Oleh: Deswina Listiani Matondang
Suara USU, Medan. Kita berada di era ketika berkenalan dengan orang baru menjadi semakin mudah. Sebagai mahasiswa, hampir setiap hari kita berinteraksi dengan orang-orang dari beragam latar belakang, baik melalui perkuliahan, organisasi, kepanitiaan, komunitas, maupun media sosial. Kehadiran WhatsApp, Instagram, LinkedIn, dan berbagai platform digital lainnya turut membuat komunikasi berlangsung tanpa batas waktu dan tempat. Dalam keseharian, kita dapat memiliki banyak teman, bergabung dalam berbagai grup, serta mengenal lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya. Namun, banyaknya orang yang kita kenal tidak selalu berarti hubungan yang terjalin menjadi dekat dan bermakna.
Kondisi ini menarik untuk diperhatikan. Kehidupan sosial mahasiswa saat ini memang tampak semakin ramai, tetapi kedekatan yang terjalin antarmanusia belum tentu semakin kuat. Kita dapat mengenal banyak orang di lingkungan kampus, saling mengikuti di media sosial, bahkan berulang kali berinteraksi dalam berbagai kegiatan. Namun, ketika menghadapi persoalan atau sekadar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita dan perasaan, tidak selalu ada banyak orang yang benar-benar dapat menjadi tempat berbagi. Hal tersebut menunjukkan bahwa memiliki banyak koneksi tidak selalu berarti memiliki hubungan yang dekat dan bermakna.
Koneksi sebenarnya bukanlah sesuatu yang negatif. Bagi mahasiswa, memiliki jaringan pertemanan dan relasi yang luas justru dapat memberikan banyak manfaat. Melalui organisasi, kegiatan kampus, maupun komunitas, kita dapat mengenal orang-orang baru, memperoleh pengalaman, bertukar informasi, serta menemukan berbagai peluang untuk berkembang. Koneksi juga dapat membantu ketika kita membutuhkan informasi mengenai kegiatan, pekerjaan, pendidikan, maupun berbagai kesempatan lainnya.
Persoalan muncul ketika banyaknya koneksi justru dijadikan sebagai tujuan utama, sementara kualitas hubungan dan kedekatan antarmanusia mulai diabaikan. Pada akhirnya, memiliki banyak nama dalam daftar kontak, pengikut di media sosial, atau kenalan di berbagai lingkungan tidak selalu sebanding dengan jumlah orang yang benar-benar hadir ketika kita membutuhkan mereka.
Dalam keseharian, sebuah hubungan sering kali terbentuk karena adanya kebutuhan atau situasi tertentu. Misalnya, kita mengenal seseorang karena berada dalam satu kelompok tugas dan berkomunikasi selama proses pengerjaannya. Begitu pula ketika menjadi panitia sebuah acara, intensitas interaksi biasanya meningkat selama kegiatan berlangsung. Namun, setelah tugas atau kegiatan tersebut selesai, komunikasi pun perlahan berkurang. Hal ini bukan selalu disebabkan oleh adanya masalah, melainkan karena hubungan tersebut sejak awal terbentuk berdasarkan situasi dan kepentingan tertentu.
Pola semacam ini cukup umum terjadi di kalangan mahasiswa. Berbagai kesibukan memang membuat kita sering berinteraksi dengan banyak orang, tetapi belum tentu memberikan kesempatan untuk benar-benar mengenal mereka secara lebih dekat. Jadwal perkuliahan, tugas, organisasi, kepanitiaan, pekerjaan, hingga aktivitas lainnya membuat waktu sehari-hari dipenuhi berbagai tanggung jawab. Akibatnya, interaksi sosial sering kali hanya terjadi ketika ada hal yang perlu dikerjakan atau diselesaikan bersama.
Kedekatan sejatinya tidak hanya lahir dari seberapa sering kita berada di tempat yang sama atau bertukar pesan. Hubungan yang benar-benar dekat membutuhkan waktu dan proses. Kita perlu mengenal karakter satu sama lain, memahami kebiasaan, mendengarkan cerita, serta berbagi berbagai pengalaman bersama. Tidak kalah penting, sebuah hubungan juga membutuhkan ruang untuk membicarakan hal-hal di luar tugas, pekerjaan, maupun kepentingan tertentu.
Perkembangan media sosial membuat kondisi tersebut semakin terlihat. Kini, kita dapat mengetahui berbagai sisi kehidupan seseorang tanpa harus berinteraksi secara langsung. Melalui unggahan di media sosial, kita bisa melihat aktivitas teman, mengetahui pencapaian mereka, mengikuti perjalanan hidup mereka, hingga mengenal lingkungan pergaulannya. Namun, mengetahui berbagai informasi tentang seseorang tentu berbeda dengan benar-benar mengenalnya.
Psikolog klinis dewasa Universitas Indonesia, Inez Kristanti, dalam pemberitaan ANTARA menjelaskan bahwa penggunaan media sosial untuk berinteraksi dengan teman maupun kerabat tidak serta-merta menghilangkan rasa kesepian. Ia menilai kualitas interaksi melalui media sosial tidak sepenuhnya dapat menggantikan hubungan personal secara langsung. Media sosial memang mempermudah komunikasi, tetapi kedalaman hubungan yang terbentuk belum tentu sama dengan interaksi tatap muka.
Hal ini memperlihatkan bahwa teknologi bukanlah penyebab utama persoalan tersebut. Justru, media sosial memberikan berbagai kemudahan dalam mempertahankan hubungan, terutama ketika pertemuan secara langsung sulit dilakukan. Persoalannya lebih terletak pada cara kita memanfaatkannya. Ketika media sosial hanya digunakan untuk mengamati kehidupan orang lain atau menjaga hubungan sebatas permukaan, kedekatan secara emosional belum tentu terbentuk.
Fenomena serupa juga dapat ditemukan dalam kehidupan generasi muda. Kompas.com pernah membahas kondisi ketika seseorang memiliki banyak teman dan pengikut di media sosial, tetapi tetap kesulitan menemukan orang yang dapat diajak berbicara secara mendalam. Aktivitas seperti memberikan tanda suka, meninggalkan komentar, atau membagikan unggahan memang dapat menciptakan perasaan terhubung, tetapi belum tentu mampu menggantikan hubungan yang lebih personal dan bermakna.
Meski demikian, teknologi digital tidak sepenuhnya dapat dipandang sebagai penyebab renggangnya hubungan sosial. Laporan ANTARA mengenai perubahan pola pertemanan setelah pandemi menunjukkan bahwa 72% responden di Indonesia lebih banyak memanfaatkan platform daring untuk berkomunikasi, sementara 78% merasa komunikasi digital membantu mereka mempertahankan hubungan pertemanan. Data tersebut menunjukkan bahwa teknologi memiliki peran penting dalam menjaga relasi, khususnya ketika interaksi secara langsung terbatas. Namun, pada saat yang sama, rasa kesepian masih menjadi persoalan yang dialami oleh banyak orang.
Situasi ini akhirnya menghadirkan sebuah paradoks. Kita memiliki semakin banyak pilihan untuk berkomunikasi, tetapi belum tentu memiliki lebih banyak hubungan yang benar-benar dekat. Kita dapat mengirim pesan kepada siapa pun, tetapi belum tentu memiliki seseorang yang cukup dekat untuk mendengarkan cerita dan memahami perasaan kita. Kita juga bisa mengetahui begitu banyak hal tentang kehidupan orang lain, tetapi belum tentu memahami apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan.
Dalam hubungan yang benar-benar dekat, seseorang juga tidak selalu harus memberikan sesuatu yang menguntungkan. Teman tidak harus selalu memiliki informasi yang kita butuhkan, tidak harus membantu tugas, dan tidak harus membuka kesempatan tertentu. Hubungan yang tulus justru tetap memiliki nilai meskipun tidak menghasilkan manfaat yang dapat langsung dilihat. Seseorang bisa menjadi penting hanya karena kehadirannya membuat kita merasa didengar dan diterima.
Hal ini penting untuk diperhatikan mahasiswa karena masa kuliah sebenarnya bukan hanya tentang mendapatkan nilai atau menyelesaikan pendidikan. Kampus juga menjadi tempat seseorang belajar mengenal orang lain, menghadapi perbedaan, bekerja sama, dan membangun hubungan sosial. Tidak semua orang yang kita temui akan menjadi teman dekat, dan memang tidak perlu seperti itu. Namun, di tengah banyaknya orang yang kita kenal, tetap penting untuk memiliki beberapa hubungan yang benar-benar dirawat.
Kita juga tidak perlu melihat media sosial sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Media sosial tetap memiliki manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari. Platform digital dapat membantu seseorang mempertahankan hubungan dengan teman yang berada jauh, menemukan komunitas, dan berkomunikasi ketika tidak memungkinkan untuk bertemu. ANTARA juga memberitakan bahwa psikolog mendorong generasi muda untuk menemukan keseimbangan antara penggunaan media sosial dan aktivitas nyata, termasuk berinteraksi langsung dengan teman dan keluarga.
Yang perlu dilakukan adalah memberikan ruang yang lebih besar bagi hubungan di luar layar. Kita bisa tetap memiliki banyak koneksi tanpa harus menjadikan semua hubungan sebagai sesuatu yang bersifat transaksional. Tidak semua orang yang kita kenal harus memberikan keuntungan. Tidak semua pertemanan harus menghasilkan peluang. Ada hubungan yang cukup dipertahankan karena kita merasa nyaman berada di dalamnya.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang berapa banyak orang yang kita kenal, berapa banyak pengikut yang kita miliki, atau berapa banyak grup yang kita ikuti. Persoalannya adalah apakah dari semua hubungan tersebut ada orang-orang yang benar-benar kita kenal dan mengenal kita. Ada orang yang bisa diajak berbicara tanpa harus memiliki kepentingan tertentu, ada yang tetap hadir ketika keadaan tidak sedang menyenangkan, dan ada yang hubungannya tetap bertahan meskipun tidak setiap hari berkomunikasi.
Di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi, mungkin kita justru perlu kembali melihat arti dari sebuah relasi. Teknologi sudah membuat kita sangat mudah menemukan orang baru. Tantangan kita sekarang bukan lagi bagaimana memperbanyak koneksi, tetapi bagaimana menjaga hubungan yang sudah kita miliki agar tidak berhenti pada sekadar saling mengenal.
Sebab, memiliki banyak koneksi memang dapat membuat kehidupan sosial terlihat luas. Namun, hubungan yang benar-benar dekatlah yang membuat seseorang merasa memiliki tempat untuk pulang, bercerita, dan menjadi dirinya sendiri. Jangan sampai kehidupan yang semakin terhubung justru membuat kita lupa bahwa sebuah relasi membutuhkan lebih dari sekadar koneksi.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment