
Oleh: Lucy Kezia Simarmata
Namaku Maharja. Sejak umur tujuh tahun, aku lebih akrab dengan kertas dan pena dari pada boneka atau sejenisnya. Aku suka menciptakan duniaku sendiri lewat narasi yang kaya akan makna. Menurutku, menulis adalah kunci untuk bisa membuka pintu-pintu perasaan. Sejak kecil, menurutku menulis adalah seni yang paling melindungi. Aku merasa aman ketika menulis, merasa tidak akan ada yang menghakimiku.
Tapi di rumah, tulisan-tulisanku hanya dianggap angin lalu. Ayahku berucap, “Menulis itu hobi, Ja. Bukan profesi yang bisa bikin kamu kaya. Kamu mau jadi penulis? Siap-siap jadi miskin,”
Ibuku orang yang setia pada kelembutannya, tapi jika boleh kutelisik, dan sekiranya perkiraanku tidak meleset, di dalam matanya terkandung kekhawatiran. “Kamu kan pinter, Ja. Mending jadi PNS aja, lebih pasti, lebih jelas. Hidup ini butuh kepastian, Ja.”
Aku membisu. Berapa kali lagi pemberontakan harus timbul dan memenuhi seisi ruangan dan berputar di antara kami? Maka aku memilih diam. Aku belajar menyembunyikan tulisan-tulisan ini. Aku tetap menulis di malam hari, kamar dengan warna biru yang mendominasi ini menjadi saksi. Di balik selimut dengan senter kecil, diriku yang sudah menginjak dewasa awal mulai mencurahkan imajinasi dengan batasan-batasan itu. Aku menumpuk cerita di file laptopku, sembari belajar akuntansi sesuai keinginan orang tuaku.
Namun, setiap malam, sebelum tidur, doa-doa itu tak pernah terlewatkan untuk kusampaikan kepada pemilik semesta ini. Doa yang sejatinya lirih, tapi penuh getar. Kumohonkan agar kata-kata yang lahir dariku suatu saat bisa bermakna, sehingga mimpiku tak menjadi kesia-siaan. Aku percaya, Tuhan mendengar suara yang bahkan tak terdengar di gendang telinga manusia.
***
Waktu terus berjalan tanpa peduli bagaimana dinamika mimpi yang aku rasakan. Aku tumbuh dewasa, menjadi mahasiswa di jurusan Ekonomi dan Bisnis sesuai keinginan orang tuaku. Aku belajar keras, berusaha meraih yang terbaik, tapi seperti ada satu bagian yang kosong dalam diriku. Rasanya seperti hilang. Ya, hilang.
Dunia angka terlalu sunyi bagi jiwaku yang haus imajinasi. Tapi aku tetap menulis dengan sisa-sisa semangat yang kupunya, di tengah padatnya jadwal skripsi dan laporan yang setiap hari menggentayangiku. Selalu ada semangat untuk karya, sebab narasi adalah selimut yang menghangatkanku dari dingin kenyataan.
Beberapa kali aku mencoba mengirimkan karya ke lomba-lomba menulis daring. Beberapa kali pula aku berhadapan langsung dengan kegagalan. Namun, aku tak berhenti, sebab mimpiku selalu lebih besar dari logika yang kupunya. Setiap kiriman disertai dengan doa yang sama. Tak banyak harapan, hanya secercah cahaya yang kupegang teguh.
Kali kesekian aku mengirimkan karya tulisku dalam lomba menulis yang dilaksanakan secara daring. Tidak banyak yang kuuntai dalam harap, yang kali ini kuteguhkan terus do’aku dan memohonkan yang terbaik bertemu tujunya. Perlahan tapi pasti kuarahkan kursor ke simbol yang akan mengantarkan karyaku pada ruang pengumpulan lomba dan penilaian para juri.
Send
“Semoga kata-kata ini menemukan takdirnya,” lirihku dengan senyum tipis tersungging.
Hingga hari itu tiba, pada malam yang sunyi, sebuah surel masuk. Berdebar hatiku membuka laman yang memuat surel itu, surel dengan denting harapan di hatiku. Perlahan tapi pasti, layar laptopku menyajikan sebuah pengumuman. Sesuatu yang selalu membuatku harap-harap cemas, pengumuman perlombaan menulis.
Selamat! Cerpen Anda berjudul “Langit di Ujung Jendela” memenangkan juara pertama dalam Lomba Cerpen Remaja Nasional. Karya Anda akan dibukukan bersama karya sembilan penulis lainnya yang terpilih dan diterbitkan secara nasional.
Tangisku pecah malam itu. Bukan karena hadiah atau ketenaran. Tapi karena untuk kali pertama, dunia membalas cintaku dengan tulus. Dunia kecil yang aku bangun dari huruf demi huruf kini menemukan tempatnya untuk pulang dan direngkuh kebahagiaan. Aku menengadah, lama. Dalam hening, aku tahu, ini bukan hanya kerja keras, tetapi juga bah dari doa-doa sunyi yang kupanjatkan ketika gelombang tetha tiba.
Dua bulan berikutnya, namaku dipanggil untuk menerima penghargaan itu ke Jakarta. Dan ajaibnya, namaku masuk surat kabar lokal. Kepala sekolah SMA-ku dulu, memanggilku untuk datang ke sekolah dan memberi semnagat kepada adik-adik di sana. Ayah yang dulunya sinis, kini menatapku penuh haru dan menepuk pundakku.
“Ternyata tulisanmu bisa sejauh ini, ya. Maaf, dulu ayah ragu.”
Ibu tidak bisa berkata apa-apa. Tapi pelukannya malam itu terasa jauh lebih hangat dibandingkan hari-hari biasa. Seakan berkata, “Nak, ternyata doa kita tak pernah pergi sia-sia.”
Tawaran demi tawaran mulai datang menghampiriku, bahkan tanpa kucari. Aku menulis naskah webseries, menyunting cerpen untuk penerbit, hingga berhasil menerbitkan karya yang masuk sebagai bahan bacaan ekstrakurikuler sastra di beberapa instansi sekolah di daerahku. Royalti yang pertama kali kudapat, kupakai untuk membeli laptop baru. Ia kunamakan Mula, karena dari sanalah semuanya dimulai.
***
Namun, dunia tak sepenuhnya berubah. Stigma budaya dan lingkungan sosialku kerap kali berbisik, “Bagus nulisnya, Tapi tetep ikut formasi PNS ya. Biar hidupmu jelas,” lontara-lontaran semacam itu kerap masuk juga di terlingaku.
Aku hanya dapat mengulas senyum, mengetahui juga bahwa mereka tak sepenuhnya salah. Tapi hatiku tak pernah bisa berbohong. Aku tidak membenci pekerjaan tetap, hanya saja menurutku hidup bukan cuma perihal pekerjaan, melainkan juga bagaimana aku menyalurkan minat dan kesenangan pribadiku. Hidupku bukan di balik meja registrasi atau laporan bulanan. Bagiku, hidupku ada dalam bait-bait yang tak pernah selesai
Kini, aku juga bekerja sebagai editor lepas. Aku tak bisa keluar dari ‘menulis’ yang sudah menjadi napasku. Aku telah hidup dalam dua dunia, yang satu nyata, satunya lagi berwujud kata. Dan keduanya saling menopang. Tak ada yang berdiri lebih tegak. Tak ada pula yang berdiri lebih tinggi.
Aku belajar satu hal, dunia kadang tak percaya pada mimpi, tapi selama kau menulis dengan jujur dan berdoa dengan sungguh, semesta pun akan enggan untuk diam.
Saat itu, malam-malamku berjalan seperti biasanya. Dengan secangkir teh, jendela yang terbuka, angin yang menyelusup masuk perlahan dan doa yang kubisikkan dengan penuh harap. Tapi ada yang berbeda, kini aku tak lagi menulis dalam diam. Aku membuka cakrawalaku dan membiarkan sekawanan diksi memenuhi pikiranku. Semua ini kulakukan karena aku tahu, suara sekecil apapun, jika terus diperjuangkan akan menemukan jalannya pulang.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment