
Oleh: Dea Ananda, Jihan Zhafira, Tania Octa Violla, Laila Putri, Zico Ananda Pasaribu, Yuniar Nurul Hasna, Safitriani
Suara USU, Medan. Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Penanggulangan Bencana dengan dosen pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP, pada Sabtu, 27 September 2025 lalu mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU yaitu Dea Ananda (220902008), Jihan Zhafira (220902016), Tania Octa Violla (220902060), Laila Putri (220902076), dan Zico Ananda Pasaribu (220902118) bersama mahasiswa Pembangunan Masyarakat Islam FISIP UINSU yaitu Yuniar Nurul Hasnah (0103221009) dan Safitriani (0103221015) melakukan kegiatan kuliah lapangan di Sanggar Anak Sungai Deli. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai bagaimana manajemen penanggulangan bencana khususnya banjir dilakukan oleh Sanggar Anak Sungai Deli.
Banjir akibat luapan Sungai Deli menjadi ancaman rutin bagi masyarakat di sekitar Jalan Brigjen Katamso, Gang Kesatria, Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun. Di tengah kerentanan itu, Sanggar Sungai Deli (SASUDE) hadir sebagai ruang belajar sekaligus pusat ketangguhan masyarakat. Didirikan pada 2018 oleh Lukman Hakim Siagian, SASUDE awalnya berfokus pada literasi dan pengembangan anak. Namun seiring waktu, lembaga ini juga menjadi garda terdepan dalam manajemen penanggulangan bencana.
“Tantangan besar yang dihadapi SASUDE adalah banjir Sungai Deli, terutama pada bulan Oktober hingga Desember. Banjir terparah terjadi pada tahun 2020 dan 2024 dengan ketinggian air mencapai 3–4 meter, sehingga warga harus mengungsi selama 2–3 hari”, kata Bang Lukman pada Sabtu, 27 September 2025 saat penulis wawancarai. Bencana tersebut berdampak pada sekitar 110 kepala keluarga, dengan mayoritas berasal dari kelompok pra sejahtera.
Upaya Mitigasi
Upaya pengurangan risiko dilakukan melalui langkah fisik maupun non-fisik. “Upaya mitigasi fisik yang telah dilakukan di wilayah ini adalah pembangunan tanggul berbahan dasar ecobrick dengan jumlah sekitar 6.000 ecobrick. Proses pembuatannya melibatkan partisipasi masyarakat, di mana ibu-ibu yang menyetor 15 ecobrick diberikan imbalan berupa 5 kg beras, sementara anak-anak yang turut berkontribusi mendapatkan buku atau jajanan.” Selain itu, edukasi masyarakat dilakukan 1–2 kali setahun melalui penyuluhan dan pelatihan tentang tanda-tanda banjir dan perilaku adaptif seperti menjaga kebersihan saluran air serta tidak membuang sampah sembarangan.
Kesiapsiagaan Pra Bencana
Meski aktif dalam edukasi lingkungan, SASUDE mengakui masih ada keterbatasan kesiapsiagaan formal. “Hingga saat ini, SASUDE belum memiliki SOP atau rencana kontinjensi tertulis yang secara formal mengatur mekanisme tanggap darurat bencana, khususnya banjir. Proses evakuasi lebih banyak dilakukan berdasarkan inisiatif anggota dan relawan, dengan mengandalkan pengalaman dari kejadian banjir sebelumnya.”
Namun, warga terbantu dengan sistem peringatan dini. “Masyarakat sekitar Sungai Deli cukup terlatih membaca tanda-tanda alam, misalnya dengan mengamati kepala air, tinggi permukaan sungai, dan kondisi cuaca. Selain itu, informasi mengenai potensi banjir juga dibagikan melalui grup WhatsApp yang diinisiasi BPBD Kota Medan.”
Respons Saat Banjir
Saat banjir datang, masyarakat langsung bergerak. “Staf Sasude, yang berada di dekat aliran sungai, berperan sebagai pemberi peringatan dini melalui sirine, kentongan, serta penyebaran informasi lewat grup WhatsApp dan status media sosial. Warga yang telah terbiasa dengan prosedur tersebut segera melakukan persiapan, antara lain mengemas barang-barang penting dan berpindah ke lokasi yang lebih tinggi.”
Evakuasi dilakukan dengan memindahkan anak-anak dan keluarga ke mushola, rumah saudara, atau tetangga. Setelah air surut, sanggar dibersihkan agar bisa kembali difungsikan sebagai ruang aman bagi anak-anak. “Hal ini penting mengingat orang tua biasanya masih sibuk membersihkan rumah, sehingga sanggar dapat berfungsi sebagai ruang perlindungan dan aktivitas anak-anak pascabencana.”
Pemulihan dan Tantangan
Pasca-banjir, warga melaksanakan gotong royong membersihkan lingkungan. Dukungan psikososial dilakukan melalui kegiatan kreatif anak seperti drama, puisi, dan ecobrick. Namun, pendanaan pemerintah sulit diakses sehingga hibah dan donasi masyarakat menjadi tumpuan utama. “Evaluasi pasca-bencana belum dilakukan secara formal, hanya sebatas diskusi warga yang menghasilkan masukan terkait kesiapsiagaan. Program bantuan jangka panjang juga belum tersedia, karena dana terbatas dan perbaikan rumah menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik.”
Tantangan terbesar menurut relawan adalah kondisi fisik dan mental. “Pada banjir tahun 2020 yang berlangsung selama tujuh hari, banyak relawan merasa lelah secara fisik dan mental. Bahkan sempat terjadi gesekan antar warga akibat emosi yang tidak terkendali.” Meski begitu, ada juga rasa syukur. “Ada sisi positif yang dirasakan, yaitu perasaan bahagia dan puas karena dapat membantu masyarakat, terlebih ketika berhasil melewati banjir terparah di tahun 2020.”
Terkait rencana di masa depan, SASUDE terbuka untuk kolaborasi. “Sanggar cukup terbuka untuk bermitra dengan pihak luar seperti NGO, universitas, maupun pemerintah. Pemerintah sendiri pernah memberikan dukungan berupa dana hibah untuk program, meski sifatnya masih jangka pendek.”
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Manajemen Penanggulangan Bencana dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment