

Menurut Fitri, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, ada dua alasan mengapa mahasiswa jarang membaca buku di luar materi kuliah. Pertama, keberadaan gadget membuat mereka merasa tidak perlu membaca buku fisik karena semuanya dapat diakses melalui perangkat tersebut. Kedua, banyak mahasiswa beranggapan bahwa membaca di luar mata kuliah tidak diperlukan karena materi tersebut tidak termasuk dalam yang diajarkan.

Dan juga ada pendapat lain dari Athya, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, rendahnya minat literasi bukan disebabkan oleh gadget itu sendiri, melainkan oleh penggunanya. Gadget sebenarnya mempermudah akses ke berbagai aplikasi buku, baik yang gratis maupun berbayar. Namun, jika pengguna tidak memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan minat literasi, misalnya dengan mencari aplikasi e-book, dan malah lebih banyak bermain game, menonton TikTok, atau kurang selektif terhadap informasi, maka mereka lebih rentan terhadap berita hoaks. Jadi, masalah rendahnya literasi lebih berkaitan dengan perilaku pengguna, bukan gadgetnya.

Mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan literasi melalui berbagai cara, seperti mengakses e-book dan aplikasi membaca yang menyediakan kemudahan membaca kapan saja melalui platform seperti Kindle atau Google Books. Selain itu, podcast dan audiobook memungkinkan mereka belajar sambil melakukan aktivitas lain, seperti perjalanan atau olahraga. Teknologi juga membuka akses ke jurnal akademik melalui platform seperti Google Scholar, ResearchGate, atau Springer, sehingga memudahkan penelitian. Aplikasi pembelajaran interaktif, seperti Duolingo atau Khan Academy, membantu meningkatkan kemampuan literasi dengan cara yang menyenangkan dan efisien. Tak ketinggalan, mahasiswa dapat bergabung dalam komunitas literasi online, seperti Goodreads atau forum diskusi di media sosial, untuk berbagi pengetahuan dan memperluas wawasan.

Selain itu, penting bagi semua pihak, baik pemerintah, kampus, maupun masyarakat, untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi. Literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, dan mengaplikasikan informasi secara kritis.

Mahasiswa yang memiliki literasi yang kuat tidak hanya akan unggul secara akademis, tetapi mereka juga akan menjadi orang yang berpikiran kritis dan berkontribusi bagi masyarakat. Harapannya, upaya yang dilakukan di USU dapat menjadi model bagi universitas lain di Indonesia untuk mengatasi krisis literasi yang sedang dihadapi bangsa.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan Dosen Pengampu, Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos dan Mia Aulina Lubis S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.