Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Bedah Jurusan

Selangkah Lebih Dekat Mengenal Sastra Jepang USU!

Oleh: Adinda dan Queen Ayumi

Jika bicara tentang Sastra Jepang, kira-kira seperti apa sih Sastra Jepang itu? Bikin puisi? Cerpen? Tapi dalam bahasa Jepang? Mahasiswanya gimana? Hobi nonton animasi dan baca komik semua?
Apa sih yang terlintas dipikiran kalian jika mendengar tentang sastra jepang? WIBU! ANIME!

Nah, jika kamu memikirkan hal yang sama, sebaiknya kamu buang jauh-jauh pikiran mengenai bikin puisi, cerpen, atau kelak akan menjadi sastrawan; karena nyatanya kuliah sastra (terutama yang asing-asing, seperti Jepang, Perancis, dll) tidak sesederhana itu. Realitanya sebagai mahasiswa S1 Sastra Jepang, kamu tidak hanya mempelajari ‘sastra’, tapi juga bahasa, budaya, dan sejarah Jepang. Jadi, kita tidak akan lulus sebagai sastrawan berijazah sarjana, ya!

Minna san konnichiwa, Jurusan Sastra Jepang adalah sebuah jurusan di perguruan tinggi yang didesain untuk mencetak tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang bahasa, sastra, dan kebudayaan Jepang. Jadi kalian tidak perlu khawatir Ketika kalian sudah tamat akan menjadi apa? Jika kamu kuliah di jurusan ini, maka kamu akan mempelajari bahasa dan kebudayaan orang Jepang.

Jurusan ini berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Pada tanggal 31 Oktober tahun 2000. Prodi ini juga telah diakreditasi oleh BAN PT dengan peringkat “B”, melalui keputusan BAN PT nomor: 0092/SK/BAN-PT/Akred/S/I/2017.

Bahasa Jepang yang akan dipelajari di jurusan ini mulai dari tata bahasa (bunpou) hingga percakapan (kaiwa). Bagi kalian yang masuk jurusan sastra jepang tetapi belum memiliki basic apapun, jangan khawatir! di jurusan sastra jepang ini mengadakan “junbishuukan” tujuannya untuk membantu kalian mengenal huruf-huruf jepang dan juga  agar dapat membaca dan menulis bahasa jepang.

Proses pembelajarannya gimana ya pasti sulit?

Ketua HMJ Sastra Jepang USU, atau yang biasa disebut Aotake USU, Septo Abimanyu menyebutkan bahwa metode pembelajaran sastra Jepang sangatmudah dipahami. Untuk mahasiswa baru, ada namanya junbishukan, atau Minggu persiapan.

“Junbishukan diadakan untuk membahas dan belajar huruf-huruf Jepang. Seperti hiragana, katana, dan ada beberapa kanji-kanji dasar. Referensi buku yang di pakai di awal perkuliahan menggunakan buku Minna no ni Honggo 1 sampai Minna no ni Honggo 2 , mulai dari bentuk bahasa Jepang yang paling mudah untuk pemula hingga sampai dapat mengerti percakapan bahasa Jepang, jadi ada step-stepnya,” ungkap Septo.

Septo menambahkan bahwa selama belajar di jurusan ini, tak hanya berkutat di teori namun juga dituntut aktif untuk praktek langsung.

“Dan gak cuman teori aja yang akan di ajarkan, ada juga praktek penggunaan bahasa yang sudah di pelajari di buku Minna no ni Honggo itu, nama pelajaran nya  percakapan bahasa Jepang (Chokai). Dari situ di latih untuk berbicara bahasa Jepang dan mempelajari pola kalimat atau  bentuk-bentuk kalimat seperti apa yang di terapkan untuk situasi situasi tertentu,” lanjutnya

Apakah di jurusan sastra jepang mempunyai syarat tersendiri untuk kelulusannya?

Untuk syarat kelulusan, Septo berujar bahwa masih sama dengan jurusan lain yang ada di USU, dengan menyelesaikan sejumlah SKS, dan tugas akhir atau skripsi.

“Masih sama dengan jurusan yang ada di USU, yaitu menyelesaikan study dengan SKS yang telah ditentukan, dan menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. Akan tetapi Jurusan Sastra Jepang sedang mencanangkan syarat tambahan untuk kelulusan yaitu harus memiliki sertifikat JLPT dengan Level 3 atau biasa disebut N3,” tuturnya

Kepada kru Suara USU, Sandro, yang merupakan ketua bidang Kemahasiswaan Aotake USU, menjelaskan bahwa JLPT adalah test kemampuan bahasa jepang, layaknya TOEFL.

“JLPT itu sendiri adalah test kemampuan bahasa jepang, seperti  TOEFL  pada Bahasa inggris. Dan rata-rata perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dari Jurusan Sastra Jepang/bahasa jepang minimal memiliki JLPT N3. Namun wacana tentang syarat kelulusan harus ada N3 itu masih belum bisa dipastikan,” Jelas Sandro

Loh apa perbedaan dari bahasa jepang dan sastra Jepang?

Nah ini dia, iya di FIB ada 2 jurusan tentang jejepangan, yang pertama “Sastra Jepang” dan yang ke dua “Bahasa Jepang”. Sastra Jepang (日本文学 Nihon Bungaku) adalah karya sastra dalam bahasa Jepang, atau studi mengenai karya sastra tersebut dan pengarangnya.

Sementara prodi bahasa Jepang adalah studi yang mempelajari bahasa Jepang nya saja. Dan Di FIB untuk sastra Jepang sendiri tergolong dalam strata (S1) dan Bahasa Jepang masuk kedalam golongan strata (D3).

Apa yang terkenal dari sastra jepang ini?

Sastra Jepang USU terkenal dengan julukan Jurusan Acara atau Jurusan Event. Di internal, Sastra Jepang selalu aktif melaksanakan Acara Buka Bersama, Paskah, dan juga Natal. Untuk event yang bisa dinikmati umum, Sastra Jepang terkenal dengan Festival Budaya Jepangnya yaitu Bunkasai dan Dies Natalis Aotake.

Festival Bunkasai adalah event budaya Jepang terbesar se-Sumatera yang diadakan tiap tahun di FIB USU oleh mahasiswa Sastra Jepang dan D3 bahasa Jepang yang biasa dilaksanakan pada bulan April atau Mei.

Sedangkan Dies natalis Aotake adalah hari perayaan ulang tahun Sastra Jepang yang diubah sedemikian rupa agar terlihat seperti event jejepangan, atau biasa dibilang Mini Bunkasai dan biasanya dilaksanakan pada bulan November.

Apa prospek kerja lulusan sastra jepang?

Untuk prospek kerja dari lulusan sastra Jepang itu sendiri, lumayan banyak, beberapa diantara sebagai berikut:

  1. Menjadi translator
  2. Tour guide
  3. Tenaga pengajar
  4. Bekerja di konsulat jenderal Jepang
  5. Berkerja di perusahaan di Jepang

Untuk setiap melakukan pelamar kerjaan di butuhkan yang namanya sertifikat JLPT yaitu, sertifikat kemampuan berbahasa Jepang.

“Dan ada level-level kemampuannya dari yang paling rendah N5 sampai yang paling tinggi N1. Sertifikat ini sangat penting untuk melamar pekerjaan karena sebagai bukti kemampuan berbahasa Jepang kita. Kalau tingkat kemampuan bahasa Jepang kita sudah mencapai N3, N2 atau N1 bisa berkerja di Jepang,” ungkap Seto.

Tapi tidak menutup kemungkinan menggunakan dengan sertifikat N5 dan N4 kita bisa juga mendapatkan pekerjaan. Yang pasti kuliah di Sastra Jepang itu ga selalu menyenangkan. Ada pahitnya juga. Tapi bukankah selalu begitu? Tidak ada proses menuntut ilmu yang mudah. Jadi nikmati saja selagi bisa.

Ganbatte kudasai buat siapapun yang memilih jurusannya Sastra Jepang. Kalian Luar Biasa.

Salam hangat dari kami untuk semuanya.

AOTAKE? BANZAI!!!

Penyunting: Muhammad Fadhlan Amri

Related posts

Menjelajah Keragaman Budaya di Jurusan Antropologi!

redaksi

Yuk, Mafhum dengan Fakultas Hukum!

redaksi

Jurusan Sosiologi, Belajar Apa dan Kerja Jadi Apa?

redaksi