Sumber foto : @pandorayoung di Instagram
Penulis : Vimelia Hutapea
‘Sebelum menyelidiki kepribadian orang lain, ada baiknya kamu menyelidiki diri sendiri’.
Itu kalimat yang pernah Sania baca di salah satu buku referensi yang direkomendasikan dosen. Sampai sekarang, Sania tak berani melakukan apa yang dikatakan dalam kalimat itu. Menyelidiki diri sendiri? Mencari tahu kepribadian diri? Sungguh, dia tidak berani.
Terkadang Sania memang berada pada fase di mana dia bertanya-tanya. Apakah jiwanya baik? Apakah dia pantas menjadi dokter psikiater sedang tentang psikisnya saja dia masih ragu? Lalu, Sania kembali terlempar pada kondisi di mana perasaan menggebu memeluk jurusan psikologi serta tujuan tulusnya mengambil bidang ini.
Ayah. Dia menjadi alasannya. Beliau memiliki sakit mental yang parah.
Jika Sania dituntut mengkaji diri sendiri dari usia balita, mungkin dia akan menolak mentah-mentah. Ada luka parah di hati kecilnya yang jika tergores sedikit lagi, lukanya akan melebar dan menganga. Sania tak mau mengenang masa lalu karena itu semua cukup menyakitkan.
“Perempuan tidak memiliki banyak peluang dibandingkan laki-laki untuk bereksperimen dalam dunia nyata dan mewujudkan segala keinginannya. Namun, dengan berempati terhadap apa yang dirasakan orang lain ia ‘menghidupkan’ pengalaman-pengalamannya.” ¹
Sania menutup buku yang dibaca, lalu sedikit mendongak ke atas seolah berpikir. Dia berusaha mencerna kalimat seorang ahli psikologi di atas, lalu menariknya pada diri sendiri.
Pengalaman? Sejauh mana pengalamannya hingga detik ini? Pengalaman mana yang sudah dia hidupkan?
Lalu, Sania kembali membuka lembaran buku. Kali ini dia akan mencari kalimat di dalam buku secara random.
“Ketidakmampuan perempuan untuk memenuhi standar ideal femininitas yang ditetapkan oleh masyarakat berpotensi menurunkan harga diri si perempuan, membuatnya menilai diri sendiri negatif.” ¹
Benar. Jika kita tak mampu mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada pada masyarakat, diri sendiri akan mencemooh dan menganggap diri tidak terlalu baik. Maka sifat minder dan insecure pun akan muncul. Tetapi bukankah jika kita percaya pada kemampuan sendiri meskipun tidak se-sempurna yang lain, apa kita akan malu? Akan menyalahkan diri sendiri?
Seseorang yang terjatuh karena tidak bisa memenuhi standar ideal feminis masyarakat, berarti dia orang yang tidak percaya pada kemampuannya. Karena inilah resiko faktor dalam lebih besar daripada resiko dari faktor luar. Sugesti diri sendiri lebih berbahaya daripada hasutan orang lain.
Di usia yang menginjak 22 tahun, Sania didewasakan oleh pelik kehidupan yang disandang sejak dini. Dia miskin sejak kecil. Banyak ketidakadilan yang menimpanya. Aslinya Sania tak mau mencari masalah. Mengungkit sesuatu yang berpotensi menambah sakit hatinya bukan sebuah keharusan. Dia diam, berarti tabahnya masih banyak. Tetapi ternyata itulah bencana. Diamnya selama ini menjadi bumerang pada dirinya sendiri.
Feminitas masyarakat yang standarnya kebanyakan menekan kaum perempuan sangat menyusahkan. Apalagi di lingkungan Sania yang kolot. Menekan wanita untuk tak ikut berpartisipasi dan menunjukkan eksistensi sudah menjadi tabiat. Dan di sinilah dia sadar bahwa sifat binatang betina yang tunduk dan patuh telah membesarkannya, menjadikan ia seorang yang non-vokal akan keadaan sendiri. Nyatanya pendidikan tak selamanya membantu.
‘Pembuktian kaum perempuan tentang feminisme kan bukan membangkang pada pria, tapi sifatnya non-kompetitif. Artinya bukan persaingan, melainkan berbaur dengan masyarakat yang adil gender.’
Ini adalah kutipan yang selalu Sania pegang teguh. Benar, tetapi dalam pembuktian Sania masih nol besar.
“Sania, waktumu masih tersisa 60 detik. Silakan jawab pertanyaan Akhsal tentang gender equality tadi.”
TAK!
Dua detik kemudian dia tersadar.
Tersentak Sania menatap sekitar. Ada banyak pasang mata yang menatap. Ruangan kelas Bu Arindi senyap seketika dan di sanalah dia tersadar bahwa dia melamun sejak tadi. Dalam forum debat yang menegangkan ini, Sania kehilangan fokus ketika tadi lawan debatnya melemparkan tanya, “Apakah wanita yang notabene lemah mengakui kelayakan pria dalam menjaga keseimbangan dan hak kekuasaan dalam lingkungan?”
Sania tak bisa menjawab karena takut menyinggung perasaan teman-teman perempuan dalam kelas itu jika saja nanti ada perbedaan pendapat. Kali ini dia tak hanya berperang melawan kaum pria, tetapi dia juga berperang dengan kaumnya sendiri.
“Sania?” panggil Bu Arindi sekali lagi.
Dengan sedikit gugup Sania menjawab, “Maaf, saudara Askhal. Sejak tadi Anda selalu menekankan kata lemah pada perempuan. Saya rasa itu bukan complement dalam pernyataan Anda, tetapi sebagai proklamir bahwa wanita memang seperti itu jika dibandingkan dengan kaum Anda.”
“Benar! Kami mengakui bahwa kaum pria cukup kuat menaklukkan satu wilayah tetapi bukan berarti pria mempunyai hak mutlak dalam wilayah tersebut. Di sinilah gender equality berperan. Kesetaraan gender! Wanita diciptakan bukan untuk bersaing dengan kaum pria, tetapi mereka diciptakan untuk berbaur dan bekerjasama. Begitu pula pendapat yang diutarakan harus diterima dengan sama rata.”
“Bukankah hak kekuasaan itu milik pria jika mereka yang menaklukkan suatu daerah?” sanggah pria berkacamata itu.
“Anda tidak bisa hidup dalam daerah yang tak memiliki wanita di dalamnya, Tuan Askhal. Bagaimanapun wanita dan pria diciptakan untuk saling berdampingan. Dinamisme perkembangan zaman membuka pemikiran wanita di dunia bahwa mereka juga bisa menaklukkan daerah. Tetapi kembali lagi, wanita berpikir bahwa mereka tak bisa melanjutkan kehidupan jika tak berdampingan dengan pria.”
“Nona, kenapa Anda berpendapat seolah-olah kaum Anda memiliki pemikiran yang suci? Dinamisme kata Anda? Bagaimana dengan pendapat yang berseliweran tentang ‘pria yang memiliki banyak uang akan mencari wanita, tetapi wanita yang memiliki uang tak membutuhkan seorang pria?’”
Sania terbungkam. Ah, pendapat itu. Sania pernah menyetujuinya. Karena di benaknya, uang bisa menyelesaikan semua masalah. Akhirnya, semua ini hanyalah tentang kekuasaan.
Bu Arindi yang merasakan penekanan dalam kalimat Akhsal dan membuat Sania terdiam, segera menutup forum itu dan membubarkan kelas.
“Kita sambung minggu depan.”
Sania masih berdiri di tempatnya. Pikirannya bergelut hebat.
Sebuah rengkuhan hangat di bahunya membuat Sania tersadar. Askhal tersenyum manis padanya sambil membuka kacamata dengan satu tangan. Lalu memasukkannya ke dalam saku. Seketika Sania merenggut.
“Penjahat!” teriaknya.
Askhal tertawa sambil mengacak rambut Sania. Menciumnya sesekali dan menekan hidung mancungnya di sana.
“Burning, huh? Ini otaknya udah gosong pasti ya,” goda pria itu.
“Jangan diejek! Aku tambah kesal. Kenapa aku gak bisa jawab pertanyaan kamu tadi?!”
“Makanya jangan kebanyakan nonton Tiktok, babe. Kamu habis nonton quotes di tiktok bukannya research ulang malah baca komentar. Pikiranmu jadi kena doktrin kan? Kemarin lagi, kamu bilang mood pacaran sesuai FYP Tiktok. Apa-apaan itu? Jadi maksudmu, kamu itu pacaran sama aku gak pakai hati, tapi pakai FYP Tiktok? Kalau iya, aku ngambek ah!”
“Askhal!”
“Ha-ha-ha iya … gak dibahas lagi. Sekarang mau kemana, Nona? Siang terik begini enaknya makan eskrim, bukan?”
Sania mengangguk dan membalas uluran tangan Askhal. Keduanya berjalan ke arah parkiran mobil sambil bergandengan tangan.
Dari berbagai keluhan yang Sania miliki, ada satu penyemangat yang membuatnya tetap kuat. Askhal, entah dimana dia menemukan pria ini sebelumnya. Pemikirannya yang dewasa dan terbuka meskipun sedikit arogan, telah menuntun Sania bernapas sedikit demi sedikit.
“Ayah apa kabar?” tanya si pria sambil tetap fokus pada jalanan, memutar setir mobil dengan satu tangan.
“Masih diserang cemas, tapi gak terlalu sering. Ayah sudah bisa tidur selama 4 jam. Rekor baik dari bulan sebelumnya.”
“Syukurlah.”
“Terimakasih, Askhal,” ucap Sania tulus. “Kalau kamu gak ada, mungkin aku udah ikutin jejak ayah.”
“Sssttt … gak boleh bilang begitu.” Askhal lagi-lagi mengusap pucuk kepalanya. “Besok anniversary kita yang ke-2. Kita night reading keliling Bandung terus pulangnya makan sate pinggir jalan. Atau kamu ada saran?”
“Jangan sate. Kita makan nasi padang aja, gimana?”
“Deal! Tapi sebelumnya, kita bahas dulu pertanyaan aku yang gak bisa kamu jawab di debat tadi, oke?”
Sania mengangguk senang.
Begitulah kehidupan Sania. Sejak kecil ditindas pemikiran lingkungan kolot, remajanya dihabiskan mengurus sang ayah yang sakit di tengah krisis ekonomi, lalu di saat beranjak dewasanya ada Askhal yang dikirim Tuhan untuk menemaninya belajar sambil menghadapi semuanya.
¹ Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan. Ester Lianawati. 2020
Redaktur : Balqis Aurora
Leave a comment