Oleh : Anastasyia Dwi T Sitinjak
Suara USU, Medan. “Si Bungsu” merupakan lagu solo perdana dari Sambadha, vokalis band Coldiac, yang dirilis pada 6 Maret 2026. Lagu ini mengangkat cerita tentang isi hati seorang anak bungsu, sosok yang kerap terlihat paling ceria, tetapi sering kali menyimpan banyak hal dalam diam. “Si Bungsu” juga menjadi pembuka untuk mini album bertajuk Ruang Ruang Sandar, membawa tema tentang ruang pulang dan tempat berteduh secara emosional.
Petikan gitar akustik yang lembut berpadu dengan vokal yang pelan dan intim, menciptakan suasana yang tenang sekaligus menyentuh. Tidak ada elemen musik yang berlebihan, justru kesederhanaan inilah yang membuat emosi dalam lagu lebih terasa. Pendengar seakan diajak masuk ke dalam lagu, mengikuti setiap perasaan yang ingin disampaikan.
Nuansa tersebut semakin diperkuat tatkala pendengar menelisik barisan liriknya.
Katanya ku paling ceria
Nyatanya paling pintar
Sembunyikan masalah-masalah
Di balik telingaku
Agar keluhanmu
Yang paling menggema
Lewat penggalan ini, Sambadha menggambarkan bagaimana anak bungsu sering kali dipersepsikan sebagai sosok yang ringan, hangat, dan membawa suasana bahagia. Namun di balik itu, ada kebiasaan untuk menahan dan menyembunyikan masalah pribadi. Ia memilih diam, bukan karena tidak punya luka, melainkan karena tidak ingin menambah beban orang lain. Kalimat “agar keluhanmu yang paling menggema” terasa begitu dalam, seolah menunjukkan bahwa ia lebih rela menjadi tempat mendengar dibandingkan didengar.
Pada bagian berikutnya, lagu ini mulai menunjukkan sisi lain dari anak bungsu, bukan hanya tentang memendam, tetapi juga tentang bertahan dan menjadi kuat.
Nanti aku akan temukan sendiri
Tempat-tempat untuk aku pulang
Biar sekarang bersandar padaku
Luka-luka batin di sekitarku
Di sini, tersirat sebuah keyakinan bahwa meskipun saat ini ia harus menjadi sandaran bagi orang lain, suatu saat ia juga akan menemukan ruang untuk dirinya sendiri. Lagu ini menunjukkan bagaimana anak bungsu memiliki kekuatan yang tumbuh dari proses menerima dan bertahan.
Menariknya, “Si Bungsu” juga secara halus membongkar stigma yang selama ini melekat pada posisi anak bungsu. Selama ini, anak bungsu sering dianggap paling dimanja dan paling ringan bebannya. Namun, melalui lirik berikut, perspektif tersebut dipatahkan.
Katanya ku paling dimanja
Tak rela kehilangan
Masa-masa orang tua berjaya
Sekarang berjuanglah
Agar semuanya selamat jiwanya
Lirik ini terasa sangat personal, bagaimana anak bungsu tidak selalu hadir di masa terbaik orang tuanya. Ada kondisi di mana ia justru tumbuh di fase yang penuh perubahan, bahkan penurunan. Kalimat “tak rela kehilangan masa-masa orang tua berjaya” menyiratkan kerinduan akan masa lalu yang mungkin tidak sepenuhnya ia rasakan. Sementara itu, ajakan untuk “berjuang” menunjukkan bahwa ia pun ikut memikul tanggung jawab, meski sering kali tidak terlihat.
Dari segi penulisan, kekuatan lagu ini terletak pada kesederhanaan bahasanya. Sambadha tidak menggunakan diksi yang rumit, tetapi tetap mampu menyampaikan emosi yang dalam dengan realitas banyak orang. Lirik-liriknya terasa seperti percakapan dengan diri sendiri, sehingga mudah untuk dipahami sekaligus dirasakan.
“Si Bungsu” bukan hanya lagu tentang posisi dalam keluarga, tetapi juga tentang perasaan yang sering disembunyikan oleh banyak orang, menjadi kuat untuk orang lain, meski diri sendiri sedang lelah. Lagu ini hadir seperti pelukan, mengingatkan bahwa tidak apa-apa jika sesekali ingin berhenti, mengakui lelah, dan mencari tempat untuk bersandar. Melalui lagu ini, Sambadha menunjukkan bahwa di balik sosok yang terlihat paling kuat atau paling ceria, selalu ada sisi rapuh yang juga butuh didengar.
Redaktur: Frianka Raya Sitanggang
Leave a comment