Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Entertaiment

Musik Pop-Punk: Antara Stigma Negatif dan Eksistensi

Penulis: Muhammad Fadhlan Amri

SUARAUSU, Medan. Apa yang terlintas dalam pikiran saat mendengar kata Punk ?  anak jalanan? anak putus sekolah? Narkoba, seks bebas atau alkohol? stigma negatif acap kali sejalan beriringan dengan kata punk.  Para pecinta musik punk juga tidak bisa lepas dari stigma tersebut. Lantas, apakah semua benar ?

Musik Punk adalah genre musik yang sangat populer pada tahun 90-an, Pada dasarnya musik punk adalah musik yang menjadikan realitas sosial sebagai isi dari lagu-lagunya. Tidak hanya berkisah tentang kebebasan dan isu-isu sosial, lirik lagu dari musik ini juga sering berkisah tentang persahabatan dan percintaan. Sayangnya, lantunan melodi yang cukup keras serta lirik dengan kosakata rumit, acapkali pesan yang dituangkan dalam genre musik ini disalahartikan oleh sebagian orang, ditambah lagi kebiasaan buruk dari para penggemar membuat citra musik punk semakin memburuk. Hingga akhirnya lahir sebuah kultur baru dari genre musik punk ini yakni Pop Punk.

Pop Punk adalah perpaduan antara musik punk dan musik pop, varian ini merupakan musik punk yang dibalut dengan kelembutan dari melodi gitar yang berasal dari musik pop dan distorsi gitar yang berasal dari musik punk. Awal kemunculannya diharapkan agar musik punk dapat diterima banyak kalangan. Genre musik Pop Punk membuat pesan yang dituangkan ke dalam lagu dapat tersampaikan dengan baik sehingga dapat menghilangkan atau paling tidak mengurangi stigma negatif musik punk.

Farhan, mahasiswa ilmu kesejahteraan sosial mengaku sebagai pecinta musik punk. Menurutnya, genre musik ini berserta musisinya kian hari semakin memberikan dampak yang baik, ia  menganut budaya “Straight Edge” sebagai pedoman dalam bersikap di dunia musik. “Straight Edge” adalah lagu dari band punk minor Threat yang popular di tahun 1981.

“I’m a person just like you, but I’ve got better things to do, than sit around and smoke dope, because I know that I can Cope”. Sepenggal lirik ini membuat gerakan masif anak punk secara internasional untuk menolak gaya hidup dengan seks bebas, alkohol serta narkoba dan mulai hidup sehat tanpa rokok. Dibalik label negatif masyarakat terhadap musik Punk. Sejatinya musik ini memiliki tempat istimewa di hati para penggemarnya, banyak orang yang menyukai genre ini karena makna- makna tersirat yang tertulis indah disetiap penggalan liriknya.

Untuk kota Medan sendiri genre ini cukup diminati  dan sempat menjadi salah satu genre musik terbesar  dikalangan musik underground pada tahun 2015 disertai dengan kemunculan festival musik pop-punk yaitu “Pop-Punk Fest” pada tahun 2017 yang meraup banyak penonton bak acuan bahwa genre musik ini masih sangat diminati.

Redaktur Tulisan: Putri Narsila

Related posts

Makna Toleransi Lagu “Kasih Putih” Glenn Fredly

redaksi

Lewat Karya Sisir Tanah Berpesan

redaksi

Pemanfaatan Instagram Untuk Meningkatkan Jumlah Konsumen Selama Pademi

redaksi