Oleh: Theresa Melyasari
Suara USU, Medan. Biskuit gabin yang selama ini dikenal sebagai camilan pendamping teh kini hadir dalam bentuk yang lebih modern melalui es krim gabin. Perpaduan biskuit gabin yang renyah dengan es krim yang lembut dan dingin menghadirkan sensasi berbeda dalam sekali santap. Rasa gurih dari biskuit berpadu dengan manisnya es krim sehingga menghasilkan cita rasa yang sederhana, tetapi menarik. Inovasi tersebut membuat gabin kembali mendapat perhatian, terutama setelah es krim gabin ramai diperbincangkan di media sosial.
Gabin merupakan sejenis biskuit kering dan renyah yang menyerupai crackers dan telah lama dikenal sebagai camilan masyarakat Indonesia. Istilah “gabin” dikenal dari merek biskuit kering berbentuk persegi yang populer sejak masa kolonial Belanda. Dalam perkembangannya, biskuit tersebut tidak hanya dinikmati secara langsung, tetapi juga dikreasikan menjadi berbagai jajanan, termasuk es krim gabin.
Es krim gabin disajikan menyerupai ice cream sandwich, dengan es krim yang diapit oleh dua keping biskuit gabin. Bagian luar terasa renyah ketika digigit, sedangkan es krim di bagian tengah memberikan sensasi lembut dan dingin. Rasa gurih gabin berpadu dengan rasa manis es krim sehingga menciptakan keseimbangan rasa yang sederhana. Es krim gabin juga dapat diberi tambahan topping, seperti meses dan saus cokelat, untuk memperkaya rasa serta tampilannya.
Pembuatan es krim gabin tergolong sederhana. Bahan yang diperlukan berupa biskuit gabin tawar atau gurih dan es krim siap pakai atau buatan sendiri. Es krim diletakkan di atas satu keping gabin, kemudian ditutup dengan keping lainnya. Kedua biskuit ditekan perlahan agar es krim merata di bagian tengah. Setelah itu, es krim gabin disimpan di dalam freezer hingga membeku sebelum disajikan. Berbagai topping dapat ditambahkan sesuai selera.
Popularitas es krim gabin turut didorong oleh media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Video singkat yang menampilkan potongan es krim gabin, kerenyahan biskuit, serta beragam varian rasa mampu menarik perhatian pengguna. Tampilan yang menarik membuat es krim gabin mudah dijadikan konten sekaligus memunculkan rasa penasaran calon konsumen.
Efek tersebut kemudian menciptakan fenomena word of mouth secara digital. Seseorang mencoba es krim gabin, membagikan pengalamannya melalui media sosial, kemudian orang lain ikut penasaran untuk mencobanya. Pola penyebaran informasi dari satu konsumen ke konsumen lain tersebut membuat makanan sederhana dapat berkembang dengan cepat dan berubah menjadi tren kuliner.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daya tarik makanan tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga oleh tampilan dan pengalaman yang ditawarkan. Media sosial turut mengubah cara konsumen mengenal makanan, dari sekadar mencicipi menjadi membagikan pengalaman kepada orang lain.
Di balik popularitasnya, es krim gabin juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk usaha. Bahan yang relatif mudah ditemukan dan proses pembuatan yang sederhana memungkinkan produk ini dibuat dalam berbagai varian sesuai selera konsumen. Kesederhanaan tersebut dapat menjadi nilai jual, terutama ketika produk dikemas dengan tampilan yang menarik dan dipasarkan melalui media sosial.
Namun, penyajian es krim gabin memerlukan perhatian karena es krim mudah mencair dan dapat membuat biskuit kehilangan kerenyahannya. Oleh sebab itu, produk perlu disimpan di dalam freezer dan disajikan dalam kondisi dingin agar perpaduan tekstur biskuit dan es krim tetap terasa.
Kemunculan es krim gabin menunjukkan bahwa inovasi kuliner tidak selalu harus menghasilkan produk yang sepenuhnya baru. Makanan yang telah dikenal masyarakat dapat kembali menarik perhatian ketika mendapat sentuhan dan penyajian yang sesuai dengan perkembangan zaman. Biskuit gabin yang dahulu lekat sebagai camilan pendamping teh kini memperoleh bentuk baru sebagai kudapan dingin yang menawarkan pengalaman berbeda.
Pada akhirnya, es krim gabin menjadi contoh bahwa kreativitas dapat lahir dari sesuatu yang sederhana. Dari camilan yang telah akrab di masyarakat, gabin kini memiliki cara baru untuk dinikmati dan kembali menemukan tempat di tengah perkembangan tren kuliner masa kini.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment