Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Sosok

Polisi Idaman Semesta Pernah Ada, Namanya Hoegeng Iman Sentosa

Oleh: Kurniadi Syahputra

Belakangan, media nasional kembali ramai terkait pemilihan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) baru. Nama Listyo Sigit Prabowo muncul sebagai calon tunggal. Calon Kapolri baru itu nantinya, tentu punya banyak pekerjaan rumah. Salah satu yang paling penting adalah soal perbaikan citra polisi di masyarakat.

Lembaga Survei Indonesia pada tahun 2019 menyebutkan, setiap tahun kepercayaan publik terhadap institusi Polri paling menurun di antara institusi lainnya. Ditambah lagi dengan isu suap petinggi Polri dan represi aparat kepolisian kepada rakyat sipil akhir-akhir ini. Citra polisi sebagai pengayom masyarakat agaknya masih jadi jalan panjang.

Gus Dur pernah bilang, “Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng”. Lelucon itu dilontarkan Gus Dur di sela menyinggung pemberantas korupsi kala itu.

Siapa sih sebenarnya mantan Kapolri yang bernama lengkap Hoegeng Iman Sentosa itu?

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Sentosa lahir di Pekalongan, pada 14 Oktober 1921. Ia merupakan anak dari Sukario Hatmodjo, salah satu ningrat yang juga pernah menjabat Kepala Kejaksaan di sana. Nama Hoegeng merupakan plesetan dari kata Bugel. Kisahnya, saat kecil, Hoegeng berbadan gemuk. Meski setelah ia remaja dan jadi polisi ia tak pernah gemuk lagi, Hoegeng tak berniat mengganti namanya.

Hoegeng selalu diidentikkan sebagai contoh polisi yang jujur dan baik. Secercah kisah kejujuran Hoegeng ditulis oleh sejarawan Asvi Warman Adam di Harian Kompas tepat pada Hari Bhayangkara, 1 Juli 2004.

Dalam tulisannya, Asvi menyebutkan bahwa integritas Hoegeng merupakan penghormatan untuk ayahnya. Setelah lulus Sekolah Kepolisian PTIK pada 1952, Hoegeng bertugas di Jawa Timur.

Kisah Hoegeng saat Bertugas di Medan

Jenderal Hoegeng bersma Michael Rubbo dalam dokumenter Wet Earth, Warm People Jakarta 1971

Ada memoar penting antara kisah Hoegeng dengan Kota Medan. Yakni saat Hoegeng bertugas sebagai Kepala Reskrim di Sumatera Utara. Kota Medan yang kala itu dikenal karena kasus perjudian, penyelundupan dan premanisme, menjadi ‘test case’ bagi Hoegeng.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Medan, Hoegeng beberapa hari memilih tinggal di hotel dengan keluarganya. Hal tersebut dilakukan karena Hoegeng menolak menempati rumah pribadi yang disediakan cukong judi. Bahkan, saat telah mendapatkan rumah dinas, ia mengeluarkan segala macam perabotan pemberian orang lain. Karena baginya, hal itu merupakan bentuk suap.

Kabar Hoegeng yang dikenal sebagai polisi jujur dan anti suap itu menjadi buah bibir di kalangan polisi Sumut dan para mafia di Medan. Bahkan kisahnya itu, seringkali diceritakan sesama polisi di Sumut hingga sekarang.

Setelah menjalankan tugas di Medan, ia kembali ke Jakarta. Karena integritasnya yang semakin dikenal luas pada kala itu, pada 1968 Hoegeng dipercayakan Soeharto sebagai Kapolri.

Hoegeng saat Menjadi Kapolri

Saat menjabat Kapolri, banyak kebijakan Hoegeng yang bisa dirasakan hingga sekarang. Yang paling terkenal ialah kewajiban penggunaan helm bagi pesepeda motor. Dalam dokumenter karya Michael Rubbo berjudul Wet Eart, Warm People Jakarta tahun 1971, Hoegeng ditampilkan sebagai sosok polisi yang dekat dengan rakyat. Ia datang paling pagi ke kantor, dan senang terlibat sosialisasi langsung dengan masyarakat. Selain itu, Hoegeng juga dikenal dekat dan terbuka dengan pers.

Pada tahun 1968, Jenderal Hoegeng pernah menghadap Soeharto. Saat itu Soeharto bilang kalau polisi tak lagi bertugas di medan tempur. Karena saat itu, Brigade Mobil Polri sering terjun di berbagai pertempuran. Lalu Hoegeng menjawab, “Kalau begitu angkatan lain juga jangan mencampuri tugas angkatan kepolisian,” tegas Hoegeng yang membuat Soeharto terdiam.

Sepak terjang Hoegeng yang terkenal jujur dan tegas mulai mengusik keluarga cendana. Salah satunya karena kasus paling pelik tentang pemerkosaan Sum Kuning. Kasus ini menjadi sulit dituntaskan karena disinyalir melibatkan anak-anak pejabat.  Saat itu, pada 21 Septermber 1970, menurut pengakuan Sum, ia diperkosa dan melapor polisi. Alih-alih mendapatkan keadilan, ia malah dijadikan tersangka karena tuduhan membuat laporan palsu.

Hoegeng yang terus memantau perkembangan kasus ini, memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jateng Kombes Suswono. Hoegeng memerintahkan mereka untuk mencari fakta soal pemerkosaan itu. “Perlu kita ketahui kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Mahas Esa. Jadi kalau salah tetap kita tinda,” ujar Hoegeng tegas.

Kasus Sum Kuning terus membesar bagai bola salju. Sejumlah anak pejabat di Yogyakarta disebut terlibat dalam kasus itu. Kasus itu bahkan sampai melibatkan Soeharto. Polisi Hoegeng menyadari, ada kekuatan besar untuk membuat kasus itu jadi bias.

Selain itu, kasus besar lain yang ditangani Hoegeng adalah soal penyelundupan ratusan mobil mewah oleh Robby Tjahyadi. Kapolri Hoegeng menduka ada pemain besar dan pejaba tinggi Negara yang ikut bermain. Hoegeng akhirnya tak ikut kasus ini karena diduga pelaku penyelundupan merupakan kolega dekat keluarga cendana.

Kehidupan Hoegeng Setelah Pensiun

Masa Pensiun Hoegeng dihabiskan dengan berkesenian Foto: Tempo

Pada akhirnya, tanggal 2 Oktober 1971, Soeharto mencopot Hoegeng dari jabatannya sebagai Kapolri. Soeharto beralasan bahwa pergantian itu sebagai peremajaan. Tapi ironinya, Hoegeng justru diganti oleh Jenderal M Hasan yang umurnya lebih tua.

Hoegeng menghadap Soeharto. Ia menanyakan kenapa dicopot. Seoharto menjawab bahwa tak ada tempat untuk Hoegeng lagi. “Ya sudah. Saya keluar saja (dari kepolisian),” jawab Hoegeng tegas.

Pada masa itu, sudah jadi kebiasaan orde baru, menyingkirkan orang yang kritis dan bersebrangan secara politik.

Saat ditawari jadi diplomat oleh Soeharto, Hoegeng menolak karena tak sesuai dengan ilmu yang dianutnya. Keputusan Hoegeng menolak jadi diplomat dipertanyakan oleh anak sulungnya. Anak sulungnya berharap agar Hoegeng mau menerima jabatan itu agar mereka dapat ke luar negeri. Lalu dengan penjelasan lembut, akhirnya Si Sulung memahami.

Saat meminta nasihat oleh ibunya, Hoegeng diberi nasihat yang luar biasa. “Geng, kalau kamu jujur, kami masih bisa makan nasi sama garam,” kenang Merry saat peluncuran buku “Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan” pada 2013 silam.

Suatu waktu, Putra Hoegeng pernah bertanya kepadanya, “Kenapa bapak tak pernah pakai nama lengkap baik saat bertugas maupun di banyak surat dan dokumen?” Tanya putranya. Hoegeng pun menjawab “Nama itu baru bisa aku pakai dan buktikan saat aku membawa imanku hingga aku tiada. Dan aku akan membuktikannya,” kata Hoegeng. Menurut Hoegeng, arti namanya yang iman selama-lamanya akan terus menjadi prinsip hidupnya.

Hoegeng menghabiskan masa pensiun dengan menjadi seniman. Sesekali ia tampil di TVRI menyanyikan lagu dari Hawai. Selain itu, ia juga aktif melukis di pekarangan rumahnya.

Ia menghembuskan napas terakhir pada 14 Juli 2004 dan dimakamkan ti TPU Parung, Bogor. Ia minta dimakamkan di TPU agar nantinya istrinya bisa dimakamkan di sebelahnya.

Cerita Hoegeng, jasa dan penghargaannya, memang wajib dicontoh. Apalagi utntuk kita para penerus bangsa dan para penegak hukum.

Penegak hukum dan masyarakat di Medan dan Indonesia perlu tahu, bahwa polisi bersih, jujur, dan berintegritas tinggi pasti ada. Salah satunya Hoegeng Iman Sentosa.

Related posts

Drg. Henry Sembiring, Alumni USU yang Mengabdi di Tanah Papua

redaksi

Juara 1 Lomba Membuat Esai, Ini Tips dan Trik dari Rizki Fahlevi

redaksi

Ahli Editing Video, Ini Perjuangan Rizky Mitra Hamdani

redaksi