Home Tulisan Pendampingan “My Feelings Matter Day” di Panti Asuhan Penuh Pengharapan
Tulisan

Pendampingan “My Feelings Matter Day” di Panti Asuhan Penuh Pengharapan

Share

Oleh: Rifatul Suaidah

Suara USU, Medan. Pengelolaan emosi pada anak-anak panti asuhan menjadi aspek fundamental yang memerlukan perhatian khusus dalam upaya mendukung perkembangan psikososial mereka. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan seringkali menghadapi tantangan emosional yang kompleks akibat pengalaman hidup yang kurang stabil dan kehilangan figure attachment utama. Panti Asuhan Penuh Pengharapan yang berlokasi di Jl. Pembangunan No.86, Beringin, Kec. Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara menjadi rumah bagi 22 anak dengan rentang usia yang beragam, dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Dalam rangka meningkatkan kesedaran emosional mereka, dilakukan pendampingan bertajuk “My Feelings Matter Day” yang dirancang khusus untuk membantu anak-anak mengenali, memahami, dan mengelola emosi mereka secara konstruktif.

Program pendampingan ini dilaksanakan oleh Rifatul Suaidah, mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU Angkatan 2023, sebagai implementasi praktis dari mata kuliah Community Organization Community Development (COCD) dibawah bimbingan Dr. Agus Suriadi, S.Sos., M.Si. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 6 Juni 2025 ini bertujuan memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka tanpa rasa takut atau malu, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan dasar pengelolaan emosi yang akan berguna sepanjang hidup.

Anak-anak yang berada dalam lingkungan panti asuhan menghadapi berbagai tantangan emosional yang spesifik seperti kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi karena keterbatasaan pengalaman dalam lingkungan yang memberikan ruang eksplorasi emosional membuat anak-anak kesulitan mengenali perasaan mereka sendiri.

Pendekatan “My Feeling Matter Day” sebagai strategi pendampingan diawali dengan tahap persiapan yang matang, termasuk survei lokasi, penyerahan surat izin resmi, dan koordinasi dengan pengurus panti untuk memastikan program berjalan optimal. Mengingat keberagaman usia peserta yang didominasi anak kelas 1 SD (8 tahun) hingga satu anak SMA, pendekatan yang digunakan harus fleksibel dan adaptif.

Sesi pertama dimulai dengan perkenalan diri untuk menciptakan atmosfer yang hangat dan terbuka. Tahap ini krusial karena membangun kepercayaan dan rasa aman yang diperlukan anak-anak untuk dapat mengekspresikan diri dengan leluasa. Selanjutnya, dilakukan pengenalan konsep dasar emosi melalui metode yang interaktid dan mudah dipahami.

Bagian yang paling menarik adalah pembelajaran kognitif tentang ekspresi wajah. Anak-anak diajak mengamati gambar ekspresi dan diminta mengidentifikasi emosi yang sesuai. Metode visual ini efektif karena membantu anak-anak memahami bagaimana emosi internal termanifestasi secara eksternal. Salah satu anak panti, Teguh, menunjukkan antusiasme tinggi mengatakan “Saya Bahagia dengan hadirnya kakak disini, saya senang bisa belajar tentang emosi dan bermain bersama,” ungkapnya.

Puncak kegiatan adalah sesi pengungkapan emosi di mana setiap anak diberi kesempatan menceritakan pengalaman yang memicu berbagai perasaan. Pendekatan naratif ini tidak hanya melatih kemampuan verbal mereka, tetapi juga memfasilitasi proses refleksi dan pemahaman mendalam tentang emosi. Beberapa anak mulai terbuka menceritakan pengalaman yang membuat mereka senang, sedih, marah, atau takut, menunjukkan bahwa program ini berhasil menciptakan ruang yang aman untuk berbagi.

Program “My Feelings Matter Day” memberikan dampak positif, seperti:

  1. Peningkatan kesadaran emosional:  Anak-anak menjadi lebih mampu mengenali dan memberi nama pada emosi yang mereka rasakan, yang merupakan langkah awal penting dalam pengelolaan emosi.
  2. Pengembangan keterampilan komunikasi emosional: Melalui sesi berbagi cerita, anak-anak belajar mengekspresikan perasaan mereka dengan kata-kata yang tepat dan konstruktif.
  3. Penguatan resiliensi psikologis: Pemahaman bahwa emosi adalah bagian normal dari kehidupan manusia membantu anak-anak mengembangkan ketahanan mental yang lebih baik.
  4. Peningkatan interaksi sosial: Kegiatan bermain bersama di akhir sesi memfasilitasi pembentukan ikatan positif dan meningkatkan keterampilan sosial mereka.

Rifatul Suaidah mengungkapkan harapannya bahwa pendampingan ini dapat meningkatkan kesadaran emosional anak-anak. Ia menekankan pentingnya tidak memendam emosi karena dapat memberikan efek buruk jangka panjang terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan emosional mereka. Kemampuan mengenali dan mengelola emosi sejak dini merupakan investasi berharga untuk perkembangan mereka di masa depan.

Program ini juga memberikan pembelajaran tak ternilai bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi profesional dan empati. Pengalaman langsung dalam memberikan pendampingan sosial membantu memahami kompleksitas tantangan yang dihadapi anak-anak panti asuhan dan pentingnya pendekatan yang holistik dalam mendukung perkembangan mereka.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD) dengan Dosen Pengampu Dr. Agus Suriadi, S.Sos., M.Si.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.