Oleh : Rosani Margaretha Samosir
Suara USU, Medan. “Apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini?” “Lalu, bagaimana bila pada akhirnya kita pulang tanpa menggenggam satu pun kemenangan?”
Pertanyaan itu datang singkat sekali, hampir seperti bisikan yang terselip di antara riuh pagi. Timo pun tidak menjawabnya. Ia hanya berdiri mematung, memandang jalanan yang dipenuhi langkah manusia yang bergegas, seolah setiap detiknya adalah sesuatu yang harus dikejar sebelum terlambat. Pagi di kota memang selalu lahir dengan cara yang tergesa-gesa, matahari bahkan belum sepenuhnya membuka mata, tetapi jalan sudah sesak oleh deru mesin dan percakapan yang saling bersilang.
Orang-orang berlalu dengan wajah yang dipenuhi ambisi, membawa tas di pundak sekaligus beban harapan di kepala mereka. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti arus sungai yang panjang. Ribuan manusia mengalir tanpa berhenti, bergerak menuju tempat-tempat yang mereka yakini sebagai muara tujuan. Timo pun menjadi partikel kecil dari arus yang tak pernah surut tersebut.
Setiap hari ia menapaki trotoar yang sama, melewati gedung-gedung pencakar langit yang berdiri seperti saksi bisu dari ribuan mimpi manusia. Di jendela-jendela kaca itu, matahari sering memantulkan bayangan orang-orang yang sedang melintas, bayangan yang tampak kerdil di antara dinding-dinding beton yang angkuh. Sejak kecil, Timo selalu diajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju sesuatu yang besar. Ada cita-cita yang harus dicapai, keberhasilan yang wajib diraih, dan masa depan yang sudah sepatutnya diperjuangkan dengan sisa-sisa tenaga.
Orang-orang dewasa sering membicarakan masa depan layaknya sebuah puncak gunung yang tinggi. Mereka selalu berkata, “Jika kamu cukup kuat berjalan, suatu hari kamu akan sampai di sana.” Maka, Timo pun terus berjalan. Ia melintasi hari-hari di sekolah yang menjemukan, melalui malam-malam belajar yang panjang, hingga merakit mimpi-mimpinya serapi batu-batu kecil di dalam saku. Namun, waktu memiliki cara yang unik untuk membuka tabir pemikiran manusia.
Semakin jauh melangkah, semakin Timo menyadari bahwa tidak semua orang yang berhasil menginjakkan kaki di puncak benar-benar merasa bahagia. Ia sering melihat orang-orang yang memiliki segalanya, tetapi tetap melangkah dengan gurat wajah yang lelah. Sebaliknya, ia justru menemukan kedamaian pada sosok-sosok sederhana, pada penjual makanan di pinggir jalan atau tukang sapu yang menyenandungkan lagu kecil di pagi hari. Mereka tampak jauh lebih tenang dibanding banyak orang yang mengejar dunia dengan napas terengah-engah.
Pertanyaan itu perlahan tumbuh di dalam dirinya seperti benih yang diam-diam mencari celah cahaya. Ia terus merenung, sebenarnya apa yang dicari manusia di dunia ini? Suatu sore, saat Timo duduk di bangku taman yang dikelilingi pohon-pohon tua, angin sore menyusup di antara dedaunan. Suara desirannya terdengar seperti halaman buku yang dibuka oleh tangan tak terlihat. Cahaya senja jatuh di atas tanah dengan warna keemasan, seolah langit sedang menumpahkan sisa-sisa harinya sebelum malam menjemput.
Timo mengamati orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Ada mahasiswa yang tertawa lebar, suaranya ringan seperti burung yang baru belajar terbang. Ada pula seorang pria dengan langkah cepat dan wajah tegang, seakan seluruh beban dunia sedang menanti jawabannya. Setiap orang memang bergerak menuju sesuatu, tetapi tidak semua benar-benar tahu apa yang sebenarnya mereka cari.
Di bangku yang tidak jauh darinya, seorang lelaki tua duduk dengan tenang. Tangannya sesekali menaburkan remah-remah roti ke tanah, memancing burung-burung kecil datang berkerumun seperti titik-titik hidup di atas rumput. Pemandangan itu begitu sederhana, tetapi entah mengapa terasa sangat damai di mata Timo. Lelaki tua itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. “Kelihatannya kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat,” katanya pelan.
Timo sedikit terlonjak karena dialog mendadak itu. Ia mencoba tersenyum tipis, meski senyum itu terasa agak canggung. “Pernah tidak,” sahutnya perlahan, “merasa seperti sudah berjalan sangat jauh, tapi tidak tahu sebenarnya sedang menuju ke mana?”
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia kembali menaburkan remah roti, memperhatikan burung-burung kecil yang berebut makanan di tanah. “Pernah. Semua orang pasti pernah merasakannya,” ujarnya kemudian.
Timo menunduk lesu. “Kadang saya merasa semua orang di dunia ini tahu tujuan mereka. Mereka terlihat begitu yakin dan sibuk mengejar sesuatu.” Ia menarik napas panjang, mencoba melapangkan dadanya. “Sedangkan saya, kadang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya saya cari.”
Lelaki tua itu tersenyum tenang, tipe senyum milik seseorang yang sudah lama berdamai dengan waktu. Ia menunjuk burung-burung kecil di tanah. “Lihat mereka. Burung-burung itu tidak tahu besok akan makan di mana, tetapi mereka tetap terbang setiap hari tanpa rasa takut.”
Timo terdiam seribu bahasa. Angin sore bergerak pelan di antara daun-daun, membawa aroma tanah yang hangat dan menenangkan. “Terkadang,” lanjut lelaki tua itu, “hidup bukan tentang menemukan jawaban-jawaban besar.”
“Lalu tentang apa?” tanya Timo penasaran.
Lelaki tua itu menatap langit senja yang kian jingga. “Belajar menikmati langkah,” jawabnya singkat. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih lembut. “Karena suatu hari nanti kamu akan menyadari bahwa bukan tujuan yang paling kamu ingat, melainkan perjalanan yang membuatmu menjadi dirimu yang sekarang.”
Timo memandangi cahaya senja yang perlahan turun ke bumi. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Sesuatu yang selama ini ia kejar dengan tergesa seolah berhenti berlari. Langit perlahan berubah warna, biru yang terang melebur menjadi jingga lembut, lalu perlahan tenggelam ke dalam ungu gelap seperti rahasia malam.
Di saat itulah, Timo mulai memahami sesuatu yang selama ini terasa kabur. Barangkali manusia memang dilahirkan dengan kecenderungan untuk mencari. Ada yang mencari kebahagiaan layaknya pengembara yang haus akan mata air di tengah gurun. Ada yang mencari arti, berharap hidup mereka meninggalkan jejak kecil di atas tanah waktu. Ada pula yang hanya mencari tempat pulang, sebuah ruang sederhana di mana hati bisa beristirahat tanpa rasa takut.
Namun, mungkin yang paling sering dicari manusia bukanlah tujuan yang jauh di depan. Hal yang paling berharga adalah pengertian kecil yang datang perlahan bahwa hidup bukan sekadar perjalanan menuju puncak, melainkan tentang langkah-langkah sunyi yang dilalui sepanjang jalan. Malam akhirnya turun dengan anggun, menyerupai tirai yang ditarik perlahan oleh tangan langit. Timo berdiri dari bangku taman dan mulai berjalan pulang.
Di sekelilingnya, orang-orang masih bergerak cepat mengejar waktu yang tidak pernah berhenti. Namun, kali ini langkah Timo terasa berbeda. Ia tidak lagi gelisah tentang apa yang harus ia temukan di ujung perjalanan kelak. Manusia memang tidak selalu diciptakan untuk menemukan jawaban besar. Mungkin mereka hanya berjalan untuk mencintai, kehilangan, dan belajar memahami dunia sedikit demi sedikit, hingga suatu hari mereka sampai pada sebuah kesadaran sederhana yang menenangkan, bahwa yang dicari selama ini bukanlah dunia yang sempurna, melainkan hati yang mampu berdamai dengan perjalanannya sendiri.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment