
Oleh: Lydia C. Siringoringo, Ayn Maulani, Yossa Arinda, Videlia Loissita Siahaan, Pricilia Putri Siregar, Nur May Yanti Silitonga, Jessica Graciella Barus
Suara USU, Medan. Burger Sikeling merupakan sebuah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang industri kuliner cepat saji. UMKM ini menyediakan berbagai aneka ragam menu, dimulai dari burger sebagai produk signature mereka yang kemudian diikuti oleh kebab, steak, dimsum, spaghetti, hingga ke pada menu nasi ayam geprek yang semuanya disediakan lengkap dan menyesuaikan selera para target pasar yang cenderung kepada para dewasa muda. Burger Sikeling pada awalnya berdiri pada tahun 2016, berlokasi di Jalan Pinggir Kanal, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, Medan, Sumatera Utara. Usaha ini terbentuk atas dasar ide dan intensi dari sang pemilik, Ade Prayogi, yang ingin memberikan produk makanan cepat saji yang berkualitas, memiliki cita rasa yang enak dan lezat, namun tetap dalam jangkauan harga yang sesuai dengan target pasarnya, alias murah meriah.
Berawal dari masih berstatus single (28 Tahun) pada saat merintis, Ade Prayogi sempat berhasil memiliki cabang hingga berjumlah 11 cabang dari Burger Sikeling. Namun, mewabahnya covid-19 pada tahun 2019 menuju 2020, membawa Burger Sikeling pada saat itu pada titik terendahnya. Penurunan omset terjadi hingga memutuskan Ade Prayogi menutup keseluruhan cabangnya dan hanya berfokus pada satu titik hingga saat ini, yakni pusat gerainya yang berlokasi di Jl. STM Ujung, Komplek Ecopark, Kanal, Medan, Sumatera Utara. Hingga sampai saat ini, Burger Sikeling yang telah berjalan selama hampir 8 tahun lebih itu telah berhasil memberdayakan hingga 80 karyawan dan telah berhasil meraup total omset hingga 15 – 20 juta rupiah setiap harinya.
Viralitas yang terjadi di tengah Burger Sikeling berawal pada inisiatif sang pemilik, Ade Prayogi, yang kerap aktif di media sosial dalam mempromosikan usahanya menggunakan ciri khas dan gaya yang unik untuk menarik perhatian masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa, teknik promosi yang dibagikan berawal dari pembentukan personal branding dari diri pribadi terlebih dahulu. Beliau mendeskripsikan teknik yang digunakan adalah dengan dress-up menggunakan kaos lucu dan kacamata besar sambil berbicara menggunakan kalimat yang unik dan menampilkan momen lagi masak hingga promosi menu pada video konten yang diunggah.
Hingga sampai saat ini, menampilkan sisi unik dalam berpenampilan, seperti menggunakan aksesoris kacamata besar dalam bekerja sudah menjadi ciri khas dan salah satu standar operasional bagi para karyawan dalam usaha Burger Sikeling.
Burger Sikeling merupakan salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sejak awal telah memiliki basis pelanggan yang cukup kuat meskipun pada masa itu belum memanfaatkan media sosial secara aktif. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan untuk mengikuti tren digital, Burger Sikeling mulai menggunakan platform seperti Instagram, Facebook, dan terutama TikTok sebagai media promosi. Strategi ini terbukti efektif, karena konten mereka berhasil menjadi viral dan menjangkau konsumen lebih luas, bahkan hingga ke luar wilayah Medan.
Keviralan Burger Sikeling membawa dampak yang signifikan terhadap kegiatan operasional usaha. Jumlah karyawan meningkat dari sepuluh menjadi sekitar dua puluh orang demi mengimbangi lonjakan jumlah pelanggan. Meski awalnya tidak ada niatan untuk viral, pemilik Burger Sikeling menyadari bahwa kehadiran di media sosial merupakan keharusan agar tetap relevan dan bersaing. Oleh karena itu, mereka terus memproduksi konten secara konsisten, baik yang mengikuti tren maupun dengan ciri khas sendiri. Walaupun viral bersifat sementara, konsistensi dalam pelayanan dan kualitas produk menjadi kunci utama agar pelanggan terus kembali.
Dari sisi pelanggan, terdapat beragam alasan mengapa mereka memilih Burger Sikeling. Beberapa konsumen lama mengaku sudah mengenal usaha ini sejak masih menggunakan gerobak, dan tetap menjadi pelanggan setia karena rasa dan harga yang terjangkau. Sementara itu, pelanggan baru banyak yang tertarik karena keviralan di media sosial, terutama TikTok dan Instagram, serta daya tarik visual dari produk seperti “burger menara” yang unik. Pengalaman pelanggan secara umum menunjukkan kepuasan, baik dari segi rasa, pelayanan, maupun harga. Bahkan, ada pelanggan yang rela datang dari daerah Belawan hanya untuk mencoba produk yang sempat viral tersebut.
Kegiatan UMKM Burger Sikeling mencerminkan perpaduan antara inovasi digital dan konsistensi dalam kualitas produk. Dengan memanfaatkan media sosial secara optimal, mereka tidak hanya berhasil memperluas pasar, tetapi juga membangun loyalitas pelanggan. Strategi promosi yang terus berkembang serta pelayanan yang ditingkatkan pasca viral menunjukkan bahwa UMKM ini mampu beradaptasi dan bertumbuh secara dinamis di tengah persaingan kuliner yang ketat.
Burger Sikeling, yang awalnya dioperasikan dengan gerobak, kini telah menjadi salah satu nama yang dikenal di masyarakat berkat harga terjangkau dan rasa yang memuaskan. Meskipun telah memanfaatkan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook, reputasi konvensionalnya tetap kuat. Seorang pelanggan lama, seorang ibu, mengungkapkan bahwa ia mengenal Burger Sikeling sejak awal berdiri dan meskipun menyadari kehadiran mereka di TikTok, ia lebih tertarik pada harga yang murah dan rasa yang enak.
Fenomena “efek kerumunan” juga berkontribusi terhadap pengalaman konsumen. Dua pelanggan, Amel dan Nikita, mengaku tertarik untuk mencoba Burger Sikeling bukan karena pengaruh media sosial, melainkan karena antrean panjang di depan gerai. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman fisik dapat menciptakan efek viral offline yang sama efektifnya dengan kehadiran online.
Sebuah wawancara dengan sepasang pengunjung muda yang datang dari Belawan mengungkapkan bahwa mereka menemukan Burger Sikeling melalui unggahan seorang food vlogger yang memberikan koordinat lokasi. Daya tarik estetika burger yang ditampilkan berhasil mengubah mereka menjadi konsumen aktif. Setelah mencicipi, mereka menilai ekspektasi mereka terpenuhi dan berharap agar Burger Sikeling meningkatkan promosi digital serta menambah variasi menu.
Strategi viral marketing yang diterapkan oleh Burger Sikeling berfokus pada pembuatan konten yang mudah menjangkau audiens. Menurut manajer, TikTok adalah platform yang paling efektif, diikuti oleh Instagram, sedangkan Facebook dianggap kurang efektif. Strategi ini meliputi menciptakan konten yang menggabungkan keunikan produk dengan tren terkini, menggunakan karakter dari dalam usaha, dan konsisten dalam mengupload konten.
Dampak positif dari strategi ini sangat signifikan. Setelah viral, omzet meningkat dalam 1-3 bulan, meskipun efek viral bersifat sementara. Jumlah karyawan pun meningkat dari 10 menjadi sekitar 20 untuk menjaga kepuasan pelanggan. Namun, tantangan baru dalam manajemen operasional muncul, dan pihak pengelola menekankan pentingnya mempertahankan kualitas dan pelayanan.
Dalam kesimpulan, strategi viral marketing Burger Sikeling terbukti efektif dalam meningkatkan brand awareness dan menarik pelanggan baru. Keberhasilan ini ditentukan oleh keselarasan antara konten viral dan pengalaman nyata pelanggan, konten menarik secara visual, serta reputasi yang dibangun di media sosial. Meskipun popularitas mereka meningkat, Burger Sikeling tetap menyadari bahwa viral bersifat sementara, sehingga konsistensi dan stabilitas kualitas produk serta pelayanan menjadi kunci utama.
Link video: https://drive.google.com/drive/folders/1Y6Kp66D1nSgjjEBmL6UeE3vUAPkpLf2K
Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Marketing Management dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment