SUARA USU
Uncategorized

Peran Pekerja Sosial Dinas Sosial Kota Medan dalam Penanganan Kasus ‘Lahirnya’ Pengemis Akibat Konflik Keluarga

Penulis: Saskia Amanda Hasibuan

Suara USU, Medan. Magang Merdeka Bersertifikat adalah bagian dari program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman kerja nyata di industri dan berbagai lembaga, sekaligus mendapatkan sertifikat yang diakui oleh perguruan tinggi dan industri.

Salah satunya Saskia Amanda Hasibuan (210902062) Mahasiswi jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi peserta magang bersertifikat (MSIB) di Dinas Sosial Kota Medan yang berlokasi di Jalan. Pinang Baris No.114, Lalang, Kec. Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara 20127. Saskia berkesempatan menjalani program magang di bidang Rehabilitasi Sosial sebagai Pekerja Sosial  yang mana telah berlangsung selama 4,5 bulan.

Pekerja sosial adalah tenaga profesional yang berfokus pada membantu individu, keluarga, dan komunitas dalam meningkatkan kesejahteraan, pengentasan masalah sosial, dan mencapai potensi maksimal dari masyarakat. Pekerjaan ini melibatkan intervensi di berbagai tingkat, mulai dari dukungan individual hingga advokasi untuk perubahan kebijakan.

Dalam praktiknya pekerja sosial menggunakan pendekatan casework, yaitu metode penanganan kasus yang berfokus pada kebutuhan individu. Salah satunya kasus yang pernah ditangani, didapati seorang pemuda  yang pergi dari rumah akibat konflik keluarga yang berkepanjangan hingga menjadi pengemis di jalanan (PPKS). Keluarga pemuda tersebut menunjukkan ketidakpedulian terhadap situasi ini, sehingga menyulitkan proses penanganan kasus.

Dalam konteks kesejahteraan sosial, pengemis adalah individu yang berada dalam kondisi ekonomi yang sangat lemah sehingga memerlukan bantuan dari masyarakat atau pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Pengemis sering kali merupakan bagian dari kelompok yang rentan, yang mengalami berbagai masalah sosial seperti pengangguran, kurangnya pendidikan, masalah kesehatan, dan keterbatasan akses ke layanan sosial.

Mengingat situasi yang mendesak dan kurangnya dukungan dari keluarga, pekerja sosial memutuskan untuk menempatkan pemuda tersebut di unit pelayanan terpadu pelayanan sosial gelandangan pengemis Binjai. Unit Pelayanan ini berfungsi sebagai tempat perlindungan sementara bagi gelandangan dan pengemis yang membutuhkan bantuan dan perlindungan. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya peran pekerja sosial dalam membantu individu dan keluarga yang menghadapi masalah sosial. Pekerja sosial tidak hanya memberikan bantuan praktis, tetapi juga dukungan emosional dan pendampingan dalam mencari solusi terbaik bagi klien mereka.

Selain itu, kasus ini juga menyoroti masalah konflik keluarga yang dapat berdampak serius pada anggota keluarga yang bermasalah. Penting bagi keluarga untuk selalu merangkul dan menyadari dampak negatif dari konflik keluarga bagi masa depan anggota keluarganya.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat lebih memperhatikan isu-isu seperti ini dan memberikan dukungan yang lebih besar kepada pekerja sosial dalam menjalankan tugas mereka. Dengan kerjasama semua pihak, diharapkan kasus-kasus seperti ini dapat ditangani dengan lebih efektif dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS) yang membutuhkan.

Artikel ini adalah publikasi tugas Praktek Kerja Lapangan dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos

Redaktur: Khaira Nazira


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Pelatihan dan Pendampingan Batik Aksara Karo: Tim PKM Bersama Mitra Menghidupkan Warisan Budaya di Desa Ndeskati, Kabupaten Karo

redaksi

Peningkatan Minat Belajar Siswa dengan Variasi Belajar Audio Visual dan Interaktif di SDN 060890 Medan Polonia

redaksi

Implementasi Nilai-Nilai Gotong Royong Dalam Membangun Solidaritas Sosial Pada Era Digital

redaksi