Home Sosok Simone De Beauvoir, Jejak Sang Filsuf Pelopor Feminisme
Sosok

Simone De Beauvoir, Jejak Sang Filsuf Pelopor Feminisme

Share

Oleh: Nejla Assyifa Munthe

Suara USU, Medan. Gerakan feminisme yang dikenal sebagai salah satu pergerakan yang membawa perubahan drastis kepada kaum perempuan menjadi salah satu hal yang paling disorot sepanjang sejarah manusia. Konsep feminisme yang paling berdampak hingga saat ini adalah Feminisme Modern yang berkembang dengan signifikan. 

Bila menyinggung tentang konsep Feminisme Modern, maka tentu saja tidak bisa lepas dari satu tokoh utama pelopor konsep tersebut, yaitu Simone De Beauvoir. Beliau bukan hanya dikenal sebagai seorang filsuf, namun juga seorang penulis, serta seorang feminis yang berasal dari Perancis. Selain seorang feminis, ia juga adalah seorang eksistensialis yang membuat pemikirannya semakin dalam lagi dalam dunia filsafat. Inilah yang membuat sosoknya di segani bahkan oleh filsuf lainnya sekalipun.

Simone De Beauvoir lahir pada tanggal 9 Januari 1908 di Perancis. Ia lahir di lingkungan yang terdidik, ayahnya seorang pengacara yang cukup terkenal dan ibu nya adalah putri seorang bankir kaya. Simone dikenal sebagai pribadi yang cerdas bahkan saat usia yang masih sangat dini. 

Di masa kecilnya, berbeda dari anak perempuan kebanyakan, Simone menganggap kecerdasan adalah yang hal lebih penting dari apapun. Perspektifnya yang tidak ingin menjadi perempuan penurut, hanya punya batasan untuk mengurus rumah dan menjadi ibu rumah tangga, bangkit saat dia tumbuh dengan melihat sosok inspiratif baginya, yaitu ayahnya sendiri. 

Dengan latar  belakang keluarga yang mengalami keadaan sulit usai perang dunia I, maka tentu saja Simone tidak bisa bergantung maupun berharap kepada mas kawin dari pihak pelamar. Hal itu tidak membuat semangatnya surut, tapi baginya ini adalah kesempatan untuk mendapatkan kebebasan untuk belajar dan mencari nafkah untuk diri sendiri.

Setelah menamatkan pendidikan pasca-sekolah menengahnya di Cours Desir, Simon melanjutkan sarjana muda matematika dan filsafat di Institut Catholique de Paris dan Sastra di Institut Sainte-Marie. Kemudian, setelah menyelesaikan gelar nya di tahun 1928, untuk mendalami ilmu filsafatnya, ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas Sorbonne hingga memperoleh gelar. 

Setelah lulus, dari tahun 1929 hingga tahun 1943, beauvoir mengajar di tingkat sekolah menengah atas atau yang di sana biasa disebut sebagai tingkat Lycee. Dari situlah, ia mendapat penghasilan hingga dapat menghidupi dirinya sendiri dengan penghasilan dari tulisan-tulisannya.

Tulisannya yang paling terkenal adalah buku Le Deuxieme Sexe (The Second Sex) pada tahun 1949. Di buku ini, ia mencoba untuk menggambarkan kehidupan perempuan yang selalu diposisikan sebagai urutan kedua atau bisa disebut berada pada posisi yang lebih rendah dari laki-laki. Pada karya nya yang inilah, ia mengenalkan perbedaan antara jenis kelamin biologis dan konstruksi sosial, yang bahwasanya sumber penindasan perempuan adalah bentuk konstruksi sosial dan bukan dari bagian yang lain. 

Simone menyatakan bahwasanya perempuan memiliki kemampuan untuk memilih seperti halnya laki-laki. Perempuan dapat memilih untuk melampaui segala yang sebelumnya membatasi mereka, mencapai posisi di mana mereka bertanggung jawab penuh atas diri sendiri dan dunia, dan dengan demikian memilih kebebasan mereka.

Pada salah satu bab dalam buku ini, tepatnya pada bab “Perempuan : Mitos dan Realitas”, Simone mengaitkan pandangan laki-laki menganggap perempuan sebagai bentuk yang lain dalam masyarakat dengan menerapkan aura misteri, khayalan, atau palsu di lingkungan mereka. 

Ia berpendapat bahwa para laki-laki menggunakan hal tersebut sebagai alasan untuk tidak memahami perempuan dan masalah mereka, serta tidak membantu mereka. Penindasan serupa juga banyak dijumpai pada ras, kelas, dan tak luput juga agama, namun ia mendefinisikan hal yang paling dominan yaitu kesenjangan pada gender. 

Selain membuat karya, Simone pada tahun 1970 aktif dalam gerakan pembebasan perempuan di Prancis. Lalu setelah itu, tepat pada tahun 1971, ia menulis dan menandatangani manifesto yang berisikan daftar nama perempuan yang sudah mengaku melakukan aborsi, yang pada saat itu ilegal di Prancis.

Karya terkenal lain dari diri nya adalah Pyrrhus et Cineas (1944), sebuah esai filsafat pertamanya tentang etika eksistensialis, lalu mengeksplorasi eksistensialis melalui esai keduanya yaitu The Ethics of Ambiguity (1947). Lalu beberapa karya nya yang lain seperti Les Temps Modernes, Les Inseparables, All Men are Mortal, The Mandarins, dan sebagainya. 

Dari karya-karyanya tersebut, feminisme modern akhirnya menjadi berkembang hingga zaman sekarang, dan kesadaran masyarakat yang awalnya hanya direalisasikan di sekitar Prancis saja, kini tersebar di berbagai belahan dunia dengan banyak nya persebaran para pelajar yang mendalami Feminisme Modern itu sendiri.

Kisahnya memberi pelajaran penting akan kesadaran tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Setara bukan berarti sama berdasarkan kodrat, namun sadar akan satu sama lain tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, Simone mengajarkan dampak pergerakan wanita untuk keberlangsungan keadilan terhadap kaumnya. Feminisme modern akhirnya menjadi titik acuan para perempuan untuk berani dan bersuara untuk keadilan dan hak untuk diri mereka.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.